Pemeriksaan Sampel Makanan untuk Menelusuri Penyebab Gangguan Kesehatan, Ini Tahapannya

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 09:30 WIB
Pemeriksaan sampel makanan membantu menelusuri penyebab gangguan kesehatan. Simak tahapan pengambilan hingga analisis laboratorium.(ILUSTRASI AI)
Pemeriksaan sampel makanan membantu menelusuri penyebab gangguan kesehatan. Simak tahapan pengambilan hingga analisis laboratorium.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Pemeriksaan sampel makanan menjadi salah satu tahapan penting untuk menelusuri kemungkinan penyebab gangguan kesehatan setelah sejumlah orang mengalami keluhan. Pemeriksaan sampel makanan dilakukan dengan menguji makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian, kemudian hasilnya dibandingkan dengan temuan epidemiologi dan pemeriksaan lainnya.

Proses pemeriksaan sampel makanan tidak berarti hasil laboratorium otomatis membuktikan makanan sebagai penyebab keluhan. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari investigasi yang lebih luas karena penyebab kejadian harus ditelusuri berdasarkan berbagai bukti.

Dalam kasus di SMKN 1 Boyolangu, pemeriksaan sampel makanan masih berlangsung. Sampel menu makanan yang dikonsumsi pada 15 dan 16 September telah diambil dari SPPG Tanjungsari dan dikirim ke laboratorium di Surabaya. Hasil pemeriksaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 12 hari atau lebih dari satu pekan.

Baca Juga: Sakit Perut dan Diare Setelah Makan, Kapan Bisa Dipantau dan Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?

Mengapa Sampel Makanan Perlu Diperiksa?

Ketika muncul dugaan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan makanan, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari bukti mengenai kemungkinan adanya agen penyebab atau kontaminasi. WHO menjelaskan bahwa investigasi penyakit bawaan pangan melibatkan koordinasi antara bidang epidemiologi, laboratorium, lingkungan, serta keamanan pangan.

Sampel yang diperiksa dapat berasal dari makanan yang tersisa dari hidangan yang dicurigai, bahan yang digunakan untuk memasak, maupun makanan dari menu yang berdasarkan hasil investigasi epidemiologi dianggap berkaitan dengan kejadian. Sisa makanan dari hidangan yang dicurigai menjadi salah satu jenis sampel yang diprioritaskan.

Karena itu, pemeriksaan tidak hanya bertujuan mencari tahu apakah makanan tersebut masih layak atau tidak. Hasil laboratorium perlu dibaca bersama informasi lain, seperti siapa yang mengalami keluhan, kapan gejala muncul, makanan apa yang dikonsumsi, serta kondisi lingkungan tempat makanan diproses.

Baca Juga: Cek Kesehatan Gratis Tulungagung Baru 22 Persen, Dinkes Kejar Target 46 Persen

Bagaimana Tahapan Pemeriksaannya?

Tahap pertama adalah menentukan makanan atau paparan yang perlu ditelusuri berdasarkan data kasus. Dalam investigasi epidemiologi, petugas mengumpulkan informasi mengenai orang yang mengalami keluhan, waktu kejadian, lokasi, serta riwayat paparan makanan. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyusun dugaan sumber paparan.

Setelah sampel ditentukan, makanan dikumpulkan dan dikirim ke laboratorium yang memiliki kemampuan melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan. WHO menekankan pentingnya menentukan jenis spesimen, agen yang perlu diuji, serta laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan tersebut.

Pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk mencari bukti adanya mikroorganisme atau bahaya pangan tertentu. Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan juga dapat diperluas terhadap sampel lingkungan dan spesimen klinis dari orang yang mengalami keluhan. Tujuannya adalah melihat apakah terdapat hubungan antara agen yang ditemukan pada makanan, lingkungan, dan manusia.

Setelah hasil diperoleh, temuan laboratorium tidak berdiri sendiri. WHO menyebut investigasi wabah membutuhkan analisis epidemiologi, pemeriksaan laboratorium, serta penilaian lingkungan untuk menguji dugaan sumber dan cara terjadinya paparan.

Baca Juga: Heru Tjahjono Dorong Masyarakat Tulungagung Pahami Pentingnya JKN dan Pastikan Kepesertaan BPJS Kesehatan Aktif

Mengapa Hasil Pemeriksaan Tidak Bisa Langsung Disimpulkan?

Hasil pemeriksaan membutuhkan waktu karena laboratorium harus melakukan analisis terhadap sampel. Selain itu, hasil negatif pada satu sampel juga tidak serta-merta menutup seluruh kemungkinan karena investigasi dapat membutuhkan pemeriksaan terhadap jenis sampel atau paparan lain.

Dalam kasus SMKN 1 Boyolangu, pendataan investigasi epidemiologi mencatat 189 siswa dengan keluhan. Rinciannya, 22 laki-laki dan 167 perempuan. Angka tersebut masih dipantau hingga Sabtu 19 September.

Tim kesehatan juga melakukan pemeriksaan di SPPG Tanjungsari. Selain mengecek sampel makanan, petugas menelaah dokumen standar operasional prosedur atau SOP serta kondisi lingkungan. Sejumlah dokumen SOP masih perlu diperiksa lebih lanjut, sementara dokumen SLHS dan catatan perbaikan lingkungan telah ditinjau.

Sampel dari guru yang mengalami keluhan juga turut diambil. Pemantauan dilakukan melalui puskesmas dan koordinasi dengan kepala puskesmas, sedangkan pendataan siswa dilakukan menggunakan formulir digital.

Sampai Jumat, belum ada laporan kasus baru maupun siswa SMKN 1 Boyolangu yang harus menjalani perawatan di puskesmas atau rumah sakit. Pemantauan kemudian diperpanjang untuk memastikan perkembangan kasus tetap terpantau.

Dari proses tersebut terlihat bahwa pemeriksaan sampel makanan hanyalah satu bagian dari rangkaian penelusuran. WHO juga menempatkan pengumpulan data kasus, pemeriksaan klinis dan laboratorium, analisis waktu-tempat-orang, serta pemeriksaan lingkungan sebagai bagian yang saling melengkapi dalam investigasi.

Karena itu, kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan sebaiknya menunggu seluruh bukti terkumpul dan dianalisis. Dalam investigasi keamanan pangan, hasil laboratorium menjadi penting ketika dapat dibaca bersama data epidemiologi dan temuan lingkungan sehingga sumber paparan dapat ditelusuri secara lebih akurat.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
pemeriksaan sampel makanan investigasi epidemiologi sampel makanan pemeriksaan laboratorium makanan keamanan pangan