Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Politik identitas, Apa Menjamin Suatu Negara?

M. Choirurrozaq • Jumat, 23 Juni 2023 | 05:17 WIB

PENULIS : Keken Himawan, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Pemerintahan
PENULIS : Keken Himawan, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Pemerintahan
ISU mengenai politik identitas semakin marak mendekati pemilu 2024.Direnakan para pejabat politik menjadikan peluang politik identitas sebagai wadah membangun dukungan pada rakyat. Hal itu menjadi pro dan kontra di setiap pemilihan umum yang akan berlangsung. Lantas apa yang di maksud dengan politik identitas? Mengapa politik identitas menjadi pro dan kontra di setiap pemilihan umum?

Menurut (abdillah, 2002) mendefinisikan politik identitas sebagai politik yang dasar utama kajiannya dilakukan untuk merangkul kesamaan atas dasar persamaan-persamaan tertentu, mulai dari etnis, agama, hingga jenis kelamin.

 

Dapat di simpulkan bahwa politik identitas pada dasarnya politik untuk merangkul golongan yang memiliki kesamaan mulai dari etnis agama dll. Namun mengapa politik identitas menjadi pro dan kontra di setiap pemilihan umum? 

Adanya strategi politik identitas sebenarnya boleh dan sah untuk digunakan dalam dunia politik apabila identitas politik di gunakan untuk menunjang identitas lain untuk bisa saling maju Bersama diatas perbedaan yang ada. Namun hal ini menjadi pro dan kontra di karenakan cenderung mengarah pada hal yang negative, mengapa? karena para pejabat politik memanfaatkan kesamaan ini untuk mendapatkan suara rakyat.Dengan cara ini pejabat dapat menjatuhkan menindas bahkan menghancurkan lawannya dengan kesamaan yang dimilik.

Di Indonesia sendiri politik identitas sudah menjadi tradisi di setiap pemilihan umum, banyak masyarakat yang memilih pemimpin karena dinilai sama dalam beragama ataupun ras tanpa menilai dari kinerja calon pemimpin. Berkaca dari pilkada 2017 kemarin banyak masyarakat yang tidak mendukung ahok dikarenakan menganut agama kristen sedangkan di Indonesia mayoritas menganut agama islam. Bukan hanya itu pemilihan presiden 2019 dimana diketahui bahwa Jokowi menggandeng ma’ruf amin yang mempunyai banyak dukungan atau pengikut dimana hal itu dijadikan peluang untuk mendapatkan suara dukungan dari rakyat.

Menurut Muhtadi (2019) adanya fenomena politik identitas dengan populisme agama akan menjadi ranjau bagi demokrasi negara ketika digunakan oleh pemimpin yang tidak cakap. Politik identitas akan menggiring opini publik bahwa orang yang tidak beridentitas sama dengan mereka tidak pantas untuk menjadi pemimpin. Ini tentu saja menyebabkan kaum minoritas akan kehilangan hak yang sama dalam pemerintahan negara, khususnya dalam ranah pemilu maupun pemilihan. Serta dikhawatirkan secara lambat laun akan mencederai demokrasi.

Bukan hanya tentang menjatuhkan pejabat lain dengan kesamaan yang dimiliki dampak negatif yang sangat bisa terjadi adalah memicu perpecahan di Indonesia. Mengingat di Indonesia sendiri menganut beberapa agama,banyaknya suku-suku,serta perbedaan ras. Dan juga berdampak pada demokrasi karena demokrasi tidak dapat berjalan dengan baik bahkan akan hancur. Maka menggunakan strategi politik identitas sangat memicu adanya perpecahan di antara masyarakat Indonesia karena dianggap tidak komperatif dalam memilih pemimpin. Pemimpin yang di hasilkan juga acap kali bermasalah karena kurangnya memahami problem subtansial yang dihadapi bangsa Indonesia dan hal-hal apa yang di butuhkan oleh masyarakat. Dan juga berdampak pada dunia politik yang menjadikan ruang politik di isi dengan kebencian.

Untuk itu, diperlukan komitmen para elit dan aktor politik untuk menciptakan budaya politik yang kompatibel dengan nilai-nilai demokrasi. Dengan demikian, Pemilu 2024 dapat menghasilkan proses konsolidasi demokrasi dan pemilu yang berkualitas. Bukan hanya dari pihak elit politik dan juga aktor politik melainkan juga dari masyarakat. Yang tidak hanya mengedepankan kesamaan yang dimiliki melainkan mengedepankan kemampuan yang dimiliki untuk menghilangkan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Namun perlu di ketahui bahwa Indonesia bukan hanya memerlukan elit politik dan aktor politik yang kompatibel, Indonesia juga memerlukan masyarakat yang pandai cerdas dalam dunia politik dengan berpedoman aturan aturan dan mengedepankan gagasan demokrasi. Yang di maksudkan adalah masyarakat yang paham akan dunia politik yang paham akan apa yang dibutuhkan oleh negara ini dan yang paham akan pemimpin apa yang di butuhkan oleh negara ini. Oleh sebab itu masyarakat harus di bekali dengan pengetahuan politik yang luas,masyarakat harus membuka mata dan telinga pada dunia politik,dan jangan ragu untuk mengkritik karena politik identitas tidak baik bagi negara.

 Hak yang kita miliki sebagai rakyat adalah memilih pemimpin. Hal itu merupakan peluang bagi kita untuk menghentikan politik identitas yang akan terjadi. Sebagai rakyat kita dapat membawa perubahan dimasa yang akan datang dengan cara memilih pemimpin karna memiliki kualitas bukan kesamaan. Kita bisa membawa perubahan di masa mendatang dengan satu hak suara. Jangan berpikir satu suara tidak berpengaruh,satu suara membawa masa depan bagi Indonesia. Cukup keledai yang ingin masuk ke lubang yang sama,ingat pilpres tidak mencari pemuka agama atau menjari kepala suku pilpres menjadi pemimpin untuk rakyat Indonesia maka yang kita butuhkan adalah yang dapat membawa rakyat Indonesia sejahtera bukan untuk keseraaan tertentu.

 Semua kontestan pasti ingin menang, setiap peserta kompetisi pasti ingin juara di pesta demokrasi 5 tahunan nanti namun kerukunan dan persatuan bangsa jangan di korbankan hanya demi meraih kemenangan. Ada yang lebih penting dari memenangi kontestasi kebersamaan dalam keberagaman. Apa gunanya menang jika berujung perpecahan, apa gunanya berkuasa jika menimbulkan luka bagi sesama anak bangsa.*

Editor : M. Choirurrozaq
#universitas muhammadiyah malang (umm) #umm malang