TAK TERASA beberapa hari lagi insyaallah kaum muslimin yang telah menjalankan ibadah puasa akan sampai di penghujung bulan Ramadhan 1446 H.
Setelah sukses menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, lalu memasuki Idul Fitri 1446 H tahun 2025 sesuai keputusan Menteri Agama (Menag) RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.
Semoga hari raya Idul Fitri 1446 H nanti bersamaan di antara dua ormas terbesar di Indonesia yaitu PP Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Seperti kita ketahui bahwa di dalam bulan Ramadhan itu terbagi menjadi tiga fase, yakni;
Pertama, pada sepuluh hari pertama merupakan fase yang penuh rahmat atau pintu kebaikan, sehingga kaum muslimin berlomba-lomba untuk memperbanyak ibadah kepada Allah Swt.
Kedua, pada sepuluh hari kedua merupakan fase maghfirrah, artinya Allah Swt membuka ampunan-Nya kepada kaum muslimin yang menjalankan ibadah puasa seraya memohon ampunan-Nya.
Ketiga, pada sepuluh hari ketiga merupakan fase pembebasan dari siksa api neraka, artinya siapa yang bersungguh-sungguh menunaikan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan seraya memohon keridhaan-Nya niscaya Allah akan membebaskan dari siksa api neraka.
Hal itu sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Saw yang artinya: “Adalah bulan Ramadhan awalnya rahmat, pertengahannya maghfirrah, dan akhirnya pembebasan dari siksa api neraka” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan juga diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Sahih Ibn Khuzaimah).
Sementara, dalam praktiknya menunaikan ibadah puasa Ramadhan, dalam pandangan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, puasa orang Islam itu dibagi tiga, yakni;
Pertama, puasanya orang awam, yakni menahan tidak makan-minum dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa—misalnya berhubungan suami-istri bagi pasutri—dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
Puasa ini dinamakan puasanya orang awam karena terutama puasanya menahan lapar dan dahaga di siang hari atau puasa perut semata.
Kedua, puasa khusus; yakni selain hal di atas juga mengendalikan fikiran dan mengendalikan panca indera, yakni mengendalikan pandangan mata, pendengaran dari telinga, penciuman hidung, ucapan melalui mulut, dan perabaan kulit.
Ketiga, puasa khusus-bikhusus; yakni selain hal di atas juga memiliki kesadaran di hati untuk senantiasa mengingat Allah Swt dalam setiap keadaan.
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1446 H lalu, umat Islam terutama masyarakat Jawa biasanya selalu mengadakan acara Slametan Megengan.
Kata “megengan” tersebut dalam kiratha basa atau othak-athik mathuk dalam perspektif budaya Jawa dimaksudkan untuk megeng nafas, artinya menahan dari segala keinginan yang melampaui batas karena kita hendak menunaikan ibadah puasa sebulan penuh sebentar lagi.
Itulah ijtihad para ulama Jawa yang kemudian mewujudkannya dalam bentuk Slametan megengan yang dimaksudkan untuk memperbanyak sedekah menjelang sekaligus menyambut datangnya bulan puasa (Ramadhan).
Selain itu, sebelum datangnya bulan puasa itu, kaum muslimin di bulan Sya’ban atau dikenal bulan Ruwah dalam perspektif Jawa, mereka (kaum muslimin) juga memberikan penghormatan kepada para arwah leluhur yang sudah meninggal dunia dengan cara berziarah ke kuburnya dan membaca Tahlil serta doa yang dikirim kepada para leluhur.
Perspektif Islamisasi Jawa & Jawanisasi Islam
Pasca bulan puasa, setelah menunaikan ibadah sholat Ied (Idul Fitri) baik di lapangan atau masjid, umat Islam memiliki kultur atau tradisi untuk berlebaran, yakni sungkem (bersalaman sembari mencium lutut mereka dengan posisi menundukkan kepala) seraya memohon maaf kepada kedua orang tua.
Dalam hal ini, biasanya dalam kultur budaya Jawa, si anak sembari ber-sungkem mengucapkan: “Kula ngaturaken sedaya kalepatan, lampah kula setindak, wiraos seklimah ingkang mboten minturut idining syarak, mugi linebura dening Gusti Allah lantaran ibu/bapak. Lan mboten kesupen kula nyuwun tambahing pangestu.”
Artinya; saya menyerahkan semua kesalahan, setapak langkah saya, bila sedikit perasaan saya yang tidak sesuai dengan syarak (aturan agama), semoga mendapatkan ampunan Allah melalui maaf ibu/bapak. Tidak lupa saya memohon doa restu.
Setelah acaraa sungkeman itu biasanya dilanjutkan dengan bersilaturahim kepada sanak-keluarga atau kerabat dan diteruskan bersilaturahmi kepada para Ulama (Kyai, ustadz dan sebagainya) untuk memohon maaf dan seraya memohon doa-restu tentunya.
Secara umum, ketika bermaaf-maafan itu sembari mengucap “Taqaballahu minna waminkum, taqabbal ya kariim” atau biasanya yang lebih sering “Minal aidzin wal faidzin” yang diartikan mohon maaf lahir dan batin.
Meski liburan dengan ditandai tanggal merah hari raya hanya dua hari, namun secara umum tradisi berlebaran di Jawa dan Indonesia pada umumnya biasanya dilaksanakan sampai seminggu atau sekitar 8 hari.
Uniknya terutama di daerah Jawa Timur ada tradisi yang turun-temurun yaitu tradisi Bada Kupatan yang biasanya dilaksanakan pada hari ke-delapan.
Hal itu dimaksudkan untuk merayakan bada (hari raya) Kupatan setelah menjalankan ibadah puasa sunnah Syawal selama 6 hari mulai hari raya ke-2 sampai ke-7 di bulan Syawal.
Maka pada hari ke-8 dilaksanakan bada (hari raya) Kupatan yang bahkan dirayakan dengan lebih meriah daripada hari raya pertama di bulan Syawal.
Tradisi merayakan bada Kupatan tersebut sudah lazim dilaksanakan secara turun-temurun terutama di desa-desa Kecamatan Durenan Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri dan sebagainya.
Pada waktu itu ada momentum warga desa menyediakan masakan ketupat—sesuai dengan nama bada Kupatan—yang diberikan kepada siapa saja yang bersilaturahmi kepada mereka.
Adapun makna yang dapat dipetik dari bada Kupatan dengan menghidangkan masakan ketupat yang bentuknya segi empat itu memberi isyarat mengenai pentingnya laku papat (amaliyah empat) hal, yakni;
Pertama, Lebaran; yakni lebaran (setelah menjalan ibadah puasa di bulan Ramadhan) yang kemudian menjalankan ibadah Shalat Ied (Idul Fitri) dan bersilaturahim kepada orang tua, sanak-kerabat dan para ‘alim-ulama.
Kedua, Laburan; yakni menjelang datangnya bulan puasa atau hari raya Idul Fitri biasanya orang-orang Jawa memiliki tradisi selalu melabur dinding rumahnya dengan bahan gamping berwarna putih yang melambangkan kesucian.
Dalam hal ini, karena sudah modern, maka melabur dinding dengan bahan gamping tersebut sudah diganti dengan cat, entah berwarna putih atau lainnya yang maknanya membersihkan rumah menjadi lebih bersih dan indah dipandang mata.
Ketiga, Leburan; yakni memperbanyak silaturahim kepada orang tua, sanak kerabat dan para Ulama (Kyai, ustadz dan sebagainya) untuk memohon maaf atau saling memaafkan. Itulah yang disebut leburan atau nglebur dosa (menghilangkan dosa kepada sesama manusia).
Keempat, Luberan; yakni bagi orang yang berkelimpahan rizki biasanya sering memberikan sedekah (shodaqah) kepada para faqir-miskin dan anak-anak yang bersilaturahim ke rumahnya.
Begitulah menjelang dan sesudah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, betapa banyak amalan dalam perspektif Islamisasi Jawa dan Jawanisasi Islam, seperti megengan atau megeng napas yang diwujudkan melalui slametan megengan yang harapannya untuk memperbanyak sedekah dengan berbagi makanan kepada para tetangga dan lingkungannya.
Demikian halnya dengan tradisi bada Kupatan yang terutama di daerah Jawa Timur selatan seperti Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri dan sebagainya sudah dilaksanakan dalam tradisi kultur secara mengakar dari tahun ke tahun.
Bagaimana pun, amalan seperti slametan megengan, Yasinan, Tahlilan dan sebagainya lebih identik dengan Islamisasi Jawa yang selalu ditutup dengan bacaan doa keselamatan dengan menggunakan doa Islam (biasanya menggunakan doa sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an).
Itulah ekspresi syi’ar dakwah yang dilakukan para Wali Sanga secara lentur dan persuasif kepada masyarakat Jawa di zaman dahulu hingga mengalami keberhasilan yang gilang-gemilang.
Sementara, bagi kaum muslimin orang Jawa, amalan-amalan seperti megengan dan bada Kupatan yang memiliki simbol-simbol khas seperti kata megengan dan bada Kupatan identik dengan perspektif Jawanisasi Islam.
Lantaran simbol unsur Jawanya lebih dominan yang terkait dengan nilai-nilai yan islami dalam perspektif Agama Islam.
Editor : Dharaka R. Perdana