Hasil Cek Kesehatan Anak di Sekolah Menemukan Masalah? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 20:04 WIB
Hasil cek kesehatan anak di sekolah perlu ditindaklanjuti. Simak langkah orang tua dari edukasi, pemantauan hingga pemeriksaan lanjutan.(ILUSTRASI AI)
Hasil cek kesehatan anak di sekolah perlu ditindaklanjuti. Simak langkah orang tua dari edukasi, pemantauan hingga pemeriksaan lanjutan.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Hasil cek kesehatan anak di sekolah sebaiknya tidak berhenti sebagai catatan dalam laporan pemeriksaan. Ketika skrining menemukan masalah kesehatan, orang tua perlu memahami hasil tersebut dan mengikuti tindak lanjut sesuai kondisi anak, mulai dari edukasi dan perubahan kebiasaan hingga pemeriksaan lanjutan bila diperlukan.

Di Tulungagung, hasil cek kesehatan anak di sekolah melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan berbagai persoalan. Pada siswa SD sederajat, misalnya, terdapat 7.764 anak mengalami karies, 774 mengalami gangguan penglihatan, 565 memiliki tingkat kebugaran kurang sekali, serta terdapat temuan terkait gizi dan kesehatan jiwa.

Karena itu, hasil cek kesehatan anak di sekolah sebaiknya dipandang sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan siswa. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa CKG tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi diarahkan pada edukasi, pencegahan, pengobatan, pemantauan, hingga rujukan sesuai kebutuhan.

Baca Juga: CKG Sekolah Tulungagung Ungkap 7.764 Siswa SD Alami Karies Gigi

Pahami Dulu Arti Hasil Pemeriksaan Anak

Langkah pertama orang tua adalah membaca dan memahami hasil skrining yang diterima. Tidak semua temuan berarti anak mengalami penyakit yang sudah pasti, karena skrining pada dasarnya digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko atau menemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Kemenkes menjelaskan bahwa CKG sekolah mencakup pemeriksaan status gizi, mata dan telinga, gigi, kesehatan jiwa, anemia, serta pemeriksaan lain sesuai kelompok umur dan jenjang pendidikan. Tujuannya antara lain mengidentifikasi faktor risiko dan mendeteksi kondisi kesehatan lebih awal.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan kondisi anak hanya berdasarkan satu hasil skrining. Jika terdapat catatan yang membutuhkan perhatian, informasi tersebut dapat dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah berikutnya.

Di Tulungagung, hasil pemeriksaan CKG juga disampaikan kepada pihak sekolah. Dengan demikian, sekolah mengetahui kondisi kesehatan siswanya dan dapat menjadi bagian dari proses tindak lanjut bersama keluarga.

Baca Juga: Dinkes Tulungagung Pantau CKG di Al Azhaar Bandung, Dukungan Sekolah dan Pemangku Wilayah Jadi Kunci

Sesuaikan Tindak Lanjut dengan Temuan

Tindak lanjut perlu disesuaikan dengan jenis masalah yang ditemukan. Temuan karies, misalnya, dapat menjadi alasan bagi orang tua untuk membawa anak menjalani pemeriksaan gigi lebih lanjut, sedangkan gangguan penglihatan dapat memerlukan pemeriksaan mata sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Begitu pula dengan temuan gizi, kebugaran, pendengaran, maupun kesehatan jiwa. Tidak semua kondisi membutuhkan tindakan yang sama sehingga orang tua perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan, bukan melakukan diagnosis sendiri.

Kemenkes menempatkan edukasi, pemantauan, tata laksana, dan rujukan sebagai bagian dari tindak lanjut CKG. Pemerintah juga menegaskan bahwa hasil pemeriksaan harus menjadi dasar untuk menangani masalah kesehatan yang ditemukan.

Untuk hasil yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, orang tua perlu memastikan anak benar-benar datang ke fasilitas kesehatan yang dituju. Panduan WHO tentang skrining anak juga menekankan pentingnya memberi tahu orang tua mengenai hasil yang membutuhkan rujukan dan memastikan tindak lanjut dilakukan.

Baca Juga: CKG Pelajar Belum Rampung, Ini Alasan Pemeriksaan Kesehatan Anak di Sekolah Perlu Berkala

Jangan Abaikan Perubahan Kebiasaan di Rumah

Tindak lanjut tidak selalu berupa pemeriksaan ke fasilitas kesehatan. Pada kondisi tertentu, edukasi dan perubahan kebiasaan sehari-hari juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak.

Orang tua dapat menggunakan hasil CKG sebagai bahan untuk mengevaluasi kebiasaan anak, seperti pola makan, aktivitas fisik, kebersihan gigi, waktu istirahat, serta paparan asap rokok. Penyesuaian kebiasaan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan masalah kesehatan yang ditemukan.

Di Tulungagung, selain karies dan gangguan penglihatan, CKG juga menemukan 2.439 siswa SD sederajat yang tercatat terpapar asap rokok. Pada jenjang SMP, terdapat 563 siswa dengan karies dan 135 siswa mengalami gangguan penglihatan.

Temuan kesehatan jiwa juga perlu mendapat perhatian. Pada siswa SD sederajat, 509 anak menunjukkan gejala signifikan, termasuk 62 dengan gejala kecemasan berat. Sementara pada jenjang SMP, 676 siswa menunjukkan gangguan atau gejala yang membutuhkan perhatian, dengan 148 di antaranya menunjukkan gejala kecemasan.

Data tersebut tidak seharusnya menjadi label bagi anak. Sebaliknya, hasil skrining dapat menjadi pintu masuk bagi orang tua dan sekolah untuk memberikan dukungan serta mencari bantuan profesional bila memang diperlukan.

Pelaksanaan CKG sekolah di Tulungagung sendiri masih berlangsung. Dari target 171.806 siswa, sebanyak 76.493 siswa tercatat telah mendaftar dan 54.043 siswa sudah hadir menjalani pemeriksaan.

Artinya, hasil cek kesehatan anak di sekolah memiliki manfaat apabila dilanjutkan dengan tindakan yang sesuai. Pemeriksaan memberikan gambaran awal, sedangkan keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan perlu memastikan temuan yang membutuhkan perhatian tidak berhenti sebagai angka dalam laporan. Kemenkes juga menegaskan bahwa arah CKG 2026 adalah memastikan masalah yang ditemukan mendapatkan tindak lanjut.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
hasil cek kesehatan anak di sekolah tindak lanjut ckg sekolah cek kesehatan gratis anak pemeriksaan kesehatan siswa kesehatan anak sekolah