Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IDUL FITRI: Momentum Literasi Keuangan Sejak Dini

Kema Ramtitra • Senin, 8 April 2024 | 00:14 WIB
*) Lukman Guru Besar FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
*) Lukman Guru Besar FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel ini ditulis oleh Lukman, Guru Besar FEB UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta


HARI kemenangan yang ditunggu-tunggu segera datang, setelah satu bulan lamanya umat muslim menahan diri dari lapar dan dahaga secara fisik.

Bahkan secara non fisik (mental) umat muslim juga menahan diri dari hawa “nafsu”, menahan dari amarah dan emosi, bahkan juga menahan diri dari sekedar perkataan-perkataan yang membawa permusuhan dan kebencian dengan sesama.

Hari kemenangan tersebut jatuh pada 1 Syawal 1445 Hijriah yang insyaAllah bertepatan dengan hari Rabu, 10 April 2024 yang menjadi momentum untuk tidak sekedar merayakan, tetapi dapat menjadi pelajaran dan pembelajaran untuk berperilaku ekonomi secara efektif dan efisien berdasar kaidah dan prinsip ekonomi syariah.

Pembelajaran berperilaku ekonomi yang dimaksud sungguh dapat dibiasakan sejak dini, karena dengan kebiasaan maka akan lahir sebuah budaya.

Dan niscaya, perilaku yang baik ketika sudah membudaya maka dapat membawa kemashlahatan baik secara personal maupun orang banyak.

Inilah hakekat dari prinsip ekonomi syariah, dimana Allah swt memberikan sepenuhnya alam seisinya ini untuk dikelola oleh manusia sesuai aturan (syariat) agar dapat memberikan mashlahat dan manfaat bagi kehidupan manusia.

Firman Allah swt: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Baqarah: 29).

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa tidak jarang dijumpai pembelajaran berperilaku ekonomi secara efektif dan efisien menurut kaidah dan prinsip ekonomi syariah ini baru terlaksana di usia remaja, dewasa, dan bahkan tidak sama sekali. Perilaku ekonomi yang dimaksud dalam konteks yang paling sederhana dapat diimplementasikan pada literasi keuangan.

Literasi keuangan adalah bagaimana kita dapat mengelola keuangan sesuai kebutuhan, yang dalam materi Metodologi Hukum Islam dalam Perencanaan Keuangan Syariah oleh IARFC Indonesia disebut dengan Fiqh Prioritas.

Fiqh prioritas merupakan pemahaman yang komprehensif akan segala hal yang berkenaan dengan hukum, nilai dan amalan agama serta menempatkannya dalam tingkatan yang adil dan fair dengan mendahulukan yang lebih penting (ahamm) daripada yang penting (muhimm), yang lebih utama (afdhal) di atas yang utama (fadhil), primer (dharuriyyat) di atas sekunder (hujjiyyat) dan lain sebagainya.
Contoh kasus hipotetis ketika literasi keuangan dapat diberikan sejak dini.

Pada saat anak memperoleh sejumlah dana (disebut juga dengan pendapatan) dari orang tua, maka pendapatan tersebut lazimnya dibagi untuk beberapa kebutuhan yaitu: disimpan (ditabung), membeli jajan dan membantu teman.

Secara lebih terperinci, dana atau uang bagi seorang anak dapat bersumber dari: orang tua (uang bulanan), tambahan uang karena dapat menyelesaikan tugas dari orang tua, hadiah dari orang tua atas prestasi, kreativitas personal seperti membuat suatu karya dan dijual ke teman sehingga memperoleh pendapatan.

Berdasar perolehan dana tersebut kemudian dilakukan pencatatan tentang pemasukan di bulan tertentu, berapa target tabungan bulan ini, apa yang dibeli bulan ini, berapa sumbangan untuk membantu teman-teman yang membutuhkan atau untuk infaq di masjid. Aktivitas pencatatan ini sekaligus menjadi pembelajaran untuk berhemat.

Misalnya ingin berbenja 1 set alat menggambar dengan harga Rp 100 ribu, sedangkan uang saku per hari Rp 10 ribu, maka harus berhitung berapa yang ditabung untuk membeli alat gambar, dan berapa yang digunakan untuk kebutuhan lainnya serta kapan target alat gambar tersebut dapat terbeli.

Selanjutnya perlu dilihat kembali dan melakukan quality control apakah penggunaan keuangan sudah sesuai dengan rencana dengan melihat kembali catatan di buku perencanaan.

Dari sebagian uang yang dimiliki jangan lupa untuk berdonasi dengan melakukan infaq di masjid, membantu tetangga yang membutuhkan dan membantu saudara-saudara yang terkena bencana atau musibah.

Contoh konkrit lagi pada saat idul fitri dimana anak-anak memperoleh pendapatan dari orang tua dan handai taulan lainnya dalam bentuk “sangu lebaran” atau “sangu bodo”.

Kebiasaan ini sangat positif tentunya bagi seorang anak dan sudah membudaya baik di Jawa maupun di Jambi (Kabupaten Merangin, Jambi). Pendapatan ini bagi anak yang belum dibekali dengan literasi kauangan digunakan untuk (misalnya): membeli game, Play Station, hand phone, baju, sepatu, jajan dan lain sebagainya yang merupakan ciri perilaku atau sikap konsumtif pada anak. Bukannya tidak diperkenankan, namun sebagai orang tua sudah barang tentu akan memberikan edukasi positif dalam kaitannya dengan manajemen keuangan personal bahkan direkomendasikan untuk mengurangi perilaku konsumtif sebagaimana Firman Allah swt:

۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.

Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS. Al-A’raf: 31).
Selamat menyongsong hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.

*) Lukman
Guru Besar FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#idul fitri