Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Refleksi Kemerdekaan RI Ke-78: Cakrawala Mandala Nuswantara I, II Dan III

Intan Puspitasari • Senin, 7 Agustus 2023 | 20:15 WIB
Photo
Photo

Esai ini ditulis oleh: Wawan Susetya, Budayawan

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - SEBELUM Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, ternyata jauh sebelum itu sudah tokoh di Nuswantara ini yang berusaha mempersatukan Nuswantara atau disebut Cakrawala Mandala Nuswantara pertama. Tokoh tersebut yaitu Prabu Kertanagara, raja Singashari yang terakhir yang memiliki gagasan mempersatukan Nuswantara. Langkah pertama yang dilakukan oleh Prabu Kertanagara adalah melakukan Ekspedisi Pamalayu ke wilayah Sumatra terutama berusaha menaklukkan Kerajaan Darmasraya, kerajaan yang paling besar di sana. Benar! Setelah upaya penaklukan Kerajaan Darmasraya berhasil, maka kerajaan-kerajaan kecil di Sumatra lainnya dapat dengan mudah ditaklukkan.

Misi Prabu Kertanagara berikutnya menaklukkan kerajaan-kerajaan ke wilayah timur, yakni di wilayah Bali, NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur). Langkah itu pun dapat dilakukan dengan hasil yang gilang-gemilang oleh Prabu Kertanagara.

Selanjutnya Sang Prabu Kertanagara berkenan melanjutkan gagasan besarnya ke wilayah Sulawesi, Kalimantan dan sebagainya. Tetapi sayangnya ketika ribuan prajurit Singashari telah diberangkatkan ke wilayah pulau-pulau besar (Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya) pada tahun 1292, tak tahunya ada serangan mendadak yang dikomando oleh Prabu Jayakatwang, seorang adipati di Kerajaan Gelang-Gelang (sekarang di Madiun) yang masih di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri. Sementara Kerajaan Kediri saat itu pasca ditaklukkannya Sri Kertajaya (Raja Kediri) oleh Ken Arok (Raja Tumapel yang kemudian mendirikan Kerajaan Singhasari) berada di bawah kekuasaan Singhasari. Setelah itu pusat kekuasaan dipindahkan oleh Prabu Jayakatwang dari Singhasari ke Kediri.

Sebelum Kerajaan Singhasari tumbang, ada utusan Kaisar Kubilai Khan dari Kekaisaran Mongolia bernama Meng-khi yang menyampaikan surat dari Sang Kaisar (Kubilai Khan) kepada Prabu Kertanagara. Isi surat tersebut tak lain agar Kerajaan Singhasari tunduk-patuh pada kekuasaan Kaisar Kubilai Khan. Geram Sang Prabu Kertanagara, sehingga telinga si utusan (Meng-khi) dipangur (dipotong daun telinganya) hingga berdarah-darah. Dan, setelah itu si utusan Kaisar Kubilai Khan kembali ke Mongol.

Kerajaan Singhasari telah tumbang tahun 1292. Setahun setelah peristiwa itu, tahun 1293 ribuan pasukan tentara Tar-Tar Kaisar dari Mongol datang hendak menggempur Kerajaan Singhasari. Padahal Singhasari telah ambruk. Ndilalah ketika baru saja mendarat di pelabuhan di Surabaya, para tentara Tar-Tar tersebut bertemu dengan Raden Wijaya, menantu Prabu Kertanagara, yang saat itu menempati daerah Terik (sekarang Trowulan, Mojokerto). Maka, Raden Wijaya pun ingin membalas-dendam atas meninggalnya ayah mertuanya (Prabu Kertanagara), sehingga menggiring para tentara Mongol tadi ke Kerajaan Kediri. Serangan yang tak terduga-duga itu jelas mengakibatkan Kerajaan Kediri yang saat itu dipimpin Prabu Jayakatwang menjadi babak-belur. Kerajaan Kediri pun tumbang.

Atas masukan dari Dewi Gayatri (putri Prabu Kertanagara yang menjadi isteri Raden Wijaya), maka usai peperangan menaklukkan Kediri itu supaya Raden Wijaya menjamu dengan memberikan minuman toak yang memabukkan kepada para tentara Mongol. Tak ayal, setelah mereka (prajurit Mongol) sedang mabuk, mereka dapat ditumpas dengan mudah oleh pengikut Raden Wijaya. Setelah itu, pada tahun yang sama, yaitu tahun 1293 Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dengan kutharaja di daerah Trowulan Mojokerto.

Gagasan mempersatukan Nuswantara atau Cakrawala Mandala kedua diteruskan oleh Ratu Gayatri yang dijalankan oleh putrinya Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Pasca meninggalnya Prabu Jayanegara (raja kedua Majapahit) sebenarnya Ratu Gayatri memiliki kesempatan naik tahta menjadi Ratu Majapahit, tetapi kesempatan itu diberikan kepada putrinya Ratu Tribhuwana Tunggadewi, sedang Ratu Gayatri memilih menjadi seorang biksuni dengan tapa brata di Gua Pasir (Sumbergempol Tulungagung). Ketika Kerajaan Majapahit berada pada puncak kejayaan atau masa keemasan pada tahun 1350 (abad XIV), Ratu Gayatri wafat. Setelah itu Ratu Tribhuwana Tunggadewi pun memilih lengser keprabon karena menyadari bahwa posisinya hanyalah mewakili ibundanya (Ratu Gayatri). Tampuk kepemimpinan Majapahit berikutnya diberikan kepada Prabu Hayam Wuruk (putra Ratu Tribhuwana Tunggadewi) dengan didampingi Mahapatih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Pada kepemimpinan putra dan cucu Ratu Gayatri yaitu Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan Prabu Hayam Wuruk itulah Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan atau masa keemasan dengan menguasai seluruh wilayah Nuswantara sekarang ditambah dengan beberapa negara lainnya, seperti Malaysia, Filiphina, Singapura, Muangthai, Burma dan sebagainya.

Selanjutnya misi gagasan mempersatukan Nuswantara atau Cakrawala Mandala ketiga diwujudkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta dengan memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebelum kemerdekaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) itu diawali dengan berdirinya Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia, antara lain seperti:

Pertama, Budi Utomo, tanggal 20 Mei 1908 yang dipimpin dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo serta kawan-kawannya para mahasiswa STOVIA di Belanda. Budi Utomo ini merupakan tonggak awal kebangkitan nasional yang hingga sekarang tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Kedua, Sarekat Islam (SI) yang awalnya disebut organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan oleh Haji Samanhudi Solo tahun 1911 dengan tujuan melindungi para pengusaha lokal dari pengusaha non lokal yang monopoli perdagangan batik. SDI (Sarekat Dagang Islam) selanjutnya berubah menjadi SI (Sarekat Islam) pada tahun 1912 dengan ketua HOS Tjokroaminoto.

Ketiga, Indische Partij, berdiri tanggal 25 Desember 1912 dengan tokoh, antara lain Dr. EFE Douwes Dekker, RM Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara), dr. Tjipto Mangoenkoesoemo.

Keempat, Perhimpunan Indonesia, berdiri tahun 1908 yang didirikan oleh Sultan Kasayangan dan RM Noto, lalu pada tahun 1925 diganti Perhimpunan Indonesia dengan beberapa tokoh yang bergabung, seperti Mohammad Hatta, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan RM Suwardi Suryaningrat alias Ki Hadjar Dewantara.

Kelima, Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan bersama para anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda tanggal 9 Mei 1914.

Ketujuh, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipelopori oleh Ir. Soekarno tanggl 4 Juli 1927. Awalnya merupakan perkumpulan Algemeene Studie Club, lalu berubah menjadi PNI. Selain Ir. Soekarno, para tokoh yang bergabung ke PNI, antara lain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Ir. Anwari, Mr. Sartono, Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo, Mr. Sunaryo, Mr. Budiarto, dan Dr. Samsi dan sebagainya.

Kedelapan, Muhammadiyah, merupakan ormas (organisasi masyarakat) yang lahir tanggal 18 November 1912 di Desa Kauman Yogyakarta yang dipimpin KH. Ahmad Dahlan.

Kesembilan, Taman Siswa yang lahir tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki Hadjar Dewantara bersama kawan-kawannya di Paguyuban Sloso Kliwon. Organisasi Taman Siswa dibentuk sebagai aksi perlawanan terhadap sistem pendidikan Belanda yang diskriminatif. 

Kesepuluh, Nahdlatul Ulama (NU) yang lahirnya tanggal 31 Januari 1926 oleh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah lan sebagainya bersama para para ulama tradisionalis dengan paham Ahlus sunnah wal jama’ah.

Kesadaran para tokoh Nuswantara tersebut kemudian melahirkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang merupakan pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengadakan Kongres I dan II. []

Baca Juga: Jelang Upacara Kemerdekaan, 76 Paskibraka Kota Blitar Digembleng Fisik-Mental

Editor : Intan Puspitasari
#HUT RI 17 Agustus #kemerdekaan Indonesia ke 78 #budayawan tulungagung