Makanan Terasa Basi atau Berbeda, Apa yang Harus Dilakukan Siswa? Jangan Langsung Dimakan

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 09:20 WIB
Makanan terasa basi atau berbeda? Siswa sebaiknya tidak mengonsumsinya. Simak cara mengenali, menyimpan informasi, dan melaporkannya.(ILUSTRASI AI)
Makanan terasa basi atau berbeda? Siswa sebaiknya tidak mengonsumsinya. Simak cara mengenali, menyimpan informasi, dan melaporkannya.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Makanan terasa basi, berbau berbeda, atau memiliki rasa yang tidak seperti biasanya perlu menjadi tanda bagi siswa untuk berhenti mengonsumsinya. Langkah tersebut penting terutama ketika makanan dibagikan sebagai konsumsi bersama, karena kondisi makanan yang mencurigakan sebaiknya segera diketahui pengelola dan petugas terkait.

Makanan terasa basi tidak selalu dapat dipastikan hanya berdasarkan rasa atau bau. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa mikroorganisme berbahaya tertentu tidak selalu mengubah tampilan, bau, atau rasa makanan. Karena itu, makanan yang terlihat normal pun tetap harus ditangani dengan prinsip keamanan pangan.

Makanan terasa basi atau berbeda dari kondisi normal tetap perlu diperlakukan sebagai makanan yang mencurigakan. Dalam kondisi seperti itu, siswa sebaiknya tidak meneruskan konsumsi, menyimpan informasi mengenai makanan tersebut bila memungkinkan, kemudian melaporkannya kepada guru, pengelola makanan, atau pihak sekolah.

Baca Juga: Sakit Perut dan Diare Setelah Makan, Kapan Bisa Dipantau dan Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?

Jangan Paksa Menghabiskan Makanan yang Mencurigakan

Ketika makanan memiliki rasa, aroma, warna, atau kondisi yang berbeda dari biasanya, langkah pertama adalah menghentikan konsumsi. Jangan mencoba menghabiskan makanan hanya karena sudah menjadi bagian dari jatah makan.

Dalam kasus di SMKN 1 Boyolangu, siswa yang menemukan makanan mencurigakan seperti terasa basi atau memiliki rasa berbeda diminta tidak mengonsumsinya dan segera melaporkan kondisi tersebut. Imbauan ini menjadi bagian dari langkah pencegahan sambil proses pemantauan kesehatan dan pemeriksaan makanan berlangsung.

Siswa juga sebaiknya tidak mencoba membuktikan keamanan makanan dengan mencicipinya berulang kali. Rasa yang berbeda memang dapat menjadi tanda yang terlihat, tetapi tidak semua bahaya pangan dapat dideteksi melalui indra manusia.

WHO menyebut bahaya pada makanan dapat berasal dari bakteri, virus, parasit, bahan kimia maupun toksin. Karena itu, keamanan pangan tidak cukup dinilai hanya berdasarkan kondisi fisik makanan.

Jika makanan sudah telanjur dimakan dan kemudian muncul keluhan kesehatan, siswa perlu segera memberitahu orang tua, guru, petugas sekolah, atau tenaga kesehatan. Informasi mengenai makanan yang dikonsumsi juga penting disampaikan agar dapat membantu proses penelusuran.

Baca Juga: CKG Pelajar Belum Rampung, Ini Alasan Pemeriksaan Kesehatan Anak di Sekolah Perlu Berkala

Bagaimana Cara Melaporkan Makanan yang Berbeda?

Laporan sebaiknya disampaikan secepat mungkin dan menggunakan informasi yang jelas. Siswa dapat menjelaskan menu yang dikonsumsi, bagian makanan yang terasa berbeda, kapan makanan dimakan, serta apakah makanan tersebut masih tersisa.

Jika masih terdapat sisa makanan, jangan membuangnya terlebih dahulu apabila pihak sekolah atau petugas kesehatan meminta makanan tersebut diamankan untuk pemeriksaan. Dalam penyelidikan kejadian kesehatan, sampel makanan dapat menjadi bagian dari bahan yang diperiksa untuk membantu menelusuri kemungkinan penyebab.

Hal tersebut dilakukan dalam penanganan dugaan gangguan kesehatan di SMKN 1 Boyolangu. Sampel menu makanan pada 15 dan 16 September yang masih tersimpan di SPPG Tanjungsari telah diambil dan dikirim untuk pemeriksaan laboratorium di Surabaya.

Pemeriksaan tersebut penting karena jumlah siswa yang mengalami keluhan saja belum cukup untuk menetapkan penyebab kejadian. Hingga pendataan 19 September, tercatat 189 siswa dengan keluhan yang memenuhi kriteria investigasi, terdiri atas 22 laki-laki dan 167 perempuan.

Selain siswa, sampel dari guru yang mengalami keluhan juga diambil. Tim kesehatan turut memeriksa SPPG Tanjungsari, termasuk dokumen standar operasional prosedur atau SOP serta kondisi lingkungan.

Baca Juga: Cek Kesehatan Usia Produktif, Hipertensi dan Diabetes Bisa Mengintai Tanpa Gejala

Jangan Hanya Mengandalkan Bau dan Rasa

Ada satu hal penting yang perlu dipahami siswa: makanan yang tidak berbau aneh bukan berarti otomatis aman. WHO merekomendasikan lima prinsip dasar keamanan pangan, yakni menjaga kebersihan, memisahkan makanan mentah dan matang, memasak secara menyeluruh, menjaga makanan pada suhu aman, serta menggunakan air dan bahan baku yang aman.

Suhu penyimpanan juga menjadi faktor penting. WHO menjelaskan bahwa mikroorganisme dapat berkembang cepat ketika makanan berada pada suhu yang tidak aman. Makanan matang dan mudah rusak perlu ditangani serta disimpan dengan cara yang tepat untuk mengurangi risiko pertumbuhan mikroorganisme.

Karena itu, siswa tidak perlu menunggu makanan menunjukkan tanda yang sangat jelas sebelum melaporkannya. Jika terdapat perubahan rasa, aroma, bentuk, kemasan, atau kondisi lain yang dianggap tidak wajar, informasi tersebut dapat disampaikan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Pada kejadian di SMKN 1 Boyolangu, pemantauan tetap dilakukan melalui puskesmas dan koordinasi dengan fasilitas kesehatan. Pendataan siswa juga dilakukan melalui formulir yang disebarkan kepada siswa untuk mengetahui perkembangan kasus.

Intinya, jangan mengonsumsi makanan yang sudah terasa basi atau berbeda, jangan mencoba-coba mencicipinya lagi, dan segera laporkan. Namun, tanda indrawi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keamanan karena makanan yang terkontaminasi tidak selalu menunjukkan perubahan bau, rasa, atau tampilan.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
makanan terasa basi makanan mencurigakan keamanan pangan sekolah cara melaporkan makanan makanan tidak layak konsumsi