JAKARTA - Bahaya rokok tidak hanya mengancam paru-paru. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke hingga beberapa kali lipat, sekaligus memicu kanker paru, gangguan pernapasan, hipertensi, hingga gangguan fungsi organ lainnya.
Bahaya rokok menjadi semakin mengkhawatirkan karena kebiasaan tersebut mulai dikenal sejak usia muda. Anak usia SMP bahkan SD di sejumlah wilayah disebut sudah mulai merokok.
Menurut paparan dokter dalam video edukasi kesehatan, asap rokok yang masuk melalui saluran pernapasan tidak berhenti di paru-paru. Zat di dalamnya dapat masuk ke aliran darah dan kemudian menyebar ke berbagai organ tubuh.
Rokok Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke
Perokok memiliki risiko serangan jantung sekitar dua hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak merokok. Risiko stroke juga disebut meningkat dalam kisaran yang sama.
Baca Juga: Kecanduan Sabu Bukan Sekadar Ketagihan, Ini yang Terjadi pada Otak Pengguna
Salah satu penyebabnya adalah pengaruh zat dalam rokok terhadap pembuluh darah. Asap rokok dapat memicu penumpukan kerak sekaligus menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan darah. Jika gangguan terjadi pada pembuluh darah menuju otak, aliran darah dapat tersumbat atau pembuluh darah bisa pecah.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami stroke. Dampaknya bisa berupa kelumpuhan pada bagian tubuh tertentu hingga kondisi yang mengancam nyawa.
Gangguan serupa juga dapat terjadi pada pembuluh darah jantung. Ketika aliran darah menuju jantung terganggu, risiko serangan jantung meningkat dan dapat berujung pada kematian.
Asap Rokok Merusak Saluran Pernapasan
Rokok dihisap melalui saluran pernapasan sehingga bagian tubuh tersebut menjadi salah satu organ yang pertama terkena dampaknya.
Baca Juga: Sarapan Bandung: 15 Tempat Legendaris dan Kekinian, Ada yang Antre Sejak Pagi
Gangguan dapat terjadi mulai dari hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Keluhan yang muncul dapat berupa batuk dan peradangan berulang pada saluran pernapasan.
Asap rokok juga dapat merangsang produksi lendir. Dalam kondisi normal, lendir memang terdapat di saluran pernapasan dan dapat dibersihkan secara alami.
Namun, pada perokok, produksi lendir dapat meningkat sehingga menumpuk di saluran napas. Kondisi tersebut dapat membuat saluran pernapasan lebih mudah mengalami gangguan.
Lendir yang menumpuk juga dapat menjadi lingkungan bagi virus dan bakteri. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kondisi saluran pernapasan perokok perlu mendapat perhatian.
Rokok juga mengandung panas yang dapat merusak jaringan paru-paru. Kerusakan tersebut pada akhirnya dapat mengganggu proses pertukaran oksigen dan menyebabkan sesak napas.
Risiko Kanker Paru Sangat Tinggi
Kanker paru merupakan salah satu penyakit yang erat kaitannya dengan kebiasaan merokok. Dalam paparan dokter, pria perokok disebut memiliki risiko kanker paru sekitar 25 kali lebih tinggi dibandingkan pria yang tidak merokok.
Pada perempuan, risikonya bahkan disebut mencapai 25,7 kali lebih tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian karena jumlah perempuan yang merokok terus meningkat.
Dampak merokok terhadap perempuan juga dapat berkaitan dengan sistem reproduksi. Perokok perempuan memiliki risiko mengalami gangguan kesuburan dan kesulitan mendapatkan kehamilan.
Jika kehamilan terjadi, kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko kehamilan di luar kandungan. Risiko bayi lahir dengan berat badan rendah hingga kematian bayi juga menjadi perhatian.
Vape Bukan Pilihan Bebas Risiko
Rokok elektrik atau vape juga tidak otomatis menjadi pilihan yang aman. Produk tersebut tetap dapat mengandung nikotin yang menyebabkan ketergantungan.
Dalam paparan tersebut disebutkan, konsentrasi nikotin pada vape dapat tinggi sehingga berpotensi membuat ketergantungan semakin kuat.
Kebersihan perangkat juga perlu diperhatikan. Perangkat yang digunakan secara bergantian berpotensi menjadi media penularan mikroorganisme.
Karena itu, mengganti rokok konvensional dengan vape bukan berarti seluruh risiko kesehatan akibat penggunaan nikotin hilang.
Berhenti Merokok untuk Mencegah Penyakit
Berbagai penyakit yang berkaitan dengan rokok sebenarnya dapat dicegah. Salah satu langkah paling efektif adalah tidak memulai kebiasaan merokok.
Bagi orang yang sudah merokok, berhenti menjadi pilihan penting. Tidak perlu menunggu munculnya penyakit terlebih dahulu untuk mengambil keputusan tersebut.
Berhenti merokok dapat membantu mengurangi paparan zat berbahaya ke dalam tubuh. Semakin cepat kebiasaan tersebut dihentikan, semakin cepat pula tubuh terbebas dari paparan asap rokok secara terus-menerus.
Bahaya rokok dapat menyerang banyak organ sekaligus. Jantung, otak, paru-paru, ginjal, hingga sistem reproduksi dapat terkena dampaknya.
Karena itu, berhenti merokok bukan sekadar mengubah kebiasaan. Langkah tersebut merupakan upaya pencegahan terhadap berbagai penyakit serius yang sebenarnya dapat dihindari.
Editor : Maylanni Diana Fitri