Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Raih Juara III Lomba Esai Literasi Demokrasi, Begini Karya Reva Rosa Linda

Luqman Hakim • Selasa, 4 Juni 2024 | 17:00 WIB

HEBAT: Reva Rosa Linda, meraih juara III Lomba Esai Literasi Demokrasi KPU Kabupaten Trenggalek. Dia siswa di SMAN 1 Durenan.
HEBAT: Reva Rosa Linda, meraih juara III Lomba Esai Literasi Demokrasi KPU Kabupaten Trenggalek. Dia siswa di SMAN 1 Durenan.
 

INOVASI GERAKAN DESA ANTI-POLITIK UANG

Oleh: Reva Rosa Linda*)

Pada suatu pagi yang tenang di sebuah desa kecil di Indonesia, burung burung berkicau riang, menyambut hari yang baru. Di balik ketenangan itu, bayang bayang gelap politik uang mengintai, mengancam integritas dan kemurnian proses demokrasi. Bagai racun yang menyebar tanpa terlihat, politik uang mencemari harapan rakyat akan pemimpin yang jujur dan berdedikasi. Di sinilah cerita dimulai, sebuah kisah tentang perjuangan melawan korupsi dalam bentuk yang paling halus namun merusak, politik uang dalam Pilkada.

Di sudut-sudut pedesaan, di bawah naungan pepohonan rindang, terbisik cerita tentang masa depan negeri yang dicoreng oleh lembaran-lembaran uang. Dalam gemuruhnya kampanye Pilkada, janji-janji menggema seperti mantra yang diucapkan tanpa henti. Mereka berjanji memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya, seperti petani yang membersihkan ladangnya dari hama. Namun, kenyataannya, janji itu sering kali hanyalah bayang-bayang di bawah matahari. Sementara uang bergerak di balik layar, merusak integritas pemilihan dan menghancurkan harapan akan pemimpin yang bersih dan jujur.

Korupsi politik telah menjadi sebuah komoditas dalam arena Pilkada, di mana biaya politik yang membengkak sering kali dijawab dengan praktik politik uang. Kandidat yang terpilih melalui cara-cara licik ini lebih mementingkan bagaimana mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan, daripada memikirkan kesejahteraan rakyat. Mereka yang terpilih bukanlah mereka yang terbaik, melainkan mereka yang paling banyak memberi. Sebuah realitas yang menyedihkan di negeri yang kaya akan budaya dan sejarah panjang perjuangan.

Masih terngiang Pemilu 2024 lalu. Politik uang, sebuah momok yang menghantui, telah mengakar dalam praktik politik di negeri ini. Bagai cerita lama yang terus diulang, calon wakil rakyat berusaha membeli suara rakyat dengan lembaran uang yang disodorkan diam-diam. Rakyat, yang sering kali terdesak oleh kebutuhan sehari-hari, menerima imbalan itu tanpa menyadari bahwa mereka telah menjual masa depan mereka sendiri.

Apakah hak rakyat dinilai rendah dengan pecahan uang?

Inilah ironi yang menyedihkan dari demokrasi yang dinodai oleh uang. Politik uang mencakup tindakan ‘klientelisme’ hingga pembelian suara, yang semuanya berkontribusi pada korupsi dalam proses politik. Korupsi politik, ibarat tikus yang menggerogoti lumbung, adalah penyalahgunaan kekuasaan oleh politisi atau pejabat terpilih demi meraup keuntungan pribadi, baik untuk melambungkan kekuasaan maupun menumpuk kekayaan. Korupsi ini dapat merayap masuk pada berbagai tahapan, yakni sebelum, selama, dan setelah menjabat sebagai pejabat publik. Tatkala korupsi ini mencemari proses Pemilu dan Pemilihan, fenomena tersebut menjelma sebagai politik uang yang berbau busuk.

Namun, harapan tidaklah mati. Di tengah arus gelap itu, muncul sebuah cahaya dari gerakan inovatif bernama Gerakan Desa Anti-Politik Uang. Sebuah inisiatif yang lahir dari kesadaran bahwa perubahan besar harus dimulai dari akar rumput, dari desa-desa kecil tempat kehidupan dan harapan bermula.

Gerakan ini bertujuan untuk membentengi masyarakat desa dari godaan politik uang melalui pendidikan politik yang menyeluruh dan berkelanjutan. Mengingat betapa berbahayanya praktik politik uang bagi masa depan bangsa dan negara, penting untuk memahami dampak negatifnya dan mencari cara untuk mencegahnya. Salah satu langkah penting adalah melalui pendidikan politik, khususnya di tingkat masyarakat desa.

Pendidikan politik dapat membantu masyarakat memahami pentingnya memilih berdasarkan kriteria yang objektif dan menghindari terlibat dalam praktik politik uang. Dengan meningkatkan kesadaran politik dan pengetahuan masyarakat, diharapkan pemilih dapat membuat keputusan yang lebih bijaksana dan independen, yang pada akhirnya akan mengurangi terjadinya korupsi politik.

Dalam menanggulangi maraknya praktek politik uang maka diperlukan suatu pendidikan yang yang tepat dan tentunya dapat diterapkan dari tingkat pemerintahan yang paling bawah. Adapun inovasi pendidikan itu ialah Gerakan Desa Anti-Politik Uang. Gerakan Desa Anti-Politik Uang merupakan sebuah langkah proaktif dalam mendidik politik yang diusung dengan konsep pre-emtif, menggambarkan kesadaran akan pentingnya tindakan preventif sebelum terjadi kerusakan lebih lanjut.

Gerakan ini melibatkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat desa dengan tujuan mengatasi dan menentang praktik politik uang yang secara historis telah merajalela di setiap pelaksanaan Pemilu dan Pemilihan, termasuk pemilihan kepala desa.

Gerakan Desa Anti-Politik Uang muncul sebagai solusi inovatif dalam menanggulangi praktik politik uang dan korupsi politik di tingkat lokal. Dengan serangkaian kegiatan seperti deklarasi, bimbingan teknis, aksi bersama, workshop, dan kegiatan literasi, gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat desa serta memperkuat sikap penolakan terhadap praktik politik uang.

Melalui pendidikan politik yang terintegrasi dalam gerakan ini, diharapkan masyarakat desa dapat memilih dengan lebih bijaksana, menghindari terlibat dalam praktik politik uang, dan memilih pemimpin yang benar-benar mewakili kepentingan mereka. Sebagai saran, pendidikan politik yang lebih terstruktur dan berkelanjutan perlu diperkuat, serta kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan elemen masyarakat desa lainnya harus ditingkatkan untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas gerakan ini dalam menekan korupsi politik di Indonesia. Pendidikan politik yang berkesinambungan diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih kritis dan sadar akan pentingnya menjaga integritas dalam proses demokrasi.

Melalui gerakan ini, harapan akan masa depan yang lebih bersih dan jujur dalam politik dapat terwujud, membawa sinar terang bagi perjalanan demokrasi di negeri ini.[]

*) Penulis adalah Juara III Lomba Esai Literasi Demokrasi KPU Kabupaten Trenggalek, siswa di SMAN 1 Durenan.

Editor : Luqman Hakim
#demokrasi #trenggalek #literasi