Oleh: Wawan Susetya, Budayawan
SALAH SATU produk kebanggaan bangsa Indonesia yaitu kain batik yang merupakan kain khas Indonesia yang dibuat menggunakan canting dan memiliki keunikan motif hias yang berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia.
Wajar kiranya jika batik Indonesia tersebut diakui oleh UNESCO atau Educational Scientific and Cultural Organisaion yang merupakan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) secara resmi pada tanggal 2 Oktober 2009 sebagai Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Tak benda.
Sebelumnya, beberapa produk bangsa Indonesia yang membanggakan juga telah diakui oleh UNESCO. Kesenian wayang kulit telah ditetapkan sebagai karya Masterpiece of Oral and Intangible of Humanity (kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi serta warisan budaya yang indah dan berharga) oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. Selain itu UNESCO juga mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan dan warisan dunia di New York Amerika Serikat tanggal 25 November 2005, sehingga tanggal 25 November itu dicanangkan pula sebagai Hari Keris Indonesia.
Sebagaimana disebutkan dalam Website UNESCO http:/ich.unesco.org/en/lists ada 12 warisan budaya dari Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia, yakni wayang, keris, pendidikan pelatihan membatik, batik, angklung, Tari Saman, Noken Papua, tiga genre tari Bali (yakni Tari Wali, Bebali dan Balih-balihan), kapal pinisi, tradisi pencak silat, pantun dan gamelan. Semua produk andalan itu merupakan potensi dalam negeri yang benar-benar membanggakan bangsa Indonesia.
Dan yang terbaru ditetapkannya Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai salah satu warisan dunia dari Indonesia oleh UNESCO melalui Komite Warisan Dunia (World Heritage Committe) dalam sidang ke-45 di Riyadh, Arab Saudi, tanggal 18 September 2023 lalu. Dalam kesempatan itu dihadiri juga oleh Wakil Gubernur KHPAA Pakualam X.
Dari berbagai potensi produk Indonesia yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO PBB tersebut, maka para generasi muda sebagai bagian dari anak-anak bangsa diharapkan dapat melestarikan khasanah budaya Indonesia yang adiluhung dan jangan sampai punah. Bangsa Indonesia hendaknya merasa bangga dan bersyukur karena leluhur kita telah mewariskan batik yang merupakan warisan budaya Nusantara yang adiluhung. Dikatakan adiluhung karena batik memiliki nilai dan perpaduan seni yang tinggi dan sarat makna filosofis serta makna simbolis-nya. Sebagaimana kita ketahui bahwa batik menjadi bagian budaya Indonesia sejak zaman dahulu.
Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, sebab pada momentum itu batik Indonesia ditetapkan oleh UNESCO PBB sebagai warisan budaya dunia.
Batik berasal dari kata ambatik, yang artinya sebuah kain dengan banyak titik. Secara historis, batik berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad ke-17. Awalnya batik ditulis dan dilukis pada daun lontar (Kompas.com/18 Agustus 2022).
Awalnya, tradisi batik merupakan tradisi kraton terutama di Jawa. Dalam pada itu pakaian batik merupakan busana kraton yang elite, sehingga masyarakat umum sangat jarang yang mengenakannya. Tak mengherankan bila motif batik kraton begitu melekat pada busana batik pada masa awal. Namun seiring dengan perkembangan zaman, lambat-laun busana batik yang semula hanya dikenakan di lingkungan kraton saja itu kemudian melebar keluar lingkungan kraton. Bila motif batik di lingkungan kraton lebih menitik-beratkan pada motif binatang dan tanaman, tetapi setelah keluar dari lingkungan kraton makin bertambah jenis motif batik, misalnya motif abstrak seperti relief, candi, wayang beber dan sebagainya.
Perkembangan batik selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian hingga seni batik tulis seperti yang berkembang pada masa kini dengan harga yang sangat tinggi. Demikianlah adanya interaksi antara abdi dalem kraton dengan masyarakat umum di luar kraton akhirnya batik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bahkan, selain batik sudah menjadi industri dalam dunia perdagangan, pembuatan batik tersebut juga sudah menjadi mata pencaharian khususnya bagi kaum perempuan (ibu-ibu), bahkan ada yang untuk mengisi waktu luang mereka.
Hanya saja, dalam hal ini kiranya perlu diketahui mengenai jenis wastra atau kain tradisional Indonesia yang ada 4 jenis, yaitu kain batik, kain tenun ikat, kain songket dan kain tenun.
Pertama, kain batik merupakan kain khas Indonesia yang dibuat dengan menggunakan canting atau dikerjakan secara tradisional (manual) yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Kedua, kain tenun ikat terutama yang terkenal dari daerah Flores. Dan uniknya kain tenun ikat tersebut tiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing.
Ketiga, kain songket, terutama yang memiliki motif khas yang indah dengan perpaduan benang warna keemasan. Songket tersebut berasal dari daerah Palembang, Sumatra Selatan. Kain songket Palembang tersebut pada tahun 2013 juga sudah resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda melalui Kemendikbudristek. Dan, kain songket Palembang juga pernah ditampilkan dalam pagelaran busana bergengsi DC Fashion Week 2014 yang dibawakan desainer muslim Indonesia, Dian Pelangi..
Keempat, wastra atau kain tradisional atau kain tenun dari Endek asal Bali yang juga sudah menembus pasar dunia. Pada tahun 2021, perancang busana terkenal Christian Dior pernah memamerkan kain tenun Endek Bali tersebut pada peragaan busana Paris Fashion Week 2020 dan kemudia busana itu dikoleksi Spring dan Summer tahun 2021 (www.Indonesiabatik.id).
Sementara, batik yang merupakan warisan para leluhur bangsa kita atau disebut warisan budaya Nusantara itu bisa dibedakan beberapa jenis, yakni batik tulis, batik cap dan batik printing yang semuanya memiliki karakteristiknya masing-masing.
Dalam perkembangannya, batik terdapat dua model yaitu batik tradisional dan batik modern. Batik tradisional memiliki ciri-ciri antara lain memiliki corak dengan makna simbolik, corak batik terdapat variasi hias motif (ular, pagoda, geometris serta barong), warna batik cenderung gelap (coklat kehitaman, warna hitam) dan putih dan umumnya motif batik memiliki ciri khas daerah asalnya. Sementara ciri-ciri batik modern, yaitu corak pada batik tidak mengandung makna khusus, corak batik biasanya berbentuk seperti tumbuhan atau rangkaian bunga, dan warna batik cenderung bebas (biru, merah, ungu, dan lainnya). (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah