Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengalaman Imam Alami Jatuh Bangun Jalani Usaha Bisnis Ikan Hias

Wawan Susetya • Minggu, 31 Maret 2024 | 21:00 WIB
WAWAN SUSETYA, BUDAYAWAN
WAWAN SUSETYA, BUDAYAWAN

AWAL menjalani usaha, Imam bergerak di bidang jasa tambal ban di daerah Beji, Kec. Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur. Dengan mengontrak rumah kecil pinggir jalan, ia dapat menjalani usaha kecilnya tambal ban. Waktu itu, ia bersama istrinya Ami, sudah memiliki seorang anak perempuan yang masih kecil.

“Terus-terang keadaan saya waktu itu benar-benar lara-lapa (penuh keprihatinan) karena sangat berat untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari. Karena itu, saya bermusyawarah dengan istri, saya atau dia yang pergi ke luar negeri untuk mencari nafkah. Dari musyawarah itu, akhirnya istri saya yang bertekad akan pergi ke Hongkong,” tutur Imam mengisahkan pahit-getirnya kehidupan kepada Radar Tulungagung belum lama ini.

Sesuai dengan kesepakatan itu, dengan uang pemberian orang tuanya, maka istrinya Imam yaitu Ami benar-benar pergi ke Hongkong untuk mengadu nasib. Seperti kebanyakan para TKW (tenaga kerja wanita) di Hongkong kebanyakan bekerja sebagai PRT (pembantu rumah tangga). Demikian halnya dengan Ami, ia pun bekerja sebagai PRT yang tugasnya merawat anak kecil.

Setelah ditinggal istrinya ke Hongkong, Imam selain bekerja sebagai tukang tambal ban, tentu saja juga merawat dan mengasuh anak semata wayangnya, Si Ersa. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, tak terasa Ersa sudah lulus SD (Sekolah Dasar) di SD Bono I Kec. Boyolangu, Tulungagung. Untungnya, setelah 6 tahun bekerja di Hongkong, pada tahun 2017, istrinya Ami mengirimkan uang sekitar Rp 50 juga. Uang tersebut lalu dibelikan sebidang tanah berukuran 10 ru di daerah Boyolangu.

Imam lalu membangun rumah tersebut dengan uang hasil usahanya ditambah kiriman dari istrinya dari Hongkong. Meski sederhana, rumah yang dibangun di atas tanah 10 ru itu akhirnya benar-benar jadi. Setelah itu, Imam menyekolahkan anaknya di SMPN 5 Tulungagung. Imam pun sudah tidak bekerja sebagai tambal ban lagi, tetapi bekerja serabutan, termasuk menjalani sebagai tukang ojek Grab dan jualan online.

Selang beberapa tahun berikutnya, istrinya Ami mengirim dana lagi Rp 50 juga yang dipakai untuk membeli tanah 10 ru lagi di sebelah timur rumahnya. Untungnya lahan tanah tersebut bergandengan dengan tanah sebelumnya. Lalu, Imam membangun kolam untuk usaha ikan hias seperti Foranda, Coy dan sebagainya.

“Saya mengajukan pinjaman KUR BRI Unit Boyolangu Rp 50 juga untuk menjalani ternak ikan hias itu,” tutur Imam mengisahkan.
Nampaknya, usaha ternak ikan hias yang dijalani Imam sedikit demi sedikit mengalami keberhasilan. Sekitar tahun 2020, sebelum masa pandemi Covid-19, istrinya Ami pulang dan langsung menempati rumah barunya di daerah Boyolangu. Dan, setahun lebih berada di rumah, ia melahirkan anak keduanya, Nahira. Maka, kesibukan istrinya merawat putrinya yang lucu lagi imut itu.

Pasca masa pandemi Covid-19 pada tahun 2020-2021, pada tahun berikutnya 2022 Imam mencoba melakukan bisnis ikan hias dengan bekerja sama dengan kolega bisnisnya Sony dan Wawan. Dengan modal pinjaman KUR BRI sebesar Rp 100 juta, Imam menerima ikan hias seperti Coy, Foranda dan sebagainya dari para tetangga dan relasinya, selanjutnya ia mengirimkan ke Yogyakarta, Bekasi hingga Jakarta. Kenyataannya, dalam menjalani bisnis ikan hias memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Di pasar ikan banyak para mafia-nya yang mereka itu mudah menerima kiriman ikan hias, tetapi sangat sulit waktu pembayarannya.

“Saya benar-benar merasakan bagaimana suka-duka dalam menjalankan bisnis ikan (hias) di kota besar seperti Yogyakarta, Bekasi, hingga Jakarta,” tutur Imam prihatin.
Meski mengalami jatuh-bangun dalam usaha bisnis ikan hias, namun Imam beserta koleganya Sony dan Wawan tak patah semangat. Mereka berusaha mencari “jalan keluar” mengenai mekanisme pasar yang banyak mafia-nya dan sangat sulit itu. Untungnya, karena Imam beserta dua orang sahabat kolega bisnisnya memiliki etos kerja dan semangat tinggi dalam bekerja, usaha mereka pun sedikit demi sedikit merangkak pelan.

“Alhamdulillah, pihak BRI selalu mendukung dan membantu dalam permodalan kami melalui program KUR BRI,” katanya bersemangat tinggi.

Seiring dengan perjalanan waktu, usaha yang dilakukan Imam bersama dua orang koleganya Sony dan Wawan mengalami kesuksesan. Dalam benaknya, memang begitulah dalam dunia usaha, yang namanya jatuh-bangun itu sudah biasa. Apalagi Imam memiliki kewajiban membiayai sekolah putri pertamanya yang sekarang sudah kelas 2 di SMKN I Tulungagung.

“Yang penting tetap bersemangat dan tidak pantang menyerah,” tandasnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#KUR BRI