
RADAR TULUNGAGUNG – CKG pelajar menjadi salah satu upaya penting untuk mengetahui kondisi kesehatan anak sejak usia sekolah. Pemeriksaan tidak hanya bertujuan menemukan penyakit, tetapi juga mengenali faktor risiko dan masalah kesehatan yang mungkin belum disadari anak maupun orang tua.
CKG pelajar juga penting karena sebagian gangguan kesehatan pada usia sekolah tidak selalu menimbulkan keluhan yang jelas. Karena itu, pemeriksaan melalui sekolah dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan masalah lebih awal sebelum berkembang dan mengganggu proses tumbuh kembang maupun aktivitas belajar.
Hingga Agustus 2026, pelaksanaan CKG Anak Sekolah secara nasional telah melayani 15,2 juta siswa dari target 50 juta anak sekolah. Artinya, cakupannya masih sekitar 30 persen sehingga pelaksanaan CKG pelajar masih terus berjalan.
CKG pelajar membantu menemukan masalah kesehatan sejak dini
Pemeriksaan kesehatan di sekolah bukan sekadar kegiatan administratif. Kementerian Kesehatan menjelaskan CKG Sekolah ditujukan untuk mengidentifikasi faktor risiko kesehatan, menemukan kondisi pra-penyakit, serta mendeteksi penyakit lebih awal.
Konsep tersebut sejalan dengan panduan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Lembaga tersebut menempatkan layanan kesehatan sekolah sebagai salah satu sarana penting untuk memberikan pelayanan preventif kepada anak dan remaja, termasuk pemeriksaan rutin dan tindak lanjut bila ditemukan masalah kesehatan.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menunggu anak mengeluh sakit untuk memperhatikan kondisi kesehatannya. Pemeriksaan berkala dapat membantu mengetahui perubahan berat badan, pertumbuhan, penglihatan, pendengaran, kesehatan gigi, maupun kondisi lain sesuai kebutuhan dan kelompok usia.
Masalah kesehatan siswa tidak selalu terlihat
Hasil pelaksanaan CKG menunjukkan bahwa anak usia sekolah menghadapi beragam persoalan kesehatan. Data Kemenkes hingga Agustus 2026 mencatat masalah yang banyak ditemukan antara lain karies gigi, anemia pada remaja putri, peningkatan tekanan darah, serta penumpukan kotoran telinga.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan meskipun seorang siswa terlihat sehat ketika mengikuti kegiatan belajar. Gangguan kesehatan tertentu baru diketahui setelah dilakukan pengukuran atau skrining, sehingga pemeriksaan dapat menjadi kesempatan untuk mengambil langkah lanjutan.
WHO juga menempatkan pemeriksaan kesehatan preventif sebagai bagian penting dari layanan kesehatan anak dan remaja. Skrining penglihatan, pendengaran, kesehatan gigi, status imunisasi, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan dapat membantu menemukan persoalan yang membutuhkan penanganan atau rujukan.
Hasil pemeriksaan jangan berhenti di tahap skrining
Hal yang tidak kalah penting dalam CKG pelajar adalah tindak lanjut. Pemeriksaan akan lebih bermanfaat apabila hasilnya dipahami oleh siswa dan orang tua, kemudian ditindaklanjuti ketika ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian medis.
Kemenkes menegaskan bahwa pelaksanaan CKG pada 2026 tidak hanya berfokus pada pemeriksaan, tetapi juga penanganan hasil pemeriksaan. Program tersebut diarahkan untuk membantu mengendalikan masalah kesehatan, termasuk hipertensi, gula darah, dan berat badan sejak dini.
Pada akhir Agustus 2026, Kemenkes kembali menegaskan bahwa CKG Anak Sekolah menjadi pintu masuk untuk mendeteksi sekaligus menangani masalah seperti gigi berlubang, anemia, dan obesitas. Temuan peningkatan tekanan darah juga masuk dalam persoalan kesehatan yang ditemukan pada pemeriksaan siswa.
Dengan demikian, pemeriksaan kesehatan anak di sekolah sebaiknya dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga tumbuh kembang, bukan sekadar pemeriksaan sesaat. CKG pelajar membantu membuka kesempatan bagi anak, keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal.
Pemeriksaan berkala juga memberi ruang untuk melakukan edukasi mengenai pola makan seimbang, aktivitas fisik, kebersihan diri, kesehatan gigi, serta kebiasaan hidup sehat. WHO menilai sekolah merupakan lingkungan strategis untuk membangun perilaku sehat sekaligus menghubungkan siswa dengan layanan kesehatan.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber