Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pembelajaran Berdiferesiasi dan Penerapannya

Whendy Gigih Perkasa • Rabu, 2 Oktober 2024 | 14:15 WIB

KOMPAK: Koiriyah M.Pd (kiri), dan                                                                                       Binti Aniyah S.Pd,I, Gr (kanan) aktif lahirkan karya tulis.
KOMPAK: Koiriyah M.Pd (kiri), dan Binti Aniyah S.Pd,I, Gr (kanan) aktif lahirkan karya tulis.
Oleh:

Koiriyah M.Pd (pendidik)                                                                                                 Binti Aniyah S.Pd,I, Gr (pendidik)

Susanto (2016:1) “belajar suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan prilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak”.

Murid belajar memahami dan mempraktekkan teori yang di berikan guru, sedangkan guru belajar tentang teori mengajar yang baik. Selain itu, guru harus memahami karakteristik murid dalam kelas masing-masing.

Menurut Ki Kajar Dewantara, setiap individu itu adalah unik. Ki Hajar Dewantara mengingatkan guru bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dan menghubungkannya dengan kodrat zaman. Kodrat diri anak yang bervariasi ini, mengakibatkan terjadinya perbedaan cara belajar murid, perbedaan daya serap dan berbagai perbedaan lainnya. Guru harus jeli melihat keberagaman tersebut dan tidak bisa memaksakan cara belajar tertentu sesuai dengan teori yang mereka yakini baik bagi murid. Murid juga berhak menerima pembelajaran sesuai dengan cara belajar masing masing, karena itu adalah kodrat alam mereka.

Demi memenuhi perbedaan tersebut, maka pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu solusi yang patut dipahami oleh guru. Pembelajaran berdiferensiasi adalah istilah yang berasal dari Bahasa Inggris differentiated instruction.

Dalam KBBI, pembelajaran berdiferensiasi adalah proses atau filosofi untuk pengajaran efektif dengan memberikan beragam cara untuk memahami informasi baru untuk semua siswa dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran penilaian sehingga semua siswa di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Proses mendiferensiasikan pelajaran dilakukan untuk menjawab kebutuhan, gaya, atau minat belajar dari masing-masing siswa.

Menurut Tomlinson (2000), dalam modul guru penggerak paket 2 pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Guru harus adil dalam memenuhi kebutuhan murid. Adil bukan berarti memperlakukan murid sama, tapi ada kecocokan antara kebutuhan murid dan proses pembelajaran.

Ada tiga strategi penerapan pembelajaran berdiffrensiasi, yaitu diferensiai konten, difereresiasi Proses dan diferensiai produk. Namu ketiga strategi tersebut tidak boleh lepas dari aspek kesiapan belajar murid, minat murid dan profil belajar murid.

Diferensiasi konten merupakan pemberian materi yang berbeda, sesuai dengan tingkat kesiapan belajar masing masing murid. Diferensiasi proses merupakan pembelajaran yang memberikan variasi kepada murid dalam mememahami materi, menemukan teori atau proses lainnya.

Salah satu contohnya adalah, guru mendata minat dan bakat murid sebelum melakukan pembelajaran. Guru membuat pertanyaan pemandu yang diletakkan pada sudut sudut minat dalam kelas. Sementara itu, diferensiasi produk merupakan pemberian tugas yang berbeda kepada murid. Perbedaan tersebut tidak terlepas dari kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini, membuat murid merasa diperhatikan, lebih dihargai dan tertantang untuk belajar. Konten yang sesuai dengan kesiapan belajar, proses yang menarik, produk yang menantang, akan meningkatkan motivasi belajar murid. Kepiawaian seorang guru dalam membangun atmosfer lingkungan kelas yang positif, sangat diperlukan. Dengan demikian, profil pelajar pancasila, akan lebih mudah diwujudkan.

  1. Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar.

Ciri-ciri atau kerekteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.

Contoh kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksploitasi isi kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari.

Contoh kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid. Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain:

  1. Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)
  2. Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)
  3. Mengevaluasi dan erefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Pemetaan kebutuhan belajar merupakan kunci pokok kita untuk dapat menentukan langkah selanjutnya. Jika hasil pemetaan kita tidak akurat maka rencana pembelajaran dan tindakan yang kita buat dan lakukan akan menjadi kurang tepat. Untuk memetakan kebutuhan belajar murid kita juga memerlukan data yang akurat baik dari murid, orang tua/wali, maupub dari lingkungannya. Apalagi dimasa pandemi seperti ini, dimana murid melaksanakan PJJ sehingga interaksi secara langsung antara guru dengan murid sangat jarang. Akibatnya data yang kita kumpulkan untuk memetakan kebutuhan belajar murid sulit kita tentukan valid atau tidaknya. Dukungan dari orang tua dan murid untuk memberikan data yang lengkap dan benar sesuai kenyataan yang ada. Tidak ditambahi dan juga tidak dikurangi. Orang tua dan murid harus jujur ketika guru melakukan pemetaan kebutuhan belajar, baik elalui wawancara, angket, survey, dan lainnya.

Editor : Whendy Gigih Perkasa
#diferensiasi #pembelajaran #belajar