
RADAR TULUNGAGUNG - Skrining kesehatan anak sekolah dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan siswa, mulai dari status gizi, kesehatan gigi, penglihatan, pendengaran, kebugaran hingga kesehatan jiwa. Pemeriksaan seperti ini penting karena sejumlah masalah kesehatan tidak selalu terlihat dari kondisi fisik atau keluhan anak sehari-hari.
Melalui skrining kesehatan anak sekolah, petugas dapat menemukan kondisi yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Kementerian Kesehatan menyebut Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekolah memang ditujukan untuk mengidentifikasi faktor risiko, mendeteksi kondisi prak penyakit, dan menemukan penyakit lebih awal. Jenis pemeriksaannya antara lain status gizi, mata, telinga, gigi, kesehatan jiwa, serta anemia sesuai kelompok umur.
Di Tulungagung, skrining kesehatan anak sekolah melalui CKG menunjukkan beragam temuan. Dari pemeriksaan yang telah berjalan, masalah ditemukan baik pada siswa SD sederajat maupun SMP.
Baca Juga: CKG Sekolah Tulungagung Ungkap 7.764 Siswa SD Alami Karies Gigi
Gizi dan Kebugaran Bisa Terlihat dari Skrining
Salah satu aspek yang diperiksa adalah kondisi gizi. Pada siswa SD sederajat di Tulungagung, ditemukan 10 anak dengan gizi buruk, 228 anak dengan gizi kurang, dan 98 anak mengalami obesitas.
Pada jenjang SMP, terdapat 15 siswa dengan gizi kurang dan 11 siswa mengalami obesitas. Data tersebut menunjukkan bahwa masalah gizi pada anak sekolah dapat berupa kekurangan maupun kelebihan berat badan.
Kondisi kebugaran juga menjadi bagian dari pemeriksaan. Sebanyak 565 siswa SD sederajat tercatat memiliki tingkat kebugaran kurang sekali, sedangkan pada jenjang SMP terdapat 79 siswa dengan kebugaran kurang.
Kemenkes memasukkan status gizi dan kebugaran dalam rangkaian pemeriksaan CKG sekolah karena keduanya dapat memberikan informasi mengenai kondisi kesehatan siswa. Hasil pemeriksaan kemudian dapat menjadi dasar untuk edukasi atau tindak lanjut sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Dinkes Tulungagung Pantau CKG di Al Azhaar Bandung, Dukungan Sekolah dan Pemangku Wilayah Jadi Kunci
Mata, Telinga, dan Gigi Termasuk yang Diperiksa
Skrining juga dapat membantu menemukan gangguan pada indera. Di Tulungagung, terdapat 774 siswa SD sederajat yang mengalami gangguan penglihatan. Dari jumlah tersebut, 213 siswa diketahui sudah menggunakan kacamata.
Pada jenjang SMP, gangguan penglihatan ditemukan pada 135 siswa. Sementara itu, pada siswa SD sederajat tercatat 46 anak mengalami gangguan pendengaran dan 43 lainnya mengalami infeksi telinga.
Pemeriksaan mata dan telinga penting karena gangguan indera yang tidak tertangani dapat berkaitan dengan proses perkembangan dan pembelajaran anak. WHO menjelaskan bahwa penglihatan dan pendengaran berperan penting terhadap perkembangan serta hasil belajar anak usia sekolah.
Masalah gigi juga menjadi temuan yang cukup menonjol. Sebanyak 7.764 siswa SD sederajat mengalami karies, sedangkan pada jenjang SMP terdapat 563 siswa dengan kondisi tersebut.
Secara nasional, data CKG terbaru Kemenkes menunjukkan karies menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada anak sekolah. Kemenkes mencatat sekitar 41 persen anak sekolah yang diperiksa melalui CKG mengalami karies atau gigi berlubang.
Baca Juga: CKG Pelajar Belum Rampung, Ini Alasan Pemeriksaan Kesehatan Anak di Sekolah Perlu Berkala
Kesehatan Jiwa dan Paparan Asap Rokok Juga Terpantau
Skrining anak sekolah tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Aspek kesehatan jiwa juga diperiksa untuk menemukan gejala yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Di Tulungagung, sebanyak 509 siswa SD sederajat menunjukkan gejala signifikan, termasuk 62 siswa dengan gejala kecemasan berat. Pada jenjang SMP, terdapat 676 siswa yang menunjukkan gangguan atau gejala yang perlu mendapat perhatian, dengan 148 di antaranya menunjukkan gejala kecemasan.
Temuan tersebut tidak otomatis berarti siswa telah mengalami gangguan kesehatan jiwa tertentu. Hasil skrining merupakan informasi awal yang perlu dipahami sesuai metode pemeriksaannya dan, bila diperlukan, dilanjutkan dengan penilaian tenaga profesional.
Aspek lain yang muncul adalah paparan asap rokok. Sebanyak 2.439 siswa SD sederajat tercatat terpapar asap rokok. Data tersebut menjadi informasi yang dapat digunakan untuk memperkuat edukasi mengenai lingkungan bebas asap rokok bagi anak.
Pada jenjang SMP, pemeriksaan juga menemukan empat siswa berisiko talasemia. Jenis pemeriksaan CKG memang disesuaikan dengan kelompok usia dan jenjang pendidikan, sehingga tidak semua siswa menjalani jenis pemeriksaan yang sama.
Pelaksanaan CKG sekolah di Tulungagung masih berlangsung. Dari target 171.806 siswa, sebanyak 76.493 siswa telah mendaftar dan 54.043 siswa tercatat hadir menjalani pemeriksaan.
Dengan demikian, skrining kesehatan anak sekolah bukan sekadar kegiatan pemeriksaan sesaat. Hasilnya memberikan gambaran awal mengenai berbagai aspek kesehatan siswa yang dapat menjadi dasar edukasi, pemantauan, pemeriksaan lanjutan, atau rujukan apabila diperlukan. Kemenkes sendiri menegaskan bahwa CKG diarahkan pada deteksi dini sekaligus tindak lanjut terhadap masalah yang ditemukan.
Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber