Oleh: Wawan Susetya, Budayawan
TANGGAL 5 Oktober 2023 kemarin merupakan hari lahir TNI (Tentara Nasional Indonesia), Hari Guru Sedunia, Hari Republik Portugal dan Hari Bersikap Baik Nasional (Detik.com, 6/10). Namun, dalam hal ini yang akan saya angkat hari lahir TNI dan Hari Guru Sedunia saja.
Hari lahir TNI (Tentara Nasional Indonesia) pada 5 Oktober dilatarbelakangi upaya menyelamatkan bangsa Indonesia dari ancaman penjajah Belanda. Awalnya bernama BKR (Badan Keamanan Rakyat) kemudian berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945. TKR tersebut berubah lagi menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) untuk memenuhi standar internasional dalam organisasi militer.
Dan selanjutnya pada tanggal 3 Juli 1947, pemerintah mengesahkan TNI sebagai upaya mempersatukan dua kekauatan bersenjata yaitu TRI sebagai tentara reguler dan badan-badan perjuangan rakyat.
Pada tahun 1945-1949 yang merupakan keadaan kritis Perang Kemerdekaan, TNI berhasil menjalankan fungsinya sebagai tentara rakyat, tentara revolusi dan tentara nasional.
Dalam perjalanannya, TNI tak lepas menghadapi banyak tantangan baik internal maupun eksternal dari pemberontakan PKI di Madiun hingga Agresi Militer Belanda. Bahkan sempat pula berubah namanya menjadi APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) pada akhir tahun 1949 di mana negara kita berubah menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat). Setelah berubah menjadi NKRI pada Agustus 1950, APRIS menjadi APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).
Selanjutnya pada periode 1950-1959, Indonesia yang menganut sistem pemerintahan demokrasi parlementer atau demokrasi liberal, maraknya campur tangan para politisi pada internal TNI hingga munculnya aksi pemberontakan yang akhirnya dapat ditumpas oleh TNI bersama komponen bangsa. TNI lalu bergabung dengan POLRI menjadi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) tahun 1962 dengan tujuan agar lebih efektif dan efisiean dalam menjalankan tugas. Namun pada akhir abad ke-20 ABRI berpisah dengan Polri.
Tema perayaan HUT ke-78 TNI dengan tiga komponen AD (Angkatan Darat), AL (Angkatan Laut) dan AU (Angkatan Udara) kemarin yaitu “TNI Patriot NKRI Pengawal Demokrasi untuk Indonesia Maju”. Dengan tema tersebut diharapkan pertahanan negara sangat solid, kuat dan setia dalam pengabdiannya kepada NKRI.
Sementara itu, tanggal 5 Oktober juga diperingati sebagai Hari Guru Sedunia atau World Teachers Day yang merupakan bentuk apresiasi masyarakat seluruh dunia kepada para guru atas jasanya dalam memajukan pendidikan.
Awalnya Hari Guru Sedunia tersebut diperingati pertama kali tahun 1994 yang diselenggarakan bersama Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan UNESCO, UNICEF dan Education International (EI). Dan, pada peringatan Hari Guru Sedunia ini, UNESCO mengusung tema “The teachers we need for the education we want: The global imperative to reverse the teacher shortage” artinya “Guru yang kita perlukan untuk pendidikan yang kita inginkan: Keharusan global untuk mengatasi kekurangan guru.”
Dalam konteks Hari Guru Sedunia ini, ada baiknya kita melihat cakrawala sistem pendidikan ke kancah internasional. Dan, salah satu sistem pendidikan yang paling baik di dunia yaitu di Finlandia. Padahal pada era tahun 1980-an, pendidikan di negara tersebut lebih buruk daripada sistem pendidikan di Indonesia. Namun demikian, seiring perjalanan waktu, ternyata pendidikan di Finlandia mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga menjadi terbaik di dunia. Bukan hanya melampaui sistem pendidikan di negara kita, bahkan Amerika dan negara-negara maju lainnya di dunia.
Hal itu jelas menunjukkan suatu keberhasilan reformasi di bidang pendidikan di Finlandia yang sangat pesat. Tak mengherankan pula bahwa keberadaan para siswa (murid) di Finlandia memiliki kemampuan literasi terbaik di dunia, sehingga memiliki tingkat harapan yang tinggi pula. Selain sistem pendidikan terbaik di dunia, Finlandia juga recommended (direkomendasikan) sebagai tempat tinggal paling layak di dunia. Ternyata faktor utama yang mendasarinya adalah mengenai kejujuran.
Tentu ada rahasianya di balik kemajuan dan progress perkembangan mengenai sistem pendidikan di Finlandia. Lalu, apa rahasianya?
Jangan kaget bahwa kemajuan pesat yang dicapai Finlandia tersebut karena sistem pendidikan di negara itu mengikuti ajaran sistem pendidikan (Sistem Among) tokoh Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, pendiri Pendidikan Taman Siswa yang pusatnya di Yogyakarta. Yakni bahwa Ki Hadjar Dewantara membangun para siswa (peserta didik) agar mampu mengembangkan daya cipta, rasa dan karsa-nya secara seimbang. Tak ayal, ketika utusan Indonesia melakukan studi banding (baca: belajar) ke Finlandia mengenai sistem pendidikan di sana, maka para pengelola pendidikan Finlandia justru merasa keheranan. Bukankah Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh pendidikan Indonesia? Padahal, Ki Hadjar Dewantara-lah yang telah menginspirasi kemajuan pesat di bidang pendidikan di Finlandia.
Boleh jadi hal itu sangat ironis. Pendidikan di Finlandia dikembangkan melalui pemikiran Sistem Among Ki Hadjar Dewantara melalui buku-buku maupun tulisan karya beliau. Sementara di Indonesia yang notabene sebagai tempat kelahiran dan tempat berkarya serta mengabdi Ki Hadjar Dewantara malah diabaikan. Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia yang setiap ganti menteri (Mendikbud) selalu ganti kebijakan, perubahan kurikulum, perubahan nama sekolah (misalnya SMP dan SLTP, SMA dan SLTA dan sebagainya) hingga mengubah papan nama sekolah dan kop surat, tetapi di Finlandia tidak demikian. Sebab, pendidikan di Finlandia bebas dari kepentingan politik, sementara pendidikan di Indonesia sudah tercemari oleh nuansa politik.
Dan, pemikiran fundamental Ki Hadjar Dewantara yang telah membawa kemajuan dunia pendidikan di Finlandia itu tak lain Sistem Among dengan semboyan: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani” (pemimpin yang berada di depan menjadi tauladan atau contoh yang baik, pemimpin yang berada di tengah memberikan gagasan atau ide yang baik dan pemimpin yang berada di belakang memberikan dorongan). Selain itu, sesuai dengan nama Pendidikan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara, maka kunci keberhasilan dalam dunia pendidikan yakni menjadikan sekolah atau belajar itu seperti berada di taman; artinya bagaimana hati, perasaan dan pikiran para siswa menjadi senang (seperti berada di taman) ketika sedang belajar.
Setidaknya ada 9 alasan mengapa sistem pendidikan di Finlandia menjadi terbaik di dunia (dari laman New Nordic School sebagaimana dikutip www.detik.com, 3/12/2021), yakni;
Pertama, Kesempatan yang sama. Tujuan utama sistem pendidikan di Finlandia adalah pendidikan universal yang berkualitas baik yang diberikan secara gratis, inklusif dan komprehensif kepada semua warga negara.
Kedua, Belajar dengan bermain, yakni diterapkan sebelum anak-anak memasuki sekolah. Pada masa itu membiarkan anak-anak menjadi anak-anak seutuhnya dengan berfokus pada permainan, kesehatan, dan kesejahteraan anak secara keseluruhan.
Ketiga, Pembelajaran personal. Dalam hal ini tidak ada sistem peringkat di Finlandia karena tidak ada ujian standar nasional. Pembelajarannya pun dilakukan secara personal agar setiap siswa dapat berdaya dengan kekuatan mereka masing-masing. Prinsipnya anak-anak dapat belajar apapun yang mereka inginkan dan setiap siswa benar-benar memegang kunci untuk membuka potensi mereka sendiri.
Keempat, Minimal dari Pengujian Standar. Di Finlandia minimal dari pengujian standar. Pembelajaran sisswa dinilai dari berbagai metode kualitatif yang fokusnya pad pengembangan keseluruhan siswa dan pembelajaran soft skill, daripada ketrampilan menghafal dan skor kuantitatif mereka.
Kelima, Jarang ada PR. Usia sekolah dimulai 7 tahun. Pada masa awal sekolah, PR (pekerjaan rumah) sangat jarang diberikan. Jam sekolah pun sangat pendek. Hal itu dimaksudkan agar para siswa dapat bermain dan belajar mengembangkan hobi di luar sekolah yang kelak dapat berpengaruh pad atingkat harapan hidup yang tinggi.
Keenam, Teknologi yang mendukung. Teknologi digital digunakan para siswa untuk belajar. Sebagian besar kurikulum nasional Finlandia yaitu pembelajaran yang fenomenal dan mengembangkan pengalaman belajar yang unik melalui pengajaran dan teknologi yang inovatif.
Ketujuh, Pembelajaran sepanjang hayat. Dalam hal ini, artinya bahwa warga negara dapat melanjutkan pendidikan di usia berapa pun, sebab sistem pendidikan di sana sangat fleksibel.
Kedelapan, Pembelajaran inklusif. Yakni bahwa siswa berkebutuhan khusus akan mendapat fasilitas yang memadai. Semua kebutuhan murid akan didukung tanpa memperhitungkan berapa banyak alat yang dibutuhkan.
Kesembilan, Guru otonom. Guru di Finlandia sangat terlatih melalui gelar master wajib. Guru diberikan kebebasan dengan merencanakan pengajaran dari berbagai jenis peserta didik.
Demikianlah keadaan sistem pendidikan di Finlandia sehingga menjadi terbaik di dunia yang ternyata kunci suksesnya mengadopsi dari pemikiran tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Sebenarnya hampir sama dengan penerapan di negara kita, hanya sebagian saja yang berbeda, misalnya mengenai penilaian.
Penerapan dan perubahan kurikulum di sekolah dari KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) tahun 2006 menjadi K-13 (Kurikulum 2013) hingga Kurikulum Merdeka Belajar tahun 2021 semoga mengarah pada perbaikan sistem pendidikan di negara kita, sehingga menjadi lebih baik. Kalau Finlandia yang jauh dari negara kita saja mampu mengadopsi warisan sistem pendidikan Ki Hadjar Dewantara, mengapa Indonesia ketinggalan?! Salah satu prinsipnya jangan jadikan dunia pendidikan sebagai ajang “kelinci percobaan” dan jangan masukkan ke ranah politik.
Selamat Hari Guru Sedunia tanggal 5 Oktober 2023, semoga predikat “guru tanpa tanda jasa” dan “pembangun insan cendekia” tetap melekat di dadamu! (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah