Radar Tulungagung - Selama ini muncul pertanyaan-pertanyaan tentang realitas materi. Materi telah menjadi bahan diskusi panjang dalam dunia sains, filsafat, hingga spiritualitas.
Apakah benda-benda di sekitar kita benar-benar nyata? Ataukah mereka hanyalah ilusi yang dibentuk oleh persepsi dan kesadaran kita?
Begitu terlena dan terpesonanya kita akan keberadaan materi di dunia ini. Rumah megah, mobil mewah bahkan kekayaan berupa finansial (uang) pun bisa dikatakan materi yang bernilai. Tapi apakah semua itu nyata adanya?
Berikut ini penjelasan lengkap dari tiga sudut pandang berbeda: ilmiah, filosofis, dan spiritual.
1. Pandangan Ilmiah: Materi Itu Nyata, Tapi Tidak Sesederhana yang Kita Lihat
Dalam ilmu fisika, materi didefinisikan sebagai segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Mulai dari benda padat, cair, gas, hingga plasma, semua tergolong sebagai bentuk materi.
Namun, ketika kita masuk ke dalam ranah fisika kuantum, pemahaman kita tentang materi mulai berubah. Partikel-partikel subatomik seperti elektron tidak selalu berada di satu tempat; mereka bisa berada dalam keadaan superposisi, yaitu berada di banyak tempat sekaligus hingga diamati. Konsep ini mengaburkan batas antara "nyata" dan "tidak nyata".
Bahkan, sebagian besar dari materi ternyata adalah ruang kosong. Sebuah atom terdiri dari inti yang sangat kecil, sementara elektron mengelilinginya dalam jarak relatif jauh. Ini berarti bahwa apa yang kita anggap sebagai benda padat, sebenarnya lebih banyak berisi ruang kosong daripada substansi.
Kesimpulan ilmiah: Materi itu lebih banyak ruang yang kosong daripada substansi, tetapi pada level paling dasar, ia sangat kompleks dan jauh dari apa yang kita persepsikan sehari-hari.
2. Pandangan Filosofis: Realitas Itu Tergantung pada Kesadaran
Dalam filsafat, ada perdebatan panjang tentang apa itu "kenyataan" dan bagaimana kita mengetahuinya.
Salah satu aliran, realisme, menyatakan bahwa dunia fisik benar-benar ada di luar pikiran kita, terlepas dari apakah ada yang mengamatinya atau tidak. Dengan kata lain, materi tetap nyata meski tidak ada manusia yang melihat atau menyentuhnya.
Namun, idealisme, yang dipelopori oleh filsuf seperti George Berkeley, berpendapat bahwa semua yang kita anggap nyata hanyalah persepsi dalam pikiran kita. Dalam pandangan ini, materi tidak memiliki eksistensi mandiri—ia hanya ada karena kita mengamati dan menyadarinya.
Filsuf Immanuel Kant juga memperkenalkan gagasan bahwa kita tidak pernah benar-benar mengetahui “dunia sebagaimana adanya” (noumenon), melainkan hanya “dunia sebagaimana yang tampak kepada kita” (phenomenon).
Kesimpulan filosofis: Kenyataan materi mungkin bersifat subjektif dan tergantung pada bagaimana kita menyadarinya.
3. Pandangan Spiritual: Dunia Materi adalah Ilusi
Dalam banyak ajaran spiritual, seperti Hindu, Buddha, dan beberapa tradisi mistik, dunia materi sering dianggap sebagai ilusi atau “maya”.
Menurut ajaran ini, materi hanyalah tirai yang menutupi kebenaran sejati, yaitu kesadaran atau roh. Dalam teks-teks kuno seperti Bhagavad Gita, dunia fisik dianggap tidak kekal dan tidak sepenuhnya nyata. Yang abadi adalah jiwa atau kesadaran yang berada di balik segala sesuatu.
Begitu pula dalam ajaran Buddha, dunia fisik dianggap sebagai hasil dari kondisi pikiran dan tidak memiliki eksistensi tetap. Kebangkitan spiritual dicapai ketika seseorang melepaskan keterikatan terhadap dunia material dan menyadari hakikat sejati dari eksistensi.
Kesimpulan spiritual: Materi hanyalah ilusi; kenyataan sejati terletak pada kesadaran atau roh yang abadi.
Atom dan "string theory (teori getaran senar)" pada suatu Materi di Dalam Al-Qur'an
Sebelum Al-Qur'an, para filsuf mengira bahwa atom adalah komponen materi terkecil yang tidak dapat dipisahkan. Namun hari ini kita tahu bahwa ini salah.
Atom ternyata terdiri dari elektron, neutron, dan proton. Neutron dan proton tersebut terbuat dari quark, dan akhir-akhir ini quark tersebut ternyata terbuat dari string (teori dawai).
Namun 1.400 tahun yang lalu Al-Qur'an dianggap bertentangan dengan pengetahuan umum pada masa itu, menyatakan bahwa atom bukanlah bagian terkecil.
https://www.livescience.com/amp/65033-what-is-string-theory.html
https://youtu.be/TI6sY0kCPpk
berikut dalilnya..
Al-Qur'an 6:95
Allah-lah yang membelah biji-bijian dan inti. Dia membawa yang hidup dari yang mati, dan yang mati dari yang hidup. Itulah Allah. Jadi bagaimana Anda bisa berpaling?
٩٥ إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَلت منَ الْحَلتم
https://qurano.com/id/6-al-an-am/ayat-95/
Tafsiran modernnya..
Inti Dalam Bahasa Arab berarti "Nawat نواة". Inti jamaknya dalam bahasa Arab adalah "nawa نَّوَىٰ". Jadi Al Qur'an mengatakan bahwa Tuhan memisahkan inti (jamak), artinya atom (inti) bukanlah partikel terkecil.
Al-Qur'an 10:61
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (bagian terkecil) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
٦١ وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Atom Sendiri bukanlah bagian terkecil dari sebuah atom. Hari ini kita tahu dari Teori String bahwa massa terkecil dari atom adalah massa string.
Getaran senar/string menentukan massanya. Ini diketahui baru-baru ini, namun hal ini digambarkan dalam Al-Qur'an 1400 tahun sebelum ditemukan. Alquran mengatakan bahwa partikel terkecil adalah string/sumbu.
Al-Quran 4:49
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikit pun.
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُزَكُّوْنَ اَنْفُسَهُمْۗ بَلِ اللّٰهُ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُ وَلَا يُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا
Di sini kata yang diapakai adalah Fatiil فَتِيلً arti dari kata sebenarnya adalah sumbu. Yang terkecil adalah string, senar atau dawai.
Sumbu dalam Al Qur'an terlihat persis seperti string dalam Teori String.
Dari Teori String kita tahu bahwa massa terkecil adalah massa sebuah string. Getaran senar menentukan massanya. Namun hal ini digambarkan dalam Al-Qur'an 1400 tahun sebelum ditemukan. Al-Qur'an mengatakan bahwa massa terkecil adalah string/senar yang bergetar.
Al-Quran 4: 124
Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.
١٢٤ وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
Nakara نقر artinya memetik. Memetik senar alat musik berarti نقر أوتار العود. Nakir نقير artinya getaran senar. Dalam ayat ini Nakiran نَقِيرًا berarti getaran tunggal dari sebuah senar.
http://compling.hss.ntu.edu.sg/omw/cgi-bin/wn-gridx.cgi?usrname=&gridmode=grid&synset=01382083-v&lang=eng&lang2=eng
Jadi dalam Al Qur'an massa terkecil adalah getaran tunggal dari sebuah senar.
Pada ayat ini massa terkecil adalah pemetik dan pada ayat sebelumnya partikel terkecil adalah sumbu . Kedua ayat tersebut menjelaskan tentang partikel terkecil yang sama. Hari ini kita tahu apa itu, ini adalah tali/senar/sumbu yang bergetar.
Kesimpulan
Jadi, apakah materi itu tidak nyata?
Jawabannya tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa materi itu berisi lebih banyak ruang yang kosong daripada substansi namun kompleks; filsafat mempertanyakan apakah realitas itu objektif atau subjektif; spiritualitas sedang Alqur'an beserta science membuktikan materi hanyalah sumbu (yang lebih kecil dari atom) yang bergetar.. melihat dunia materi sebenarnya hanyalah sebagai ilusi yang menutupi kebenaran sesungguhnya.
Dengan memahami berbagai perspektif ini, kita bisa lebih dalam mengeksplorasi apa arti dari "kenyataan" dalam hidup kita.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz