Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menjalin Relasi Seni Budaya Bersama Ngesthi Laras

Wawan Susetya • Kamis, 18 April 2024 | 23:19 WIB
Retno Harusmiarsi, menjalin baik dengan semua relasi seni-budaya
Retno Harusmiarsi, menjalin baik dengan semua relasi seni-budaya

TULUNGAGUNG - Menjadi bendahara sebuah paguyuban kesenian "Sasana Budaya Ngesthi Laras" di Desa Tanggung, Kec. Campurdarat, Tulungagung Jawa Timur, Retno Harusmiarsi Harus tentu berhubungan dengan beragam relasi, baik instansi pemerintah maupun swasta, bahkan juga komunitas seni lainnya dan perorangan.

Itulah sebabnya Retno Harusmiarsi dituntut untuk supel dalam menyambung hubungan baik dengan berbagai relasinya tersebut terutama mengenai hidup-mati dan tumbuh-kembangnya kehidupan seni budaya itu sendiri. Dan, Retno Harusmiarsi sendiri selain sebagai bendahara, juga merangkap menjadi pesindhen atau waranggana.

Sanggar seni atau Paguyuban "Sasana Budaya Ngesthi Laras" sendiri diketuai Ki Handaka, suami Retno Harus. Dulunya paguyuban tersebut berdiri sekitar tahun 1970-an yang diasuh oleh alm. Ki Sudjinal, mantan Kepala Kakandikbud Cam Pakel Tulungagung.

Sejak awal 'Sasana Budaya Ngesthi Laras" memfasilitasi berbagai macam seni, seperti krawitan, pedhalangan wayang kulit, tari-tarian, macapat, hingga sarasehan seni-budaya dan penulisan khasanah budaya.

Pada tahun 2017, 'Sasana Budaya Ngesthi Laras" mendapatkan bantuan fasilitasi kebudayaan dari Kemendikbud sebesar Rp 100 juta dan tahun 2019 mendapatkan dana hibah dari Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa Rp 400 juta yang dipergunakan membeli seperangkat alat gamelan, wayang kulit, terop, sound system dan sebagainya.
Dalam hubungannya dengan berbagai instansi pemerintah, selama ini "Sasana Budaya Ngesthi Laras" telah menjalin hubungan dengan baik, antara lain dengan Dinas Pendidikan Kab. Tulungagung, Disbudpar Kab. Tulungagung, Disbudpar Propinsi Jawa Timur dan sebagainya. Dan, sebagai bentuk hubungan kerja sama tersebut, misalnya 'Sasana Budaya Ngesthi Laras" pernah dipentaskan di Balai Rakyat Tulungagung beberapa tahun lalu. Demikian halnya dengan Dinas Pendidikan Kab. Tulungagung dan Disbudpar Kab. Tulungagung yang beberapa memfasilitasi tampil.

Selain itu BARANUSA (Barisan Adat Raja Sultan Nusantara) Tulungagung dan Pasendam Majan (Kedungwaru) juga telah beberapa kali menampilkan krawitan "Sasana Budaya Ngesthi Laras" baik di GOR Lembu Peteng, Balai Budaya Tulungagung dan di Majan. Selain itu hampir rutin tiap bulan "Sasana Budaya Ngesthi Laras" juga difasilitasi tampil di Lotu's Garden Ketanon, Kedungwaru, Tulungagung baik untuk mengisi acara Sarasehan ForSabda maupun mengiringi pementasan kethoprak dan wayang orang. Kegiatan seni-budaya di Lotu's Garden tersebut diwadahi forum BunDar (mBulan nDadari) yang diasuh Bapak H. Laksda (purn) Harry Yuwono selaku owner Lotu's Garden sekaligus maestro seni-budaya Tulungagung.

"Sasana Budaya Ngesthi Laras" mengadakan latihan rutin setiap Sabtu siang dan malam Minggu. Ada beberapa komunitas yang bergabung latihan krawitan, misalnya Paguyuban SUMBUD (Sumbaga Budaya) dan anak-anak SD Tanggung I dan IV dan SMP Ponpes Jawahirul Hikmah Besuki. Para siswa SD dan SMP tersebut giat latihan terutama menjelang akan mengikuti lomba krawitan tingkat Kecamatan maupun Kabupaten Tulungagung atau persiapan wisuda dan sebagainya.

Dalam kapasitasnya sebagai bendahara di "Sasana Budaya Ngesthi Laras", dalam hal ini Retno Harusmiarsi Harus lebih memilih menggunakan Bank BRI sebagai alat transaksi dengan berbagai relasinya tadi.

"Karena tidak semua relasi kesenian memberikan uang cash, sehingga saya harus menyediakan fasilitas nomor rekening BRI kepada mereka yang hendak memberikan jasa kepada kami," ujar Retno Harusmiarsi kepada Radar Tulungagung belum lama ini.

Dengan menggunakan fasilitas ATM BRI-nya, Retno Harusmiarsi kemudian mendistribusikannya kepada para niyaga dan waranggana sebagai 'uang lelah' atau transpot keesokan harinya ketika habis manggung.
Meskipun merasa lelah atau capek dalam mengelola paguyuban kesenian, tetapi Retno Harusmiarsi memiliki tekad yang besar terutama karena misi melestarikan khasanah seni-budaya yang adiluhung. Sekaligus ia memiliki prinsip sebagaimana yang diwariskan leluhur Jawa yaitu meneruskan misi "Memayu Hayuning Bawana".

Maklum, ayahanda Retno Harusmiarsi sendiri adalah seorang mantan guru dan sekaligus dhalang yaitu Ki Sukardjo dan mertuanya alm. Ki Sudjinal yang juga seorang budayawan.

Itulah sebabnya putri semata wayangnya Niken Larasingtyas juga diarahkan berkesenian krawitan dengan yang menabuh bonang dan peking kesenangannya, selain ia juga sedang kuliah pasca Sarjana jurusan Ilmu Al Qur'an dan Tafsir (IAT) di UIN SATU Tulungagung.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra