Oleh: Rika Yuli Wulansari (Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah Pascasarajana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika yang kompleks namun positif. Pada tahun 2023, ekonomi Indonesia tumbuh mencapai 5.35%, meskipun menghadapi berbagai tantangan global seperti pandemi COVID-19 yang berkelanjutan dan ketidakpastian geopolitik.
Konsumsi domestik tetap menjadi pilar utama pertumbuhan, didorong oleh peningkatan daya beli masyarakat dan program stimulus pemerintah.
Selain itu, sektor ekspor juga mengalami peningkatan berkat pemulihan ekonomi global dan naiknya permintaan komoditas utama Indonesia seperti batu bara dan minyak kelapa sawit.
Sektor-sektor baru seperti teknologi, e-commerce, dan ekonomi digital menunjukkan pertumbuhan yang pesat, mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap teknologi digital.
Pemerintah telah berupaya untuk mendiversifikasi ekonomi dengan mendorong investasi di sektor-sektor non-tradisional dan memperkuat infrastruktur digital.
Inisiatif seperti pengembangan kawasan industri dan percepatan pembangunan infrastruktur dasar, termasuk jalan tol, pelabuhan, dan bandara, bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan efisiensi logistik, yang pada akhirnya akan memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Namun, tantangan signifikan tetap ada, termasuk tingginya ketimpangan ekonomi, tingkat pengangguran yang masih perlu ditekan, dan risiko dari fluktuasi harga komoditas.
Selain itu, perubahan iklim dan bencana alam juga menjadi ancaman yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi.
Untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, pemerintah perlu terus memperkuat kebijakan fiskal dan moneter, mendorong investasi asing, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia dapat berharap untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Selain faktor diatas, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi seperti halnya tingginya tingkat penganguran di Indonesia yang memiliki dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasi permasalahan pengangguran agar tidak mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi seperti halnya meningkatkan akses dan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan vokasional dan pelatihan keterampilan, meningkatkan investasi dalam infrastruktur guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi secara keseluruhan, serta pengembangan UMKM yang merupakan tonggak perekonomian Indonesia dalam menyerap tenaga kerja.
Dengan fokus pada strategi-strategi ini, Indonesia dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, mengurangi tingkat pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Di sisi lain permasalahan terkait kemiskinan juga menjadi isu penting dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi karena memberikan dampak negatif terhadap laju pertumbuhan ekonomi, sehingga pemerintah diharuskan untuk terus melalukan langkah strategis seperti halnya memperkuat dan memperluas program bantuan sosial yang tepat sasaran, meningkatkan akses dan kualitas pendidikan khususnya di daerah-daerah terpencil, Selain itu, akses yang lebih baik ke layanan kesehatan dasar dan pencegahan penyakit akan meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas masyarakat miskin, memungkinkan mereka untuk lebih berkontribusi terhadap perekonomian.
Serta pengembangan infrastruktur pedesaan dan sektor pertanian. Melalui implementasi strategi-strategi ini, Indonesia dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup warga miskin tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Permasalahan lain yang menjadi perhatian pemerintah selain pengangguran dan kemiskinan yaitu permasalahan inflasi. Inflasi terjadi akibat dari ketidakseimbangan antara arus barang dan uang sehingga akan berdampak pada masyarakat. untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui pengendalian inflasi dapat dilakukan dengan kebijakan moneter yang stabil sehingga BI harus senantiasa memantau dan menyesuaikan kebijakan suku bunga untuk menjaga inflasi dalam batas yang wajar, meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian mengingat bahwa harga pangan sering menjadi kontributor utama inflasi di Indonesia, serta pengelolaan pasokam dan distribusi yang efisien.
Dengan menerapkan strategi-strategi ini, Indonesia dapat menjaga inflasi pada tingkat yang terkendali, yang pada gilirannya akan menciptakan kondisi ekonomi yang stabil dan kondusif untuk pertumbuhan. Stabilitas harga akan memberikan kepastian bagi dunia usaha, mendorong investasi, dan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Disamping itu semua, Indonesia sebagai negara muslim memiliki potensi yang kuat dalam penyaluran zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Penyaluran ZIS ini menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia jika dikelola dengan baik.
Adapun strategi yang dapat diterapkan adalah lembaga pengelola zakat harus dioperasikan secara profesional dan transparan serta memastikan bahwa dana yang terkumpul dari zakat, infak, dan sedekah dikelola dengan baik dan tepat sasaran, zakat, infak, dan sedekah tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin.
Program-program pemberdayaan seperti pelatihan keterampilan, pemberian modal usaha, dan pendampingan bisnis dapat membantu mustahik (penerima zakat) untuk menjadi mandiri secara ekonomi, dana ZIS dapat diinvestasikan dalam proyek-proyek sosial dan pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Misalnya, pembangunan sekolah, klinik kesehatan, pusat pelatihan keterampilan, dan infrastruktur dasar di daerah-daerah terpencil dapat menggunakan dana ZIS.
Dengan strategi-strategi ini, penyaluran zakat, infak, dan sedekah dapat berfungsi sebagai instrumen yang kuat untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan sosial, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui pengelolaan yang efektif dan pemberdayaan masyarakat, ZIS dapat menjadi pendorong utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra