4.534 Kasus HIV di Tulungagung, KPAD Gencar Lawan Stigma dan Ajak Warga Tak Takuti ODHA

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:42 WIB
Selain mencegah penularan, penanggulangan HIV/AIDS juga harus menyasar stigma dan diskriminasi.(ILUSTRASI)
Selain mencegah penularan, penanggulangan HIV/AIDS juga harus menyasar stigma dan diskriminasi.(ILUSTRASI)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Persoalan HIV/AIDS di Tulungagung tidak berhenti pada penanganan medis.

Di tengah akumulasi kasus yang mencapai ribuan hingga tahun 2026 ini, stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Tulungagung masih menjadi pekerjaan rumah.

KPAD Kabupaten Tulungagung pun menggenjot edukasi agar masyarakat tidak lagi menjauhi ODHA.

Sekretaris I KPAD Tulungagung Ifada Nur Rohmaniah mengatakan, secara kumulatif terdapat 4.534 kasus HIV sejak 2006.

Angka tersebut merupakan akumulasi temuan selama periode tersebut hingga saat ini, Rabu (26/8).

Menurutnya, selain mencegah penularan, penanggulangan HIV/AIDS juga harus menyasar stigma dan diskriminasi.

Baca Juga: Kasus HIV pada Usia Muda di Tulungagung Meningkat, 630 Orang Terinfeksi, KPAD Minta Orang Tua Perkuat Komunikasi dengan Anak

Sebab, pemahaman yang keliru mengenai cara penularan HIV masih membuat sebagian masyarakat takut berinteraksi dengan ODHA. 

Kadang orang mendengar temuan kasus HIV banyak, kemudian berpikir menular karena ketularan. Padahal, kontak sosial sebenarnya tidak membuat orang tertular,” ujarnya.

Ifada menegaskan, HIV tidak menular melalui aktivitas sosial sehari-hari seperti bersalaman, berpelukan, makan bersama, menggunakan toilet bersama, maupun berkeringat.

Karena itu, KPAD tidak hanya memberikan edukasi melalui penyampaian materi. ODHA juga dilibatkan secara langsung dalam sejumlah kegiatan sosialisasi.

Bahkan, KPAD beberapa kali melakukan social experiment untuk melihat sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai stigma terhadap ODHA.

Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Tulungagung Bergeser ke Remaja, 630 Usia Sekolah Terdiagnosis Sejak 2006, KPAD Minta Edukasi Diperkuat

Dalam salah satu eksperimen terakhir yang dilakukan KPAD di sekitar 0 km Tulungagung, delapan orang berinteraksi secara bersamaan dengan ODHA.

Respons masyarakat cukup positif. Ada yang berani memeluk, menepuk pundak, hingga memberikan semangat.

Ada pula seorang anak kecil yang awalnya tampak ragu. Sang ibu kemudian mendorong anak tersebut untuk bersalaman dengan ODHA. Setelah itu, sang ibu memeluk dan memberikan semangat.

Bagi KPAD, respons tersebut menjadi gambaran bahwa edukasi secara langsung mampu mematahkan ketakutan yang selama ini muncul akibat informasi yang keliru.

Alhamdulillah, kami senang. Ternyata masyarakat mau berpelukan dan memberikan semangat,” kata Ifada.

Baca Juga: KPAD Tulungagung Ungkap 6 dari 10 Remaja Diduga Sudah Berhubungan Seks, Kasus HIV Usia 15-19 Tahun Jadi Sorotan

Pelibatan ODHA dalam kegiatan edukasi bukan kali pertama dilakukan. Dalam sejumlah sosialisasi, ODHA justru dihadirkan secara terbuka untuk berinteraksi dengan peserta.

Ifada menuturkan pernah ada peserta yang awalnya tidak berani bersalaman dengan ODHA. Setelah diberikan pemahaman, peserta tersebut akhirnya bersedia berjabat tangan.

Menurutnya, pola tersebut penting karena masyarakat tidak hanya mendengar teori mengenai HIV, tetapi juga mendapat pengalaman langsung bahwa interaksi sosial dengan ODHA tidak menyebabkan penularan.

Kalau kita bicara HIV/AIDS, mereka juga harus maju. Jangan hanya kita yang berbicara. Mereka juga harus bisa tampil,” tegasnya. (sri/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
kpad tulungagung Ifada Nur Rohmaniah odha hiv aids