TULUNGAGUNG – RSUD dr Iskak Tulungagung memastikan kesiapan menjadi salah satu lokus uji coba transformasi pelayanan kesehatan nasional yang digagas Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Peninjauan kesiapan tersebut dilakukan jajaran Kemenkes bersama Pemprov Jawa Timur di RSUD dr Iskak, Jumat (25/9).
Transformasi tersebut meliputi perubahan sistem rujukan menjadi berbasis kompetensi pelayanan, penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), serta perubahan sistem klaim dari INA-CBG menjadi Indonesian Diagnosis Related Groups (IDRG).
Direktur RSUD dr Iskak, dr Zuhrotul Aini SpA MKes mengatakan, rumah sakit milik Pemkab Tulungagung itu telah melakukan persiapan sejak ditunjuk sebagai lokus sekitar satu tahun lalu.
Persiapan dilakukan mulai dari advokasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, baseline assessment, hingga penyusunan roadmap pengembangan layanan.
“Setelah melakukan advokasi dan mendapatkan satu kesamaan visi, kami melakukan baseline assessment. Setelah itu, kami membuat roadmap, bagaimana target jangka pendek, menengah, dan panjang,” jelasnya.
Untuk penerapan KRIS, RSUD dr Iskak memilih pola bertahap agar tidak mengurangi kapasitas pelayanan kepada masyarakat.
Saat ini, sekitar 190 tempat tidur telah menerapkan KRIS, mendekati 60 persen. Targetnya mencapai 72 persen pada akhir 2026 dan 79,6 persen pada pertengahan 2027.
Menurut dr Aini, pola bertahap tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate yang saat ini sekitar 66 persen.
Dengan demikian, proses transformasi tidak sampai mengganggu pelayanan pasien.
“Kami pegang bahwa pelayanan dan kapasitas pelayanan kepada masyarakat itu tidak boleh berkurang. Tidak boleh terganggu karena transformasi ini,” tegasnya.
Wanita berjilbab ini menambahkan, pelaksanaan uji coba secara nasional masih menunggu penetapan pemerintah pusat melalui Peraturan Presiden. Setelah ditetapkan, pelaksanaan akan dievaluasi secara berkala.
“Kami berharap seluruh civitas hospitalia RSUD dr Iskak bahu-membahu menyelesaikan program pemerintah ini,” tuturnya.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, dr Azhar Jaya SH SKM MARS mengatakan, Tulungagung merupakan salah satu dari empat daerah yang dipilih menjadi lokus uji coba.
Hasil peninjauan menunjukkan kesiapan fasilitas kesehatan di Tulungagung cukup baik sehingga dianggap mampu menjadi pilot project program pemerintah tersebut.
“Proses input sistem rujukan di FKTP yang ditinjau mampu dilakukan sekitar 2 menit 47 detik. Lebih cepat dari standar maksimal 4 menit,” tuturnya.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak juga menilai Tulungagung mampu menjadi contoh pelaksanaan transformasi tersebut.
“Setelah melihat sendiri, Kabupaten Tulungagung sangat mampu menjadi contoh. Yang paling penting, program ini bertujuan menyederhanakan sistem rujukan yang lama agar tidak njelimet,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengatakan, Pemkab Tulungagung mendukung penuh program tersebut.
Dia berharap Tulungagung dapat menjadi contoh penerapan transformasi layanan kesehatan sekaligus memberikan pelayanan yang semakin baik kepada masyarakat.
“Semoga pelayanan menjadi semakin baik lagi,” ujarnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri