Oleh: Yuni Rinawati (Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
PERTUMBUHAN ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan merupakan tujuan utama dari pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan di banyak negara. Hal ini karena dengan pertambahan jumlah penduduk disetiap tahunnya, maka dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari-sehari juga akan bertambah dan dibutuhkan adanya penambahan pendapatan di setiap tahunnya.
Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan adanya kesempatan kerja atau berkurangnya pengangguran akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian pendapatan.
Pertumbuhan ekonomi menjadi syarat penting bagi terwujudnya pertumbuhan infklusif. Pertumbuhan ekonomi inklusif dapat dikatakan sebagai ukuran apakah pertumbuhan ekonomi dapat menjamin keseteraan akses terhadap peluang ekonomi bagi semua segmen sosial tanpa melihat keadaan masing-masing individu.
Terbentuknya konsep pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan merupakan wujud dari pembangunan ekonomi yang saat ini tidak cukup apabila hanya sebatas pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Konsep ini didukung oleh banyak negara di dunia yang telah mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat pendapatan masyarakat yang tinggi, dan perubahan struktur ekonomi yang pesat namun banyak negara yang masih bergelut dengan kemiskinan bahkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang semakin melebar.
Oleh karena itu, sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai masyarakat maju dan sejahtera yang dibentuk dari peningkatan pertumbuhan ekonomi namun diiringi dengan kualitas pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi di Indonesia cenderung mengalami fluktuatif, berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi banyak tantangan dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, mulai dari krisis moneter pada pertengahan 1997, adanya ketidakpastian global pada tahun 2019 serta adanya covid-19 pada tahun 2020 yang di mana pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi sempat berada di angka negatif.
Meskipun demikian pemerintah Indonesia terus mengupayakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui beberapa faktor di antaranya yaitu melalui upaya menurunkan angka pengangguran, investasi yang terdiri atas foreign direct investment serta domestic direct investment, serta Zakat Infak Sedekah (ZIS) yang juga ikut andil dalam mengupayakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Foreign direct investment serta domestic direct investment, akan menambah stok modal dan meningkatkan produktivitas sehingga membutuhkan faktor produksi yaitu tenaga kerja artinya pengangguran berkurang dan pada akhirnya masyarakat mampu menerima pendapatan sehingga pertumbuhan ekonomi mampu meningkat.
Selanjutnya Zakat Infak Sedekah (ZIS) sebagaimana perannya yaitu mengurangi ketimpangan yang terjadi pada masyarakat.
Zakat Infak Sedekah (ZIS) yang disalurkan dalam bentuk konsumtif akan meningkatkan pendapatan mustahik, daya beli meningkat, maka kebutuhan akan suatu produk juga meningkat artinya perusahaan akan manambah produksi dengan menambah tenga kerja sehingga pengangguran berkurang.
Selain itu Zakat Infak Sedekah (ZIS) yang disalurkan dalam bentuk produktif akan menciptakan lapangan kerja baru sehingga pengangguran berkurang artinya pertumbuhan ekonomi akan dapat terwujud.
Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan agar pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berklanjutan di Indonesia dapat terwujud.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra