Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pendidikan Politik : Upaya Visioner Menuju Pemilu 2024

M. Choirurrozaq • Jumat, 23 Juni 2023 | 03:23 WIB

Penulis: Angka Octavia Ramadhani.  Mahasiswa Ilmu Pemerintahan,  Universitas Muhammadiyah Malang
Penulis: Angka Octavia Ramadhani. Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang
Generasi muda dianggap sebagai pemegang peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai generasi yang sering disebut sebagai agent of change (Pelaku Perubahan), sudah seharusnya para pemuda memiliki semangat juang demi kemajuan bangsa, terutama dalam memperjuangkan hak-hak rakyat kecil maupun sebagai penyambung aspirasi rakyat yang ditunjukan kepada pemerintah agar kebijakan yang dibuat pemerintah bercermin pada kebutuhan masyarakat. Walau tak dapat ditampik Mulyana (2011) menyebutkan bahwa pemuda cenderung memiliki karakter dinamis dalam artian sebagai sosok yang walaupun dapat dinilai optimis tetapi juga belum mampu mengendalikan emosi dengan stabil. Mengomentari pendapat ini tentu para pemuda membutuhkan bimbingan dan dorongan hingga kelak cukup mampu memimpin bangsanya sendiri.

 Pada 2024 Indonesia akan memasuki era baru dengan adanya pergantian pemimpin yang akan diselenggarakan melalui pemilihan umum. Disinilah peran pemuda akan Kembali dibutuhkan sebab menurut survey yang telah dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) melalui pernyataan August Mellaz bahwa pada pemilu mendatang pemuda akan mendominasi suara sebanyak 60% dari total pemilik suara sah. Hal ini tentu mempertegas bahwa pemuda merupakan penentu bagi hasil pemilu yang akan datang. Untuk menghadapi pemilu para pemuda membutuhkan bekal yang cukup guna menentukan pilihan serta pandangan politiknya, dengan demikian pendidikan politik menjadi hal yang penting diperoleh seluruh rakyat atau khususnya para pemuda yang akan menjadi pemilih pemula dengan rentan usia 17-21 tahun. 

 Pendidikan politik dikatakan akan mampu mempengaruhi warga negara khususnya para generasi muda yang lebih cepat dan tanggap dalam memperoleh informasi sehingga mampu berpikir lebih kritis serta aktif berpartisipasi dalam bidang politik. Dengan memperoleh pendidikan politik tentunya generasi muda akan menjadi pribadi yang melek akan isu-isu politik dan memiliki kesadaran betapa pentingnya politik itu. Pendidikan politik harus diberikan kepada generasi muda sebab pemuda yang memiliki pengetahuan politik akan melahirkan demokrasi yang berfungsi dengan baik pada masa yang akan datang. 

 Mirisnya pada saat ini ketertarikan pemuda akan bidang politik dapat dikatakan sangat rendah. Dilihat dari hasil survei yang telah dilakukan Lembaga Survei KedaiKOPI menunjukan bahwa pada tahun 2022 ada 80% generasi muda yang masih buta terhadap politik. Hal ini diperparah dengan munculnya teknologi yang semakin menguasai kehidupan, dimana dampak negatif dari teknologi tidak dapat disepelekan begitu saja, BPS bahkan mencatat sebanyak 85,62 % pemuda Indonesia saat ini menggunakan internet secara aktif. Selain karena dampak dari kemajuan teknologi, generasi muda cenderung lebih tertarik dengan budaya barat maupun KPOP yang saat ini tengah populer, alih-alih tertarik dengan isu politik negaranya sendiri. Padahal generasi muda harusnya lebih peka dan peduli pada isu politik yang terjadi menuju pemilu serentak 2024.

 Untuk meningkatkan ketertarikan generasi muda akan politik tentu diperlukan campur tangan pemerintah yang bersinergis dengan bidang pendidikan untuk secara aktif memberikan pendidikan politik di sekolah-sekolah formal maupun sekolah non-formal. Sekolah dapat memberikan pendidikan politik yang menarik bagi siswa seperti dengan menyisipkan pendidikan politik didalam mata pelajaran sekolah seperti mata pelajaran pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, agama dan budi pekerti, maupun dalam mata pelajaran sejarah. Sekolah juga dapat memprogram adanya pelaksanaan pendidikan karakter kebangsaan yang nantinya akan menciptakan sikap patriotisme, cintah tanah air, menumbuhkan kesadaran berbangsa dan kepribadian yang luhur sesuai dengan nilai Pancasila. Tentunya program ini akan berhasil jika didukung oleh seluruh warga sekolah dengan mensosialisasikan dan mengimplementasikan secara bersama-sama sebagai budaya sekolah.

 Selain melalui sekolah, pendidikan politik juga dapat dilakukan melalui media sosial yang saat ini tengah digandrungi generasi muda. Digitalisasi politik merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketertarikan generasi muda akan pentingnya pendidikan politik dengan cara memanfaatkan teknologi yang dijembatani e-government. Digitalisasi pendidikan politik dapat dilakukan dengan cara membuat akun-akun media sosial sebagai wadah pendidikan politik seperti melalui kanal Tiktok,Youtube, Instagram maupun Twitter. Melalui media sosial ini pemerintah atau pihak terkait dapat membuat konten-konten yang inovatif yaitu forum diskusi online yang dikemas dengan menarik agar generasi muda mampu mengemukakan pandangan mereka tentang politik. Dengan memanfaatkan media sosial maka pendidikan politik akan menyentuh banyak pihak terutama bagi generasi muda dan pemilih pemula yang perlu memperoleh edukasi politik agar tidak dibodohi politik. 

 Generasi muda sebagai penerus bangsa yang akan melanjutkan kepemimpinan negeri ini tentulah harus memiliki kesadaran tentang pentingnya pendidikan politik yang harus mereka peroleh. Dengan mempelajari dan memahami politik generasi muda diharapkan dapat secara aktif memberikan gagasan dan ide-ide yang nantinya akan bermanfaat untuk bangsa dan negara. Politik dapat dikatakan sebagai sesuatu yang kotor namun pada akhirnya mau tidak mau generasi muda haruslah memiliki sifat melek politik dan terjun kedalam politik demi membawa Indonesia menuju kedaulatan, Soe Hok Gie pernah berkata “Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”*

Editor : M. Choirurrozaq
#umm malang #Universitas Muhammadiyah Malang