Oleh: Wawan Susetya, Budayawan
“RIGHT OR WRONG IS MY COUNTRY” adalah semboyan Raden Kumbakarna dalam membela negaranya, Ngalengkadiraja ketika diserang oleh barisan wanara (kera, monyet) anak buah Prabu Sugriwa (Raja Gua Kiskendha) yang membantu bendara-nya Sri Rama Wijaya. Bagaimana pun, tentu, Raden Kumbakarna sadar dan mengetahui bahwa kakaknya, Prabu Dasamuka alias Rahwana Raja telah melakukan kesalahan besar terhadap Sri Rama Wijaya. Yakni Prabu Dasamuka telah menculik Dewi Shinta isteri Sri Rama Wijaya. Itulah sebabnya Sri Rama Wijaya yang notabene titising Bathara Wisnu itu hendak merebut kembali isterinya Dewi Shinta melalui perang besar antara bala wanara (pasukan kera) dengan bala raksesa (barisan raksasa) prajurit Ngalengkadiraja.
Boleh jadi, bagi Sri Rama Wijaya (Raja Negara Pancawati) itu memerangi Prabu Dasamuka itu bukan semata-mata hendak merebut kembali isterinya Dewi Shinta semata. Tetapi yang utamanya bagi Sri Rama selaku titising Bathara Wisnu yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi yang identik dengan memayu hayuning bawana (melestarikan dan memakmurkan bumi). Bagaimana pun kejahatan di muka bumi harus dilenyapkan sebagaimana misi yang diemban oleh para satriya termasuk Sri Rama Wijaya yaitu menjalankan dharmaning satriya. Semboyan yang terkenal yaitu Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (keberanian dan kejahatan pasti akan hancur oleh kebenaran).
Dalam dunia pewayangan, Raden Kumbakarna merupakan salah satu dari tiga orang satriya yang disebut dalam Serat Tripama yang berjuang dan membela tanah air atau negaranya. Selain Raden Kumbakarna, dua ksatria lainnya yaitu Raden Basukarna alias Adhipati Karna dan Patih Suwanda (Patih Maespati) yang masa mudanya dikenal sebagai Raden Sumantri.
Raden Kumbakarna berjuang membela negara dan tanah klairan-nya yaitu Negara Ngalengkadiraja dari serangan musuh (Sri Rama Wijaya dan para prajuritnya), namun tidak dimaksudkan untuk membela kakaknya Prabu Dasamuka yang terkenal adigang-adigung-adiguna, bahkan kesohor pula angkara murka (kejahatan)-nya. Dalam hal ini, semboyan Raden Kumbakarna yaitu “right or wrong is my country”; benar atau salah adalah negaraku. Artinya, dalam hal ini Raden Kumbakarna tidak melihat benar-salah atau baik-buruk negaranya, namun karena negaranya diserang musuh, maka ia akan bangkit dan menghadapinya, meskipun resikonya ia tewas di medan peperangan.
Hampir sama dengan yang dialami Raden Kumbakarna, dalam hal ini Adhipati Basukarna berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Bagaimana tidak! Adhipati Ngawangga itu sadar betul dan mengetahui bahwa sekutu yang dibelanya, yaitu Prabu Duryudana beserta para Kurawa merupakan sosok antagonis yang serakah lagi angkara murka. Sementara yang akan dihadapi adalah para Pandhawa yang notabene adalah saudara se-ibu dengan Adhipati Basukarna. Adhipati Basukarna mengetahui bahwa pihak Pandhawa-lah yang berada dalam kebenaran. Meski begitu, Adhipati Karna mengetahui kalau sejatinya Prabu Duryudana dan saudara-saudaranya para Kurawa itu mempunyai sifat jirih (penakut). Artinya, seandainya Adhipati Basukarna tidak menyatakan siap mendukung dan membela Negara Ngastina, niscaya Prabu Duryudana dan para Kurawa wedi getih (takut) berhadapan dengan para Pandhawa. Sementara, Adhipati Basukarna diam-diam juga menginginkan berlangsungnya semboyan “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” seperti di atas. Maka, agar perang besar Bratayuda Jayabinangun antara Kurawa dan Pandhawa itu terjadi, satu-satunya jalan Adhipati Karna harus berada di pihak Kurawa dan membesarkan hati mereka agar berani berperang dengan Pandhawa. Dalam hal ini Adhipati Basukarna menyadari betul kalau dirinya akan menjadi “tumbal” dalam perang besar itu. Maka, jiwa Adhipati Karna ditandai dengan “becik tinutupan ala” (kebaikannya ditutupi dengan keburukan).
Kisah Raden Kumbakarna dan Adhipati Basukarna di atas berbeda dengan yang dilakukan Patih Suwanda (Patih Negara Maespati) dan mengabdi kepada Sri Harjuna Sasrabahu yang notabene titising Bathara Wisnu ketika menghadapi serangan Prabu Dasamuka, Raja Ngalengkadiraja. Dalam hal ini Patih Suwanda berada di pihak yang benar karena mengabdi kepada Sri Harjuna Sastrabahu dan membela negaranya yang benar pula meskipun nyawa menjadi taruhannya. Akhirnya Patih Suwanda pun gugur di medan laga menghadapi Prabu Dasamuka. Dan, selanjutnya Prabu Dasamuka dihajar habis-habisan oleh Sri Harjuna Sasrabahu.
Dari tiga kisah tokoh wayang di atas, yakni Raden Kumbakarna, Adhipati Basukarna dan Patih Suwanda, nampaknya kisah Patih Suwanda dalam membela negaranya lebih identik dengan perjuangan arek-arek Surabaya membela negara dan tanah air Indonesia yang dipimpin Bung Tomo dalam menghadapi serangan Inggris yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mallaby yang puncaknya terjadi tanggal 10 November yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Artinya, keberadaan arek-arek Surabaya dalam menghadapi serangan dari Inggris—yang notabene kepanjangan dari penjajah Belanda dan Sekutu—berada dalam posisi yang benar, yakni mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Terlebih semangat arek-arek Surabaya dan rakyat Jawa Timur waktu itu terpanggil untuk melaksanakan Revolusi Jihad yang dikeluarkan tanggal 22 Oktober 1945 oleh Hadratusy Syekh Kyai Hasyim Asy’ari, pendiri ormas terbesar NU (Nahdlatul Ulama).
Baca Juga: Refleksi HUT TNI Ke-78 Dan Renungan Hari Guru Sedunia
Maka, semboyan yang digunakan oleh arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara RI (Republik Indonesia) adalah “merdeka atau mati”. Bukan seperti semboyan Raden Kumbakarna “Right or wrong is my country”, bukan pula seperti semangat Adhipati Basukarna yang berusaha membangkitkan keberanian para Kurawa yang candhala dan dur angkara murka agar berani berperang menghadapi para Pandhawa. Begitulah, meski Prang Bratayuda Jayabinangun kemudian dimenangkan oleh para Pandhawa, namun Adhipati Basukarna akhirnya merelakan diri menjadi “tumbal” dalam perang saudara itu.
Hal itu mengisyaratkan semboyan “merdeka atau mati!” yang digelorakan dalam Revolusi Jihad ketika menghadapi serangan penjajah Inggris menempati posisi dan martabat yang tinggi.
Terima kasih kepada para pahlawan yang telah memberikan inspirasi kepada kita semua. Selamat Hari Pahlawan, semoga semangat perjuangan mereka selalu membara.” (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah