JAKARTA - Berhenti merokok ternyata langsung membawa perubahan pada tubuh, bahkan sejak 20 menit setelah rokok terakhir dihisap. Detak jantung mulai melambat, kadar oksigen meningkat, dan risiko serangan jantung perlahan menurun.
Meski begitu, berhenti merokok bukan perkara mudah bagi orang yang sudah bergantung pada nikotin. Pada minggu-minggu awal, tubuh dapat mengalami gejala putus nikotin seperti pusing, mual, sulit tidur, susah fokus, mudah marah, hingga keinginan kuat untuk kembali merokok.
Manfaat berhenti merokok akan terus bertambah seiring waktu. Perubahan dapat dirasakan mulai dari hitungan menit, hari, minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun setelah seseorang benar-benar meninggalkan rokok.
20 Menit Setelah Rokok Terakhir
Tubuh mulai melakukan penyesuaian tidak lama setelah seseorang berhenti merokok. Sekitar 20 menit kemudian, detak jantung yang sebelumnya meningkat mulai melambat dan kembali menuju kondisi normal.
Baca Juga: Ombak 4 Meter Hantam Pantai Gunung Kidul, Fasilitas Wisata Rusak dan Warga Berlarian
Setelah satu hari tanpa rokok, kadar oksigen dalam tubuh mulai meningkat. Pada periode yang sama, risiko serangan jantung juga mulai mengalami penurunan.
Memasuki hari kedua, manfaatnya semakin terasa. Indra penciuman dan perasa yang sebelumnya terganggu akibat kebiasaan merokok mulai kembali bekerja.
Akibatnya, makanan dapat terasa lebih lezat. Aroma di sekitar juga bisa lebih mudah dikenali dibandingkan ketika seseorang masih rutin menghisap rokok.
Pada hari-hari berikutnya, pernapasan dapat terasa lebih lega. Tubuh juga mulai terasa lebih berenergi karena tidak lagi terus-menerus mendapatkan paparan zat dari asap rokok.
Batuk Bisa Muncul Saat Paru-Paru Pulih
Setelah sekitar dua minggu, sirkulasi darah mulai menjadi lebih lancar. Namun, berhenti merokok tidak selalu langsung membuat semua gejala menghilang.
Baca Juga: Kuliner Bandung: 3 Street Food Legendaris yang Wajib Dicoba, Ada Cuangki Rp31 Ribu
Sebagian orang justru dapat mengalami batuk lebih sering. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika paru-paru mulai membersihkan sisa-sisa zat berbahaya yang terakumulasi akibat paparan asap rokok.
Masa ini dapat terasa tidak nyaman. Terlebih bagi perokok yang sudah lama menjadikan rokok sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.
Selain perubahan fisik, tantangan terbesar juga berasal dari ketergantungan nikotin.
Mengapa Berhenti Merokok Sulit?
Nikotin merupakan zat yang dapat menimbulkan ketergantungan. Zat tersebut memengaruhi sistem penghargaan di otak sehingga seseorang dapat merasakan sensasi nyaman setelah merokok.
Ketika asupan nikotin dihentikan, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Akibatnya, gejala putus nikotin dapat muncul.
Perokok yang baru berhenti dapat mengalami pusing, mual, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, dan mudah marah. Keinginan untuk kembali menghisap rokok juga dapat muncul berulang kali.
Masa beberapa minggu pertama menjadi salah satu periode yang paling menantang. Namun, tubuh secara perlahan akan beradaptasi tanpa nikotin.
Setelah sekitar satu bulan, batuk dapat mulai berkurang. Dalam jangka lebih panjang, fungsi paru-paru dapat mengalami pemulihan dan risiko penyakit jantung semakin rendah.
Manfaat Terus Bertambah hingga Bertahun-tahun
Manfaat berhenti merokok tidak hanya dirasakan pada bulan-bulan pertama. Semakin lama seseorang bertahan tanpa rokok, risiko terkena berbagai penyakit serius juga dapat semakin menurun.
Setelah sekitar 10 tahun bebas rokok, risiko sejumlah penyakit yang berkaitan dengan kebiasaan merokok menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
Berhenti merokok juga dapat meningkatkan harapan hidup. Karena itu, keputusan berhenti tetap memberikan manfaat meski seseorang sudah bertahun-tahun menjadi perokok.
Bagaimana Negara Mengurangi Jumlah Perokok?
Tantangan berhenti merokok bukan hanya persoalan individu. Sejumlah negara menerapkan kebijakan untuk mengurangi jumlah perokok dan melindungi generasi muda.
Selandia Baru pernah mengusung target ambisius untuk menciptakan negara bebas rokok. Salah satu strategi yang dibahas adalah membatasi akses pembelian rokok bagi generasi yang lahir setelah tahun tertentu.
Kebijakan tersebut dilengkapi upaya melindungi anak muda, mengurangi penawaran dan permintaan rokok, serta menyediakan dukungan bagi orang yang ingin berhenti.
Pembatasan kadar nikotin dalam rokok juga menjadi salah satu gagasan. Tujuannya mengurangi tingkat ketergantungan sehingga perokok memiliki peluang lebih besar untuk berhenti.
Indonesia sendiri telah menerapkan sejumlah kebijakan pengendalian rokok. Di antaranya peringatan kesehatan pada kemasan dan kenaikan pajak produk tembakau.
Pengendalian konsumsi rokok menjadi penting karena kebiasaan tersebut tidak hanya berdampak pada perokok. Paparan asap rokok juga dapat memengaruhi orang lain di sekitarnya, terutama anak-anak.
Berhenti merokok memang membutuhkan perjuangan, terutama ketika tubuh masih beradaptasi dengan hilangnya nikotin. Namun, manfaatnya mulai berjalan sejak menit-menit pertama dan terus bertambah selama seseorang mampu mempertahankan hidup bebas rokok.
Editor : Maylanni Diana Fitri