Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Filosofi dan Hakikat Kurban

Anggi Septian A.P. • Kamis, 29 Juni 2023 | 23:32 WIB
PENULIS FILOSOFI DAN HAKIKAT KURBAN: Wawan Susetya.
PENULIS FILOSOFI DAN HAKIKAT KURBAN: Wawan Susetya.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?!

Ia (Ismail) menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Surah Ash Shaffaat ayat 102).

Bagaimana perasaan seorang ayah seperti yang dialami oleh Ibrahim a.syang disuruh oleh Allah Swt agar menyembelih anaknya (Ismail), anak satu-satunyasaat ituyang amat disayanginya? 

Dalam perspektif spiritual-religius, ternyata anak hanyalah merupakan amanah (titipan) dan ujian dari Allah; maka hanya Allah-lah yang harus dinomorsatukan (tauhid).

Ujian berat dari Allah, memang bersamaan dengan situasi riang gembiranya Ibrahim dengan kelahiran anaknya (Ismail) yang ditunggu-tunggu sejak lama. Wajar jika dalam kesehariannya, Ibrahim selalu menumpahkan perhatiannya kepada sang anak.

Dalam keadaan demikian, Allah memberikan wahyumelalui mimpi yang benar (ar-ruya)kepada Ibrahim agar menyembelih anak yang disayanginya, Ismail kecil.

Meski ujian dari Allah kepada Ibrahim amatlah berat, namun sang anak (Ismail a.s) ternyata malah menggembirakan sikap batin sang ayah dengan jawabannya: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. 

Keputusan Ismail a.s menjawab yang demikian, bukanlah jawaban biasa; sebab di dalamnya mengandung makna sabar yang tertinggi, yakni sabar untuk taat (cinta) kepada Allah. Sabar memang ada tiga, yakni;

  1. Pertama, sabar menghadapi musibah seperti sabarnya Ayyub a.s; 
  2. Kedua, sabar menolak maksiat seperti sabarnya Yusuf a.s; dan 
  3. Ketiga, sabar untuk taat (cinta) kepada Allah seperti sabarnya Ismail a.s. 

Ternyata, setelah keduanya (Ibrahim dan Ismail) benar-benar taat melaksanakan perintah Allahyakni Ibrahim menyembelih putranya, Ismail)kemudian Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar sebagai hewan korban. 

Secara kontekstual, ayat Allah di atas mengisyaratkan kepada kita agar menyembelih atau membunuh apa-apa yang kita milikibaik anak, harta benda, jabatan dan tahta, isteri yang cantik, dan segala atribut keduniaan lainnyauntuk dipersembahkan atau dipersembahkan kepada Allah. Artinya, apapun yang ada pada kita hendaknya diakhiratkan atau diarahkan ke jalan Allah. 

Lantas, bagaimana kita bisa mewujudkan filosofi korban yang begitu tinggi seperti itu, jika kitamisalnya berlimpah rizkikenyataannya merasa ogah-ogahan melaksanakan korbanentah kambing atau sapiuntuk persembahan dan ketaatan kepada Allah?! Ataujangan-janganseandainya toh mau berkorban di Hari Raya Idul Adha hanya ingin mendapat pujian dari orang lain saja?! 

Allah, dalam Asmaaul Husna, memang memiliki Asma As Shabur: yakni Allah Maha Sabar. Dan, dalam Asmaaul Husna As Shabur ditempatkan pada urutan ke-99 atau yang terakhir. Dalam konteks ini, sesungguhnya, Ismail adalah merupakan contoh figur kenabian yang meneladani Asma As Shabur dalam kehidupan sehari-hari.  

Maka, karena sabar itu memang berat untuk ditempuh, sehingga Allah juga menyatakan di dalam Al Quran bahwa orang-orang sabar bersama Allah (innallaha maash-shabirin). Sabar bukan identik dengan kepasrahan yang bersifat pasif, tetapi aktif; yakni dengan keyakinan di dalam hati yang mendalam kepada Rabbul Alamien. 

Dalam perspektif tasawuf, amalan sabar tersebut bisa membawa sang pelaku ke dalam maqam cinta kepada Allah. Abu Hasan as-Syadzili pernah menyatakan, Seorang penempuh di jalan Allah tidak bisa naik derajadnya manakala belum benar-benar mencintai Allah.

Dan, Allah tidak akan menerima cintanya selama ia belum bisa meninggalkan pengaruh dunia dan bayangan kenikmatan surga. Cinta Allah bergantung seberapa besar seseorang mengosongkan hatinya dari pengaruh dunia untuk mencintai-Nya.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#kurban #idul adha #ibrahim