KISAH Nabi Yusuf a.s di dalam Al Qur’an memang cukup istimewa, karena ia diceritakan dalam satu Surah Yusuf secara khusus. Bukan hanya soal kisah percintaan yang romantis antara Nabi Yusuf dengan Siti Zulaikha saja, tetapi juga mengenai kesabaran Sang Nabi putra Nabi Ya’kub a.s dan ihwal mengenai ilmu siyasah (ilmu politik).
Dan yang tak kalah pentingnya mengenai gelar Al Makinuun Amien Nabi Yusuf yang artinya orang yang kokoh atau ahli dalam hitung-hitungan lagi terpercaya. Itulah gelar yang dimiliki Nabi Yusuf sebagaimana disebutkan di dalam Surah Yusuf, yakni mengenai ilmu hitung-hitungan yang dalam dunia modern dikenal dengan Ilmu Akutansi dan perbankan.
Awalnya, Nabi Yusuf remaja diambil anak angkat oleh Zulaikha, isteri Qitfir al-Aziz, pembesar Mesir saat itu.
Maklum, keluarga pembesar negeri Mesir itu memang tidak memiliki seorang anak pun. Oleh karenanya, Siti Zulaikha sangat berkeinginan untuk mendapatkan seorang anak. Begitulah, sejak itu remaja Yusuf berada di lingkungan keluarga Qitfir yang mewah di Kerajaan Mesir.
Sebelumnya, putra Nabi Ya’kub a.s tersebut dicelakakan oleh saudara-saudaranya beda ibu yaitu Yahuda dan Rabil cs dengan dimasukkan ke dalam sumur tua selama tiga hari.
Sementara, Bunyamin, saudaranya beda ibu lagi tidak ikut-ikutan dalam aksi mencelakan saudaranya Yusuf karena ia sangat mencintainya. Dan, peristiwa itu kemudian dilaporkan oleh Yahuda dan Rabil cs kepada ayahandanya (Nabi Ya’kub) dengan berbohong bahwa Yusuf telah diterkam harimau ketika bermain di hutan.
Nabi Yusuf Digoda Zulaikha
Seperti diketahui bahwa pemuda Yusuf adalah seorang yang sangat tampan. Dengan ketampanan Sang Nabi itulah kemudian membuat Zulaikha ibu angkatnya berusaha menggodanya.
Itulah ujian berat yang dihadapi Nabi Yusuf yang diajak berhubungan secara tidak senonoh oleh Zulaikha yang berparas sangat cantik. Sebenarnya diam-diam dalam hati Yusuf merasa senang kepada Zulaikha, tetapi ia merasa takut kepada Allah Swt. Sebab hal itu tidak boleh dilakukan, karena Yusuf adalah seorang nabiyullah, sehingga dia sangat takut kepada Allah.
Karena Yusuf terus dipaksa untuk melayani gairah seks ibu angkatnya, maka Yusuf pun berlari dan hendak keluar dari rumah majikannya. Zulaikha terus mengejarnya. Dan, Yusuf pun terkejar, lalu Zulaikha memegang erat-erat baju Yusuf hingga sobek bagian belakangnya.
Dalam situasi seperti itu, jika Yusuf mau melayani ibu angkatnya, sebenarnya ada beberapa alasan yang sangat mendukung, yakni;
Pertama, Yusuf adalah orang asing di negeri Mesir, sehingga dia bisa tanpa beban melakukan perbuatan apapun, karena tidak diketahui oleh keluarga, sanak saudara, dan handai tolan.
Kedua, Siti Zulaikha adalah isteri Qitfir al Aziz pembesar negeri Mesir yang sebenarnya sangat berkuasa—namun lemah kejantanannya—sehingga tentu akan melindungi Yusuf jika terjadi apa-apa di negeri Mesir.
Ketiga, posisi Yusuf di dalam keluarga Qitfir itu adalah sebagai anak angkat, sehingga jika tidak mau menuruti keinginan ibu angkatnya, tentu akan mendapatkan perlakuan yang kurang baik, bahkan akan menerima hukuman penjara jika menolaknya.
Yusuf pada saat itu adalah seorang pemuda yang normal dan syahwatnya lebih kuat dari perempuan. Namun, akhirnya Yusuf lebih memilih untuk berlari dari hadapan ibu angkatnya. Ia lebih memilih keselamatan di sisi Allah Swt.
Padahal, sebenarnya secara umum atau lazimnya, pemuda—sebagaimana yang dialami Yusuf a.s—tentu tidak akan berhasil keluar dari jeratan Zulaikha karena kesempatan untuk keluar dari jeratan itu sangat sulit, sedang kemungkinan terjerumusnya sangat kuat (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Penawar Hati Yang Sakit, 2003).
Begitulah, meski pada akhirnya peristiwa itu diketahui oleh ayah angkatnya, Qitfir (isteri Siti Zulaikha), ternyata Zulaikha tetap menyudutkan dengan menyalahkan Yusuf. Mendapat serangan itu, Yusuf pun berusaha untuk mengelak dari tuduhan.
Maka perdebatan itu pun berlangsung dengan seru. Untunglah ada pertolongan Allah, yakni dengan kesaksian bayi kecil yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah: yakni dilihat dari sobeknya baju Yusuf di bagian belakang karena dikejar-kejar Zulaikha.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, kaum ibu—isteri pembesar di negeri Mesir—ramai menggunjingkan bahwa Zulaikha telah mencintai anak angkatnya, Yusuf. Karena saking santernya berita itu, hingga akhirnya terdengar pula oleh Zulaikha.
Maka, dia segera mengundang teman-teman dari kalangan ibu-ibu tadi ke rumah Zulaikha dan dihidangkan kepada mereka buah-buahan dengan pisau. Begitu mereka melihat Yusuf yang rupawan, maka secara tak sadar, kaum ibu-ibu tadi teriris tangan mereka ketika sedang mengupas buah-buahan.
Menurutnya, Yusuf bukanlah manusia melainkan malaikat yang mulia. Begitu melihat adegan itu, Zulaikha mendapat angin bahwa dia mencitai Yusuf tadi lantaran melihat kegantengan anak angkatnya itu.
Meski dari kesaksian itu diketahui bahwa Yusuf adalah seorang yang benar dan tidak bersalah, namun karena dia berhadapan penguasa Qiftir di Kerajaan Mesir, akhirnya Yusuf tetap dipersalahkan dan diganjar dengan hukuman penjara.
Selain itu penguasa Qitfir juga merasa khawatir, jangan-jangan pada suatu hari kelak Yusuf akan terpedaya oleh rayuan Zulaikha. Rupanya, keputusan itu menurut pandangan Yusuf lebih baik untuk diterimanya.
Sebab, bagi seorang nabi Allah seperti Yusuf, masuk penjara lebih baik daripada harus menuruti rayuan ibu angkatnya yang bisa mempengaruhi suasana hati lebih condong ke dalam kemaksiatan. Selain itu, Yusuf memang dikarunia akhlak yang tinggi oleh Allah, terbukti dalam menghadapi peristiwa itu, dia berusaha untuk menutupi aib sang ibu angkat.
Dan, sebagai konsekuensinya, Yusuf siap menghadapi anggapan dari lingkungan negeri Mesir tentang dirinya.
Tindakan Yusuf dalam menghindari Siti Zulaikha tersebut, sesungguhnya merupakan pengamalan sabar dalam menolak maksiat. Tingkatan sabar menolak maksiyat ini memang tergolong tinggi, karena terbukti memang sangat berat.
Betapa banyaknya orang-orang yang menjadi korban bahkan tak mampu berbuat apa-apa dari ujian sabar dalam hubungannya dengan maksiyat ini. Oleh karena itu, pahala sabar memang sangat tinggi di sisi Allah. Bagi mereka, Allah akan memberikan ganjaran surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Dan, itulah yang diisyaratkan-Nya: “innallaha ma as’shabiriin” (Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar).
Nabi Yusuf Menakwilkan Mimpi Raja
Lain cerita lagi ketika Yusuf berada di dalam penjara. Berawal bertemu dengan dua orang pegawai kerajaan; yang satu bagian minuman dan yang lain bagian makanan, maka Yusuf bisa ketemu dengan raja. Yakni, ketika Yusuf diminta untuk menakwilkan mimpi dua orang pegawai tadi, ternyata benar.
Sebelum bebas dari penjara, Yusuf berpesan kepada pegawai bagian minuman kerajaan itu agar memberitahukan ihwal dirinya di dalam penjara yang bisa menakwilkan mimpi.
Firasat Yusuf benar adanya.
Tidak lama setelah pegawai minuman kerajaan sudah bebas dan kembali bekerja, dia mendapati sang Raja Mesir itu bermimpi yang cukup aneh, bahkan hampir semua cerdik-pandai di negeri Mesir tidak ada yang bisa menakwilkan mimpi raja itu.
Dalam mimpi itu, raja melihat tujuh ekor lembu betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor lembu betina yang kurus-kurus dan juga melihat tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai yang kering.
Maka, pegawai minuman tadi segera menghampiri Yusuf di dalam penjara dan menanyakan takwil mimpi dari raja tadi.
Yusuf menakwilkan mimpi raja tadi dengan mengatakan: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur,” demikian kata Yusuf sebagaimana diabadikan di dalam Qur’an.
Setelah takwil mimpi tadi disampaikan kepada raja, ternyata sang raja malah menginginkan ketemu langsung dengan Yusuf. Sebab, meski peristiwa yang bakal terjadi sebagaimana disampaikan dalam takwil mimpi itu belum terjadi, namun ada keyakinan dalam hati sang raja bahwa penakwil mimpi tersebut jelas bukan orang sembarangan.
Maka, Raja Mesir tadi bermaksud memanggil Yusuf melalui pegawai minuman kerajaan tadi. Namun, atas permintaan raja, Yusuf tidak langsung memenuhinya sebelum dituntaskan terlebih dahulu status penahanan atas dirinya.
Mendengar pesan Yusuf seperti itu, raja pun merespon dengan baik, yakni dengan memanggil Zulaikha dan kaum ibu isteri pembesar Mesir yang dulu pernah teriris tangannya begitu melihat ketampanan Yusuf. Mereka semua menyatakan bahwa Yusuf adalah seorang yang benar.
Begitu pula dengan Zulaikha, dia pun mengakui bahwa dirinyalah yang salah dalam kasus Yusuf itu. Maka, sang Raja Mesir tadi memutuskan untuk membebaskan Yusuf dari penjara dengan membersihkan kembali namanya.
Akhirnya, Yusuf bebas dari penjara Mesir setelah dibersihkan namanya oleh sang raja. Begitu keluar dari penjara, Yusuf bertemu dengan raja untuk mendiskusikan berbagai masalah negeri Mesir sesuai dengan takwil mimpi yang disampaikan Yusuf. Sejak itu, Yusuf diangkat menjadi seorang yang berpangkat tinggi (bendahara) di negeri Mesir dan menjadi orang kepercayaan raja.
Dan, takwil mimpi Yusuf yang pernah disampaikan kepada Raja Mesir tadi memang benar-benar terjadi. Karena Yusuf sudah menjadi orang kepercayaan raja, maka secara teknis pembagian bahan makanan kepada seluruh rakyat Mesir dilakukan oleh putera Ya’qub itu dengan teliti. Dan, pada saat bertugas menangani masalah bahan makanan gandum itulah, Yusuf dipertemukan oleh Allah dengan saudara-saudaranya beda ibu Yahuda dan Rabil cs serta saudaranya lagi yaitu Bunyamin.
Dalam pada itu, Yusuf memerintahkan kepada para tentaranya supaya mengumumkan bila ada yang ketahuan membawa alat penakar gandum, maka dia akan dijadikan sebagai jaminan dengan ditahan di Negeri Mesir. Untungnya, mereka tidak ada yang mengenali bahwa yang menjadi pembesar di Mesir tadi adalah Yusuf, saudaranya. Sebaliknya, Yusuf masih mengenali secara persis bahwa mereka saudaranya. Dalam hati Yusuf betapa dia sangat rindu kepada saudaranya Bunyamin yang sangat disayanginya.
Maka, diam-diam tentara Mesir memasukkan alat penakar gandum ke karung milik Bunyamin. Maka sebagai konsekuensinya, karena di dalam karung Bunyamin terdapat alat penakar gandum, maka ia mendapatkan hukuman, yakni harus tinggal di negeri Mesir sebagai jaminan. Itulah ihwal ilmu siyasah (ilmu politik) yang hanya boleh dilakukan oleh pemimpin yang tergolong baik untuk menggapai tujuannya. Dan itulah kemesraan dan sentimentil yang dilakukan Yusuf kepada Bunyamin, saudaranya.
Nabi Yusuf Mendapat Gelar Al Makinuun Amien
Begitulah Nabi Yusuf sebagai Bendaharawan sekaligus orang kepercayaan Raja Mesir ternyata mampu menangani masalah kelangkaan bahan pangan pada musim paceklik di negeri Mesir selama 7 tahun serta menangani pembagian bahan pangan kepada rakyat Mesir ketika musim panen selama 7 tahun dengan baik, maka dia mendapatkan gelar Al Makinuun Amien (orang yang kokoh atau ahli dan terpercaya).
Gelar Al Makinuun Amien Nabi Yusuf a.s tersebut mengenai ilmu hitung-hitungan yang dalam dunia modern dikenal dengan Ilmu Akutansi dan perbankan. Dan, dengan ilmu mengenai hitung-hitungan (Akutansi dan perbankan) tersebut Nabi Yusuf akhirnya berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat Mesir secara keseluruhan.
Barangkali kalau dalam dunia modern sekarang ini, gelar Al Makinuun Amien tersebut identik, misalnya, dengan program KUR (Kredit Usaha Rakyat) melalui Bank BRI (Bank Rakyat Indonesia) guna mendongkrak dan mengembangkan usaha UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan usaha rakyat.
Dengan keberhasilan Nabi Yusuf yang gilang-gemilang dalam menyalurkan dan pembagian bahan pangan (gandum) kepada rakyat Mesir selama bertahun-tahun itu, akhirnya Raja Mesir mengangkat Yusuf sebagai Raja Mesir, penggantinya.
Pengangkatan Nabi Yusuf sebagai Raja Mesir tersebut tak lain karena jasa-jasanya yang luar biasa dalam menangani krisis pangan selama bertahun-tahun di Negeri Mesir.
Bahkan, Allah juga mengaruniakan kepada Yusuf dengan mempertemukan lagi dengan ayahnya (Nabi Ya’kub a.s) dan ibunya serta saudara-saudaranya.
Yusuf kemudian menaikkan ibu-bapanya ke atas singgasana dan duduk bersama Yusuf, sehingga saudara-saudaranya merebahkan diri seraya bersujud sebagai rasa penghormatan kepada Nabi Yusuf a.s. Mereka bertobat, maka Yusuf pun juga mengampuni dosa-dosa saudara-saudaranya itu.
Dan, betapa halus dan indahnya perkataan Yusuf kepada ayahnya begitu menyaksikan semua saudaranya itu memberikan penghormatan kepada dirinya: “Wahai ayahku inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa engkau dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia Kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Romantisme kisah Yusuf ditambah mesra lagi, setelah akhirnya Yusuf menikahi Siti Zulaikha yang pernah menjadi ibu angkatnya itu. Sebab, dalam hati Yusuf sebenarnya juga mencintai Zulaikha yang sangat cantik itu. Ternyata, Zulaikha masih dalam keadaan gadis, lantaran sang suami—Qitfir Al Azis—memang mengalami “sakit”. Dan, itulah karunia Allah yang amat besar kepada Yusuf a.s, seorang nabiyullah yang dikenal paling tampan dari seluruh umat manusia.
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra