Prolog
Bulan Sya’ban dalam penanggalan tahun Hijriyah telah tiba, pertanda sudah dekat datangnya bulan Ramadhan, bulan yang suci dan disucikan. Di dalamnya terdapat banyak kemuliaan dan berkah.
Sesaat Ramadhan telah dekat masanya, Nabi berkhutbah yang artinya “ketika Ramadan itu tiba dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah syetan” (HR. Muslim).
Hadits ini mengabarkan kemuliaan bulan Ramadhan yang menandakan dibukanya pintu rahmat Allah dan pengampunanNya.
Begitu besarnya nilai Ramadhan yang ditawarkan oleh Allah dan Rasulnya kepada umat Islam, maka menyambut kedatangannya menjadi bagian dari amalan yang banyak mengandung hikmah.
Karenanya banyak diminati umat Islam sebagai wujud batapa senangnya dengan kehadiran Ramadhan.
Rasul sendiri menyatakan bahwa “barang siapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan baginya haram (tersentuh) api neraka” (Al-hadits).
Cara Menyambut Ramadhan
Menyambut kedatangan Ramadhan menjadi sesuatu yang penting bagi umat Islam karena sedemikian utamanya Ramadhan dan penyambutnya.
Maka ketika Ramadhan sudah dekat sering kita saksikan dan dengarkan kata-kata marhaban ya Ramadhan baik dalam kehidupan sehari-hari melalui siaran radio, televisi, plakat-plakat yang terpasang di pinggir jalan maupun dalam media sosial.
Bahkan marhaban ya Ramadhan juga dijadikan sebagai judul lagu yang selalu dinyanyikan di televisi ketika Ramadhan sudah hampir tiba.
Islam mengajarkan tatacara menyambut Ramadhan dengan amalan puasa, yang dikenal dengan puasa Sya’ban.
Pada bulan Sya’ban Nabi menyambutnya dengan berpuasa sya’ban lebih banyak dibandingkan dengan puasa pada bulan-bulan lainnya.
Namun demikian nabi mengajarkan agar dimulai sejak awal bulan, jika di awal bulan tidak melakukan penyambutan dengan puasa maka tidak diperkenankan berpuasa Sya’ban pada detik-detik akhir dekat Ramadhan.
Detik-detik akhir dinamakan dekat Ramadhan apabila hari telah melampaui tanggal 15 Sya’ban.
Maka bagi yang hendak menyambut kedatangan Ramadhan dengan puasa hendaknya dimulai sejak awal bulan sya’ban.
Varian penyambutan kedatangan Ramadhan ternyata telah merasuk dalam budaya dan tradisi.
Sebagaimana diketahui, di Jawa ada tradisi megengan. Megengan dalam bahasa Jawa berasal dari kata megeng yang berarti menahan, mendapatkan tambahan an menjadi megengan bermakna sebuah kegiatan dalam rangka agar mampu menahan.
Kegiatan megengan ini pasti dilaksanakan pada bulan Sya’ban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa.
Dilakukan dengan menyelenggarakan selamatan atau kenduri dengan harapan agar didoakan tetangga, saudara atau siapa saja, agar pada saat bulan puasa dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik melalui upaya menahan nafsu.
Baik nafsu makan dan minum, nafsu seks maupun nafsu-nafsu lainnya yang dapat merusak nilai ibadah puasanya.
Tradisi penyambutan Ramadhan tidak hanya sekedar dilakukan dengan selamatan megengan saja.
Akan tetapi di Jawa juga dilakukan dengan berziarah kubur (geren) para leluhurnya, bisa kubur orang tuanya, kakek neneknya atau leluhur lainnya.
Tradisi ziarah kubur ini sebenarnya mengajarkan bahwa dalam masa-masa memasuki bulan suci, bulan penuh pengampunan (maghfirah) hendaknya para leluhur yang telah mendahului senantiasa mendapatkan pengampunan dari Allah atas semua dosanya dan akhirnya ditempatkan disurga-Nya Allah.
Tradisi ini menunjukkan kesadaran masih terhubungnya orang yang masih hidup dengan para leluhurnya.
Yang menunjukkan makna bahwa sehebat apapun manusia ia tidak terlepas dari orang-orang yang telah mendahuluinya.
Mengapa Ramadhan disambut
Barangkali di antara bulan-bulan suci tidak ada yang mengandung magnet melebihi Ramadhan.
Ramadhan menghipnotis seluruh kalangan, baik muslim maupun non muslim, untuk memberikan penghormatan.
Sebagaimana diketahui ketika Ramadhan tiba seluruh elemen masyarakat bahkan politikus sekalipun, berbondong-bondong mengurangi tensi gairahnya dalam bersaing apalagi bermusuhan.
Demikian juga dalam kaitan dengan hubungan sosial, pada bulan Ramadhan tiba banyak orang mengeluarkan sedekahnya sehingga memicu orang untuk berburu takjil, mereka berpuasa atau tidak, mereka muslim atau non muslim.
Bahkan di bulan Ramadhan, orang yang biasanya sholat cukup hanya lima waktu, atau bahkan shalatnya bolong-bolong, pada bulan Ramadhan mereka juga bergairah pergi menuju masjid atau mushalla untuk menjalanlan ibadah qiyamul lail menjalankan sholat yang memiliki rakaat-rakaat yang melelahkan.
Lebih dari itu di dalam bulan Ramadhan terdapat kewajiban berpuasa, kewajiban menahan makan dan minum serta hubungan seks sejak fajar terbit sampai matahari terbenam di ufuk barat.
Bukan hanya sekedar puasa yang pelaksanaannya cukup heroik tetapi tujuannya juga sangat spektakuler ialah mencapai takwa, firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu semua berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu semua bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).
Perintah puasa yang sekaligus juga mengangkat derajat keagungan Ramadhan oleh Allah memang juga diistimewakan.
Dalam hadits Qudsi dijelaskan bahwa Allah berfirman yang artinya “Seluruh amal anak Adam itu semuanya untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya” (HR. Muslim).
Ibadah puasa nampak berbeda atau dibedakan dengan jenis ibadah yang lainnya.
Karena tidak terdapat jenis ibadah wajib yang paling rahasia dan bersifat pribadi dalam Islam kecuali ibadah puasa, puasa hanya diketahui oleh Allah dan orang yang melakukan saja.
Boleh jadi ada orang yang nampak lemah, letih dan lesu, namun demikian, hal itu bukan berarti tanda orang yang sedang berpuasa.
Artinya bahwa sekiranya ada orang yang mempunyai tanda-tanda lahir seperti orang puasa, bukan berarti ia sedang puasa, bisa juga ia dalam keadaan sakit atau yang lainnya.
Atau sebaliknya, mungkin juga terdapat orang yang kondisinya segar bugar, gesit, lincah dan cekatan, belum tentu mereka sedang tidak berpuasa, bisa saja dia berpuasa.
Itulah yang dimaksudkan bahwa puasa itu rahasia dan bersifat pribadi, dengan pengertian bahwa ibadah puasa itu tidak bisa diketahui oleh orang lain, hanya pelaku sendiri dan Allah semata yang tahu.
Mungkin yang demikianlah makna hadits qudsi di atas bahwa kata Allah puasa itu bagi-Ku, karena untuk ibadah-ibadah wajib yang lain berada pada kontrol sosial atau dengan sepengetahuan orang lain.
Misalnya sholat, dengan mudah diketahui orang lain bahkan sholat diperintahkan dengan berjamaah, zakat juga demikian bisa dengan mudah diketahui orang lain.
Bahkan ibadah zakat itu memang boleh diketahui orang lain sekalipun dilakukan secara sembunyi juga lebih baik, apalagi ibadah haji justru diketahui oleh ribuan orang.
Namun tidaklah demikian dengan puasa. Meskipun di bulan Ramadan umumnya orang sedang berpuasa, namun hal itu tidaklah berarti diketahui orang lain, apakah dia berpuasa atau tidak.
Karena tidak mungkin mengetahui sebenarnya, apakah ketika seseorang yang sedang berpuasa, ia tetap bertahan untuk tidak membatalkan puasanya, minum, misalnya, padahal dia benar-benar haus dahaga.
Orang yang selamat mempertahankan puasanya, tidak lain ialah karena dia menyadari sepenuhnya akan kehadiran Allah dalam hidupnya, di mana saja dan kapan saja, dan dia yakin Allah mengawasi tingkah lakunya.
Inilah sebenarnya salah satu makna takwa sebagaimana tujuan ayat yang telah disebutkan di atas.
Puasa dengan demikian menggambarkan peragaan sikap orang yang bertakwa. Puasa, merupakan ibadah yang mengajarkan dasar-dasar ketulusan niat pengabdian seseorang terhadap Allah.
Puasa mengajarkan bentuk kesadaran manusia bahwa hidup ini senantiasa dipantau oleh Allah dimanapun dirinya berada.
Sehingga puasa menjadi titik balik bagi orang yang bertakwa bahwa dimana saja dirinya pasti merasakan takut kepada Allah, baik dalam keramaian atau dalam kesunyian.
Maka ia tidak akan berani berbuat salah dan dosa sekalipun tidak dilihat oleh orang lain karena adanya kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah.
Demikian agungnya Ramadhan dan ibadah puasa yang ada di dalamnya, sehingga pantaslah kiranya jika Ramadhan disambut dengan suka cita.
Agar kelak di bulan suci tersebut dapat menjalankan puasa dengan baik dan sekaligus dapat mencapai titik tujuan yang kehendaki Allah.
Yaitu pencapaian derajat takwa, insyallah akan terbebas dari jilatan api neraka.
Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan!!!.
Editor : Dharaka R. Perdana