Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Esensi Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw

Wawan Susetya • Sabtu, 10 Februari 2024 | 17:53 WIB
Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung
Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung

            PASCA wafatnya dua orang yang sangat dicintai Nabi Muhammad Saw yakni istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib maka Allah Swt menghibur Rasul-Nya dengan memperjalankan di waktu malam hari yang disebut dengan Isra’ Mi’raj. Hal itu sebagaimana diinformasikan di dalam al-Qur’an bahwa Allah Swt berfirman: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Israa’ : 1).

            Ayat tersebut menginformasikan tentang Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw pada suatu malam pada tanggal 27 Rajab. Peristiwa Isra’ yakni perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha atau di Baitul Maqdis di Yerusalem di Palestina. Setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan Mi’raj, yakni dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha sehingga berjumpa dengan Allah Swt secara langsung untuk mendapatkan perintah shalat lima waktu.

Tentu saja peristiwa besar Isra’ Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 621 M atau pada tahun ke-10 tahun masa kenabian (Muhammad diangkat menjadi utusan Allah) sangat menghebohkan masyarakat Arab terutama masyarakat Makkah saat itu. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad Saw menempuh perjalanan yang sangat jauh dalam peristiwa Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah (Arab Saudi) sampai ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis di Yerusalem (Palestina) yang jaraknya sekitar 1500 km yang dapat dilakukan dalam semalam? Padahal jarak sejauh itu atau 1500 km untuk ukuran pada masa itu dengan perjalanan menggunakan kendaraan unta kira-kira membutuhkan waktu selama 40 hari. Belum lagi perjalanan atau peristiwa Mi’raj dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha atau yang sering disebut sebagai Langit ke-tujuh hingga berjumpa dengan Allah secara langsung untuk mendapatkan perintah shalat lima waktu bagi kaum muslimin.

            Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw tersebut tentu saja bukan merupakan peristiwa yang rasional maupun ir-rasional, tetapi trans-rasional karena melampaui dimensi ruang dan waktu. Itulah sebabnya peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan suatu mukjizat yang diberikan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw.

            Tidak mustahil pada waktu banyak di antara kamu muslimin yang menjadi ragu-ragu; benarkah apa yang disampaikan oleh Nabi Muhamma Saw mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj itu? Terlebih lagi bagi kaum kafirin Makkah, mereka semakin menertawakan dan mengolok-olok terhadap informasi yang dianggap hoax itu. Hal itu jelas berbeda dengan sikap kaum mukminin yang dipelopori oleh Abu Bakar Ash-Shidiq yang langsung mengimani terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Sebab, peristiwa Isra’ Mi’raj tidak tidak bisa diterima oleh logika manusia, melainkan oleh keimanan.

            Terhadap peristiwa Isra\ Mi’raj yang tujuan utamanya perintah melaksanakan ibadah shalat fardhu bagi kaum muslimin, selain itu juga mengenai informasi dari Allah Swt melalui ayat di atas bahwa antara Masjidil Haram di Makkah (Arab) ke Masjidil Aqsha di Yerusalem (Palestina) itu diberkahi sekelilingnya. Dengan diberkahi sekelilingnya daerah (negara-negara di kawasan Timur-Tengah), sehingga kemudian disebut “Tanah Suci”.

            Timur Tengah adalah jalur penghubung Timur dan Barat. Daerah ini terdapat wilayah Hijaz yang sangat strategis; yakni dari Yaman menuju ke Syam. Pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad Saw—yakni abad ke-5 dan ke-6 Masehi—terdapat dua adikuasa. Pertama, Persia yang masyarakatnya menyembah api dan ajaran Mazdak mengenai kebebasan seks. Kedua, Romawi (beragama Nasrani) yang memiliki pengaruh besar saat itu. Negara adikuasa itu bersitegang memperebutkan wilayah Hijaz di Timur Tengah yang ketika itu belum terkuasai. Termasuk kekerasan yang dilakukan oleh Abrahah bersama pasukan bergajahnya pada saat menyerang baitullah Ka’bah, ada tujuan lain yang hendak digapainya; yakni menguasai pusat sumber air zam-zam dan menguasai jalur Hijaz. Meski demikian, Allah Swt menggagalkan tujuan Abrahah.

            Selain sangat strategis wilayahnya, daerah Timur Tengah juga merupakan pusat dari segala ilmu di muka bumi. Sebab, di daerah (negara-negara Timur Tengah) tersebut Allah telah mengutus kebanyakan para utusan-Nya (para Nabi dan Rasul) agar menyampaikan risalah Ketuhanan kepada umat manusia. Di kawasan itulah, Allah Swt menurunkan empat kitab-Nya (Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an) kepada para Rasul pilihan-Nya yaitu kepada Nabi Musa a.s, Nabi Daud a.s, Nabi Isa a.s dan Nabi Muhammad Saw. Juga lembaran-lembaran (shuhuf-shuhuf)-Nya yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim serta para Rasul Allah lainnya.

            Patut menjadi renungan bagi kaum muslimin bahwa Allah Swt mengutus para Rasul/Nabi-Nya sesuai dengan karakter umatnya. Misalnya, pada masa Nabi Ibrahim, umat manusia pada saat itu lebih membangga-banggakan kekuatan dan kesaktiannya, sehingga Allah Swt mengutus Ibrahim a.s yang ketika dibakar oleh pasukan Raja Namrud tidak mempan. Itulah Nabi Ibrahim mematahkan kesombongan kaumnya. Berbeda pula dengan umat di zaman Nabi Musa a.s yang kebanyakan manusia saat itu lebih mengagung-agungkan kehebatan ilmu sihir atau ilmu hitam, sehingga Allah mematahkan kesombongan mereka dengan mengirimkan Nabi Musa a.s yang mempunyai mukzijat; tongkatnya dapat menjadi ular besar hingga mencaplok ular-ular “bikinan” tukang-tukang sihir. Sementara di zaman Nabi Isa a.s, kebanyakan umat manusia saat itu lebih mendewa-dewakan ilmu ketabiban (pengobatan), sehingga Allah mematahkan kesombongan mereka dengan mengutus Nabi Isa a.s yang dikaruniai mukjizat dapat menyembutkan orang sakit hingga dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati atas seizin Allah. Dan, puncaknya di zaman Nabi Muhammad Saw yang mayoritas masyarakat Arab saat itu lebih menggandrungi pada sastra sehingga sering berpuisi-ria. Maka Allah Swt pun mematahkan kesombongan kaum kafir Qurasy dengan mengutus Nabi pamungkasnya yaitu Muhammad Saw yang diturunkan kepadanya berupa kitab suci al-Qur’an yang sangat puitis dengan kandungan penuh hikmah dan makna.

            Mengapa Nabi Muhammad Saw dinyatakan nabi pamungkas atau nabi akhir zaman yang berarti tidak ada lagi nabi atau rasul sesudahnya? Sebab Nabi Muhammad diutus oleh Allah kepada suatu kaum jahiliyah Quraisy Arab yang pada saat itu merupakan puncak kejahatan (kejahiliyahan) yang bobrok moralnya, bahkan melebihi umat-umat sebelum dan sesudahnya. Dan, hal itu ditandai dengan tiga perkara, yakni;

Pertama, kaum kafir jahiliyah Quraisy Arab menyembah berhala secara terbuka atau terang-terangan, bahkan pernah mengadakan kontes mengadakan berhala untuk dijadikan sesembahan yang jumlahnya mencapai 365 buah.

Kedua, kaum kafir jahiliyah Quraisy Arab mengadakan suatu ritual (peribadatan) dengan pemujaan atau penyembahan kepada berhala di seputar Ka’bah Makkah bercampur antara laki-laki dan perempuan dengan telanjang bulat hingga terjadinya adegan kumpul kebo alias seks bebas.

Ketiga, kaum kafir jahiliyah Quraisy Arab memiliki kekejaman melebihi umat-umat sebelum dan sesudahnya, yakni menimbun hidup-hidup bayi-bayi perempuan mereka karena merasa kecewa atau gengsi memiliki anak perempuan, sehingga merasa harga diri mereka jatuh. Tindakan itu lebih kejam daripada yang dilakukan para tentara Raja Namrud (di zaman Nabi Ibrahim) dan yang dilakukan bala tentara Raja Fir’aun (di zaman Nabi Musa). yang membunuh setiap bayi laki-laki karena dikhawatirkan ada bayi laki-laki yang akan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Raja Namrud dan Raja Fir’aun.

            Tak berlebihan kiranya jika Allah mengutus Muhammad Saw sebagai Nabi terakhir yang berasal dari Timur Tengah yang berada di Makkah Arab—yang menurut para ilmuwan sebagai tengah-tengah, pusat atau porosnya dunia—antara Timur dan Barat. Pakar tafsir al-Qur’an, Quraish Shihab mengatakan, “Kalau Anda ingin menyampaikan pesan ke seluruh penjuru, sebaiknya Anda berdiri di tengah, di jalur yang memudahkan pesan itu tersebar. Hindari tempat di mana ada kekuatan yang dapat menghalangi atau merasa dirugikan. Kemudian pilih penyampai pesan yang simpatik, berwibawa, dan berkemampuan sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Timur Tengah adalah jalur penghubung Timur dan Barat, maka wajarlah jika ia menjadi tempat menyampaikan pesan Ilahi yang terakhir.” (M. Quraisy Shihab, Lentera; Kisah Dan Hikmah Kehidupan, 1997).

            Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al Qalam : 4).

Ia (Muhammad) adalah berasal dari kelurga Hasyim yang terkenal gagah, budiman, dan sangat beragama. Ia, Muhammad, bukan saja gagah, simpatik dan berwibawa, tapi juga memiliki budi pekerti yang agung. Tidak berlebihan kiranya jika ia menyandang empat sifat utamanya; fathonah (cerdas), amanah (bertanggung jawab), shidiq (jujur), dantabligh (menyampaikan).

Selain itu dipilihnya utusan Allah yang pamungkas (Nabi Muhammad) yang lahir di Makkah Arab, lantaran karakter masyarakat Makkah bersifat hitam-putih. Kalau mereka menerima syi’ar dakwah Nabi Muhammad berarti mereka beriman, sebaliknya kalau mereka menolaknya berarti kafir. Dengan demikian pada masa Nabi Muhammad melakukan syi’ar dakwah di Makkah selama 13 tahun, masyarakat Makkah saat itu tidak dikenal sifat munafiq; lahiriyah mengatakan beriman, namun hatinya tidak. Dengan demikian, keberadaan kaum muslimin menjadi murni dan tidak tercampur oleh kepercayaan lain.

Memang, ketika Muhammad diangkat sebagai rasul (utusan)-Nya ke muka bumi untuk menyampaikan risalah tauhid (menomorsatukan Allah), maka beramai-ramai orang-orang kafir (masyarakat Jahiliyah) menolaknya. Mereka tetap mempertahankan “agama” nenek moyang mereka: yakni menyembah berhala. Selain itu, orang-orang Timur-Tengah (Arab Saudi, Israel, Irak, Iran, Syiria, Yordania, Palestina, dan lain-lain) juga dikenal dengan keras kepala dan kasar. Maka, Allah Swt mengutus kebanyakan para Nabi dan Rasul-Nya ke kawasan Timur-Tengah itu untuk memperingatkan dan membimbing mereka ke jalan yang benar.

Maka, dalam peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw 1445 H ini seyogyanya kaum muslimin semakin meningkatkan kadar kualitasnya dalam menjalankan ibadah shalat lima waktu dalam sehari-semalam. Sayang seribu sayang masih ada orang yang mengaku makrifat kepada Allah Swt, tetapi dengan etengnya meninggalkan shalat lima waktu. Padahal Rasulullah Saw saja yang telah diangkat ke Sidratul Muntaha (langit ke-tujuh) hingga berjumpa dengan Allah Swt, namun setelah itu beliau kembali ke bumi (dunia) untuk menjadi teladan bagi kaum muslimin dalam menjalankan ibadah shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Editor : Dharaka R. Perdana
#isra dan mikraj #nabi muhammad #Isra Miraj