Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pola Kepemimpinan Organisasi Karang Taruna

M. Choirurrozaq • Minggu, 2 Juli 2023 | 00:43 WIB

Penulis: Indah Shellychah Sukma, Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang
Penulis: Indah Shellychah Sukma, Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang
PEMIMPIN membedakan dirinya dari orang lain melalui kebiasaan, temperamen, karakter, dan kepribadiannya sendiri yang khusus dan khas. Kepemimpinan adalah kekuatan aspiratif, kekuatan semangat, dan kekuatan moral kreatif yang memiliki kemampuan untuk menginspirasi pengikut untuk mengubah sikap mereka agar selaras dengan tujuan dan sasaran pemimpin.

Tindakan memimpin dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas individu dalam suatu kelompok dikenal sebagai kepemimpinan. Sebagaimana diketahui bahwa Pemimpin harus selalu dapat memotivasi anggota organisasi untuk melakukan perbaikan - perbaikan mutu regenerasi. Tetapi tidak semua hal harus diberi perintah dan pengarahan, terkadang perintah hanya akan menimbulkan komunikasi secara satu arah, dan tindakan tersebut dapat mengurangi mutu kinerja anggota dalam sebuah organisasi. Maka mempertimbangkan pendapat anggota dan berdiskusi sangat penting perannya. 

Salah satu organisasi kepemudaan yang menerapkan kepemimpinan adalah organisasi Karang Taruna. Organisasi Karang Taruna berdasarkan Permensos RI tahun 2010 Pasal 1 Ayat 1 yaitu organisasi sosial masyarakat yang dijadikan sebagai wadah dan salah satu sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh serta berkembang atas dasar rasa tanggung jawab sosial yang berasal dari, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri terutama generasi muda. 

Menurut Franklyn (1951), ada tiga filosofi utama kepemimpinan: Kepemimpinan Otokratis/otoriter, Kepemimpinan Demokratis/partisipatif, dan Kepemimpinan Bebas Kendali/laissez-faire (Onong Effendy, 1993: 200).

Kepemimpinan otokratis adalah gaya manajemen yang secara konsisten memandang organisasi sebagai milik pribadi, angkuh, mengidentifikasi tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, memandang bawahan tidak lebih dari alat, terlalu bergantung pada otoritas formal, dan sering menggunakan metode pemaksaan dan hukuman saat bergerak. hal-hal bersama.

Kepemimpinan demokratis adalah gaya kepemimpinan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : memperlakukan bawahan dengan penuh hormat, senantiasa berusaha menyelaraskan kepentingan organisasi dengan tujuan dan kepentingan individu bawahannya, menerima saran, pendapat, bahkan kritik dari mereka, terus bekerja. untuk memastikan kesuksesan mereka, dan berusaha untuk tumbuh secara pribadi sebagai seorang pemimpin. 

Kepemimpinan Bebas atau Masa Bodo Gaya kepemimpinan otokratis adalah kebalikan dari kepemimpinan semacam ini. Pemimpin dalam gaya kepemimpinan ini biasanya menunjukkan perilaku pasif dan sering melalaikan tanggung jawab. Dengan kendali penuh, seorang pemimpin lebih mungkin mengambil posisi pendukung dan membiarkan bisnis berjalan dengan kecepatannya sendiri. Di sini, seorang pemimpin menunjukkan kepercayaan diri yang tidak terbatas dengan memberikan kelonggaran yang sebesar-besarnya kepada bawahannya dengan alasan bahwa dia percaya semua usahanya akan segera efektif.

Dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut diatas, yang paling banyak dijumpai didalam organisasi kepemudaan karang taruna adalah gaya demokratis. Konsep dasar gaya kepemimpinan demokratis adalah bahwa pemimpin harus memfasilitasi proses pengambilan keputusan, serta memastikan bahwa semua anggota organisasi memiliki kesempatan untuk berbicara dan terlibat dalam proses pembuatan keputusan.

Salah satunya pada saat kegiatan peringatan hari besar nasional, biasanya karang taruna akan melakukan berbagai macam kegiatan untuk memperingati hari besar tersebut. Pada kegiatan inilah ide-ide para anggota terkumpul, banyaknya pendapat membuat seorang pemimpin harus demokratis yaitu memberikan kesempatan untuk para anggota menyampaikan pendapat, dan memberikan keputusan dengan baik. 

Sesuai dengan fokus permasalahan yang dibahas, maka menggunakan pendekatan teoritis Struktural Fungsional. Talcott Parsons adalah salah satu tokoh teori Struktural Fungsional. Struktural Fungsional merupakan teori yang mengkaji tentang unsur-unsur yang ada di dalam masyarakat sesuai dengan sistemnya masing-masing. Strategi Talcott Parsons adalah menentukan kebutuhan fungsional mendasar untuk sistem tertentu. Skema AGIL terkenal untuk menganalisis persyaratan-persyaratan fungsional dalam semua sistem sosial yang dikembangkan. Keempat sistem sebagai berikut: 1. Adaptation (adaptasi), 2. Goal Attainment (pencapaian tujuan), 3. Integration, 4. Latency (latensi atau pemeliharaan).

Pertama Adaptation, seorang pemimpin memiliki tugas memfasilitasi proses pengambilan keputusan yang inklusif dan berpartisipasi, serta memastikan bahwa semua anggota organisasi memiliki kesempatan untuk berbicara dan terlibat dalam proses pembuatan keputusan. Disaat adanya banyak pendapat antar anggota maka disanalah seorang pemimpin memberikan keputusannya. 

Kedua Goal attainment, seorang pemimpin harus selalu dapat memotivasi anggota organisasi untuk memberikan motivasi kepada orang lain, agar anggota dapat melakukan hal yang baik dan memaksimalkan kemampuan dalam diri.

Ketiga Integration, pemimpin mampu mengintegrasikan antara anggota dengan pemimpin organisasi sehingga dapat menjaga hubungan menjadi satu kesatuan sistem, dengan demikian dapat mewujudkan tujuan organisasi. Diadakan rapat dengan berkumpul untuk membahas kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.

Keempat Latency, yakni sebuah sistem dapat berjalan sesuai pada fungsi strukturalnya menjadi tugas bersama dalam satu sistem organisasi untuk menjaga dan memelihara pola-pola yang sudah berjalan. Dengan berjalannya pola ini menjadi kunci dalam keberhasilan suatu organisasi. 

Melihat keterangan diatas dapat dijelaskan bahwa Organisasi Karang Taruna termasuk ke dalam Organisasi formal regional pemuda. Dalam hal ini penulis memahami materi melalui pelajaran mata kuliah Sosiologi Organisasi dengan Dosen Pengampu Bapak Drs.Sulismadi M.Si salah satu dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang.(*)

Penulis: Indah Shellychah Sukma, Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang.

Editor : M. Choirurrozaq
#universitas muhammadiyah malang (umm) #umm malang