Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dari Ladang Kampanye ke Ladang Kesadaran Demokrasi

Luqman Hakim • Selasa, 4 Juni 2024 | 17:22 WIB
Risalah Amanah Adel
Risalah Amanah Adel

Oleh: Risalah Amanah Adel*)

Pertanian jagung terluas di Indonesia yang berada di Jawa Timur, mengingatkan kita dengan ladang jagung sewaan tempat Abraham Lincoln tumbuh dan berkembang. Di ladang jagung jugalah,  Bapak Demokrasi dunia ini tumbuh dan menghasilkan pemikiran yang sangat relevan di negara Indonesia hingga saat ini.

Bila kita anggap jagung sebagai demokrasi, pemanenan jagung yang terjadi secara periodik, mengingatkan kita bahwa di Indonesia sebagai negara demokrasi selalu melakukan pemilihan pemimpin daerah yang periodik juga. Hasilnya bisa sama. Bisa lebih bagus. Atau bisa tak terduga juga.

Pemanenan jagung memiliki beberapa tahapan, Pilkada pun sama. Salah satu tahapan tersebut nantinya adalah kampanye. Dalam tahapan politik, tak asing bila kata kampanye menjadi awal dari kemeriahan seorang calon untuk meramaikan seisi kota. Menunjukkan pesonanya. Untuk memikat hati warga. Agar terpilih menjadi hasil panen demokrasi terbaik pada saat itu.

Kampanye sering diiringi dengan  bagaimana cara calon pemimpin meraih kemenangan. Tujuan tentu untuk mendapatkan kekuasaan yang didambakannya selama ini. Namun harus diingat bahwa kampanye mempunyai andil penting yang bermanfaat sebagai sarana pendidikan politik. Bukan sekedar sosialisasi untuk mengenalkan apa itu politik, pilkada, dan bagaimana cara mengikutinya. Tapi  benar-benar politik yang mendidik, membuat warga tahu apa itu politik dan menyadarkan apa alasan mereka untuk bukan hanya mengikuti, tapi meramaikan, dan ikut serta berkembang di dalamnya. Kampanye haruslah tetap menjadi alat untuk memperkuat dan memperkokoh demokrasi.

Semudah merebut permen dari bayi, kampanye yang informatif akan sangat mudah membuat orang paham dengan konteks yang disajikan, pemahaman akan meningkat pesat dengan sangat mudahnya. Menurut sebuah studi yang diterbitkan Universitas Medan Area pada tahun 2024, warga yang terpapar informasi kampanye yang jelas dan terstruktur menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman mereka tentang isu-isu politik yang relevan.

Partisipasi calon pemimpin pada Pilkada Surabaya 2020 dengan membuat forum terbuka, membuat contoh nyata bahwa pemahaman warganya menjadi lebih tajam pada hal kompleks terkait pembangunan suatu daerah. Namun lebih mendalam lagi. Karena kampanye yang terjadi memiliki tujuan mendidik, hal ini menjadi senjata warga dalam membunuh apatisme atas kontrol masyarakat terhadap Pemilu. Sejumlah 28 laporan dan 12 temuan di Pilkada Surabaya 2020 menjadi tertinggi di Jawa Timur, peningkatan sikap anti apatisme ini malah menjadi jauh lebih mudah dari sebelumnya, seperti merebut permen dari bayi, namun kali ini bayi  yang sedang tertidur pulas.

Dalam proses kampanye, keterlibatan saja tidak menjadi tujuan utama. Melainkan yang didambakan adalah keterlibatan yang bersifat aktif. Bukan hanya melibatkan warga saja, kampanye harusnya membuat warganya merasa terlibat.

Sekilas hal tersebut nampak seperti permainan kata. Namun warga yang merasa terlibat cenderung akan membuat warga melakukan inisiatif tanpa disuruh. Sebaliknya, ketika warga hanya dilibatkan tanpa merasa terlibat, kampanye hanya akan menciptakan pemilih yang bersifat pasif.

Bagaimana rasa memiliki bisa memicu letupan bernama keterlibatan, ini dijelaskan dengan bagaimana seluruh warga Trenggalek sepakat menolak ijin tambang di daerah mereka. Sikap para warga ini bisa disebut resistensi dalam ilmu manajemen konflik. Menolak terhadap perubahan baru karena dianggap tidak menjadi perubahan yang baik.

Namun dengan semangat kebersamaan dalam menyuarakan penolakan, bisa dirasakan aura gerakan resistensi petani Italia menolak kehadiran NAZI hadir dalam gerakan penolakan izin tambang ini. Bagaikan lagu Bela Chiao berkumandang di mana-mana.

Namun dengan lebih menjunjung budaya dan bahasa sendiri, lagu berjudul ‘Buruh Tani’ mungkin akan lebih nyaman untuk didengarkan dan dikumandangkan. Mulai dari suara aktivis yang menggelegar terdengar, sampai pada stiker penolakan yang banyak dipasang di rombong penjual Siomay yang terkenal di daerah Kelutan. Hal ini menunjukkan bagaimana ‘super power-nya kekuatan dari kampanye itu sendiri apabila bisa membuat masyarakat ikut terlibat di dalamnya.

Namun segala niat baik akan mendapatkan tantangan, dan diantara tantangan itu yang terbaik adalah berbuat demi kepentingan bersama. Pemikiran ala Mahatma Gandhi ini seolah menyoroti bahwa di masa sekarang akan terjadi revolusi industri besar-besaran yang mengakibatkan dunia maya menjadi wadah untuk melakukan segala hal, termasuk pada ajakan untuk menuju suatu perubahan yang disebut dengan kampanye.

Media sosial kini menjadi pedang bermata dua, yang akan membantu namun akan menyakiti siapapun yang salah menggunakannya. Lawan terbesar dalam kampanye itu bukanlah lawan calon pemimpin yang didukung, namun musuh bernama hoaks yang penyebarannya mudah diedarkan semudah merebut permen dari batita yang terlelap.

Kampanye politik yang dirancang untuk mendidik dan melibatkan warga secara aktif tidak hanya meningkatkan partisipasi pemilih tetapi juga memperkuat fondasi demokrasi. Dengan memastikan setiap warga merasa terlibat dan penting, kita dapat menciptakan pemilu yang lebih adil dan representatif.

Mari kita dukung kampanye yang informatif dan inklusif untuk masa depan demokrasi yang lebih baik. Karena Pilkada pada dasarnya seperti bercocok tanam, apa ditabur maka itulah yang akan dituai. Maka dengan berjalannya proses kampanye yang baik, dapat dipastikan Bapak Demokrasi dunia akan tersenyum dan bangga pada masyarakat Indonesia, bukan hanya karena berjalannya proses demokrasi dengan indah, tapi karena hasil jagung kita yang juga sangat melimpah.[]

 

*) Penulis adalah salah satu Duta Literasi Demokrasi KPU Kabupaten Trenggalek, mahasiswa Institute Teknologi dan Bisnis (ITB) Trenggalek.

Editor : Luqman Hakim
#Risalah Amanah Adel