TULUNGAGUNG - Belum Lama Ini, Umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw pada 27 Rajab 1445 H atau tanggal 10 februari 2024.
Dalam hal ini, Allah Swt berfirman: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Israa’ : 1).
Ayat tersebut menginformasikan tentang Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw pada suatu malam.
Peristiwa Isra’ yakni perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina itu, kemudian diteruskan dengan perjalanan Mi’raj (dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha atau Langit ke-tujuh) dalam waktu semalam untuk mendapatkan perintah shalat lima waktu dari Allah Swt.
Dan, itu merupakan mukjizat dari Rasulullah Saw yang sangat dahsyat hingga tanda-tandanya masih bisa dirasakan oleh kaum muslimin sampai sekarang.
Prof. Achmad Baiquni MSc, PhD dalam bukunya Al Qur’an; Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi mengatakan, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw tersebut sesungguhnya merupakan salah satu mukjizat yang menantang IPTEK.
Kita sebagai muslim mengimani peristiwa besar yang disebutkan dalam al-Qur’an itu. Keimanan ini bagi bagi kita, yang hidup di zaman modern, bukan lagi sekedar merupakan kepercayaan melainkan suatu keyakinan yang diperkuat oleh penemuan sains yang mutakhir.
Dalam rangka penelitian fisika dan kosmologi, para ahli telah sampai pada suatu kesimpulan bahwa alam yang kita huni ini tercipta sekitar 15 milyar tahun yang lalu dari suatu titik singularitas fisis, dengan suhu yang “tak terhingga” tingginya dan kerapatan energi yang “tak terhingga” pula besarnya, laksana ledakan yang maha dahsyat.
Foto-foto dari Cosmic Background Explier (COBE) menguatkan keyakinan ini, pada saat itu ruang dan wkatu menjadi terbentang dan materi terhampar ke seluruh pelosok jagad raya.
Allah Swt berfirman dalam Surah Al Anbiya : 30: “Apakah orang-orang kafir itu tidak melihat bahwa langit (ruang alam) dan bumi (materi alam) itu semula padu; kemudian Kami pisahkan mereka itu.”
Demikianlah, apa yang difirmankan Allah sekitar 14 abad yang lalu menyatakan dengan tepat tentang kejadian alam semesta yang baru disadari oleh para ahli ilmuwan sekitar tahun 1960-an.
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw di atas bagaimana logika atau pikiran manusia bisa menjangkau perjalanan ribuan km dari Masjidil Haram di Makkah (Arab) ke Masjidil Aqsha di Yerusalem (Palestina) dalam Isra’ dan selanjutnya perjalanan Mi’raj dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha atau langit ke-tujuh dalam semalan?!
Jelas peristiwa itu bukan wilayah rasional maupun ir-rasional, tetapi barangkali lebih ke ranah trans-rasional.
Sebab logika dan otak manusia tidak dapat menjangkau bagaimana peristiwa dahsyat tersebut, tetapi hanya dapat diterima melalui keimanan kepada Allah Swt.
Dalam konteks ini, ilmuwan dan filosof Einstein memiliki rumus mengenai relativitas yang sangat terkenal yaitu E = MC2 yang dalam hal ini E = Energi, M = Materi dan C = Cahaya kwadrat.
Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun memformulakan Rumus Relativitas Einstein tersebut dikontekstualkan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad. Maka, terjadilah formula atau rumusan bahwa agar menjadi cahaya, maka materi (M) itu harus dienergikan atau digerakkan (E) sehingga menjadi cahaya (C).
Dalam “bahasa Agama”, yang dimaksud cahaya tersebut membawa keberkahan atau kebarokahan.
Dalam kaitan ini, M (materi) itu bisa aja saja, seperti badan, semua benda yang kita miliki, harta atau uang dan sebagainya. Jika badan kita tidak digerakkan atau tidak dipakai olah raga, niscaya akan menyebabkan daya tahan tubuh menjadi merosot atau melemah yang lama-kelamaan bisa menyebabkan sakit.
Demikian halnya dengan semua benda-benda yang kita miliki, seperti mobil dan sepeda motor jika dibiarkan tanpa pernah dipakai niscaya juga menyebabkan kerusakan.
Demikian halnya dengan uang atau harta, jika hanya disimpan di dalam almari saja niscaya nilainya akan menurun.
Hal itu berbeda, misalnya, jika harta atau uang kita tersebut lalu disimpan di bank (perbankan) atau isitilahnya “dienergikan”, sebut saja ke Bank BRI yang merupakan Bank Negara, niscaya harta atau uang tersebut akan menjadi berkah atau barokah.
Dengan kata lain menjadi cahaya, sebab harta atau uang kita tersebut lalu disalurkan untuk pemberdayaan masyarakat, seperti melalui program KUR BRI yang diperuntukkan kepada bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang hendak mengembangkan atau memajukan usahanya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra