ABSTRAK
Modernisme merupakan salah satu gerakan dari salah satu bagian perkembangan sejarah filsafat.
Modernisme sendiri sebagai gerakan filsafat yang telah memberikansumbangan bagi peradaban manusia, terkhusus bagi gerakan filsafat.
Namun,modernismememberikanmanfaat yang besar bagi perkembangan manusia, bukan berarti modernisme tidak memiliki cacat sedikitpun.
Dan dampak inilah yang dikritik oleh para filsuf postmodernisme, salah satunya yakni Jean Baudrillard dengan pemikirannya yang unik, yakni simulakra.
Pada artikel ini, penulis mencoba untuk menjabarkan tentang peta pemikiran Jean Baudrillard tentang konsep konsumerisme yang mencoba untuk merealitaskan dunia semu.
Namun hal ini, tanpa disadari oleh kalangan masyarakat betapa tertipunya mereka dengan dunia simulakra hiperealitas.
Kata kunci: Postmodernisme, Jean Baudrillard, Simulakra
PENDAHULUAN
Hampir sebagian besar manusia di dunia ini banyak menghabiskan waktunya menjelajah ruang maya (cyberspace), bahkan ada yang merasa hidupnya akan terasa hampa ketika tidak bersentuhan dengan internet dalam sehari walaupun hanya sekadar membuka Facebook, Twitter, e-mail, ataupun situs lainnya.
Mungkin di antara kita pun banyak yang berkenalan dengan orang baru dan tidak sedikit yang melanjutkan ke hubungan yang lebih serius.
Tidak jarang pula sindiran, marah-marah, kekecewaan, dan berbagai perasaan ekspresif terungkap dalam dunia maya yang bernama internet tersebut.
Semua hal tersebut dianggap sangat wajar apalagi di zaman modern ini, di mana dunia maya mengambil hampir sebagian besar ruang nyata kehidupan kita.
Dan uniknya, interaksi langsung -yang dulunya bersemayam sangat lama memudar bahkan dianggap sangat membosankan dan membuang-buang waktu.
Cyberspace (ruang maya) sendiri didefinisikan sebagai sebuah ruang yang di dalamnya orang dapat menciptakan dan mengubah peran, identitas, dan konsep diri sesuai dengan keinginannya.
Contoh sederhananya seperti ini, ada beberapa orang yang bersusah payah mengedit fotonya menggunakan Photoshop dengan tujuan membuat dirinya setampan mungkin.
Profil dirinya pun dimanipulasi sedemikian rupa sehingga banyak orang yang tertarik berteman dan menjadikan dirinya public figure.
Mereka berusaha menonjolkan eksistensi dirinya dalam ruang maya, yang mana bisa jadi tidak diakui dalam dunia realitas.
Cyberspace telah menjelma menjadi suatu budaya tersendiri.
Semua yang terdapat di dalamnya dipenuhi dengan tanda, warna, citra, gaya, nuansa, namun tanpa makna, fungsi, dan tujuan yang semakin membuat ruang maya menjadi satu arena simulasi dan kita pun menjadi simulacrum di dalamnya.
Hal tersebut juga menyebabkan suatu bentuk kekacauan dalam bidang komunikasi dan informasi.
Munculnya aksi cybercrime yang dilakukan oleh para hacker, caci maki dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sampai pada aksi pornografi, nampak tidak bisa dibendung dalam sebuah ruang maya akibat muatan informasi yang tanpa batas1.
Meskipun telah digembar-gemborkan adanya hukum cyber, tapi masih dinilai tidak efektif karena sesungguhnya tidak ada yang secara serius mengontrol dalam ruang maya, bahkan institusi negara.
PEMBAHASAN
a. Biografi Tokoh
Jean Baudrillard atau biasa dikenal dengan Baudrillard lahir di Reims, Prancis, pada 1929.
Dibesarkan dalam keluarga kelas menengah ke bawah, kakek dan neneknya adalah petani, tetapi kelurga Jean Baudrillard berada dalam transisi kehidupan kota dan bekerja sebagai pegawai negeri atau birokrasi daerah.
Lingkungannya bukanlah lingkungan keluarga intelektual, dan Baudrillard bekerja keras di Lycee untuk mengatasinya, sebagai orang pertama dalam keluarganya untuk melakukan karya intelektual serius.2
Baudrillard adalah salah satu filusuf posmodernis, sosiolog Prancis yang terkenal dengan pemikirannya yang radikal, kontemporer politik dan seorang fotografer.
Baudrillard agak berbeda dengan filsuf- filsuf prostmodermis lainnya yang memusatkan daripada metafisika dan epistemilogi, Baudrillard lebih memilih kebudayaan sebagai medan pengkajian3 Baudrillard adalah orang pertama dari keluarganya yang bisa melanjutkan studi tinggi dari sekedar baccalaureat (istilah Bahasa Prancis adalah untuk tingkatan SMA).
Meski berharap masuk Ecole Normale Superieure (tempat banyak cendekiawan Prancis belajar), dia pernah belajar sastra Jerman di Universitas La Sorbonne di Paris.
Pekerjaan pertama yang didapatnya adalah sebagai guru SMA.
Dia mengampu pelajaran bahasa Jerman, juga pernah mengajar sosiologi dan menyelesaikan tesis dalam bidang sosiologi bersama Henri Lefebvre di Universitas of Nanterre tidak jauh dari Paris pada tahun 1966.
Baudrillard merupakan seseorang yang sangat produktif di dalam hidupnya untuk menghasilkan karya-karyanya kurang lebih sampai ia berumur 70 tahun.
Kemudian, pada tahun 2007, Jean Baudrillard mengembuskan napas terakhirnya.
b. Simulakra
Pemikiran Jean Baudrillard sangat besar dipengaruji oleh pemikiran Karl Marx yang pada awalnya ia menjauhkan driinya dari reduksionisme ekonomi dan ketidakmampuan teori marxis mengkonseptualisasikan bahasa, tanda, dan komunikasi, meskipun pada akhirnya Jean mengkritik pemikirann Marx itu sendiri.
Tetapi, sebagian besar Marx dan marxis tradisional memfokuskan pada produksi.
Sedangkan Jean memfokuskan dirinya pada konsumsi.4
Masa muda Jean juga dipengaruhi oleh strukturalis, termasuk bahasa struktural.
Merujuk pada tokoh Ferdinand de Saussure, yang melihat tanda sebagai pertemuan antarbentuk dan makna.
Ia menggunakan penanda untuk segi bentuk suatu tanda.
Dan petanda untuk segi maknanya5.
Akhirnya, dia memandang sistem objek konsumen dan sisitem komunikasi pada dasar periklanan sebagai pembentuk “sebuah kodesignifikasi”, yang mengontrol objek dan individu di tengah masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, tanda semakin di pelesetkan oleh individu untuk menjebak orang sekitarnya memusatkan perhatian pada dirinya.
Menurut Jean, masyarakat sekarang, lebih memusatkan dirinya pada pegemasan pesan dari pada isi pesan sehingga dia (tanda) menjadi relaitas tersendiri yang tak ada hubungannya dengan rujukan tanda yang dimaksud.
Manipulasi tanda ini menjadi salah satu kritik Jean pada post-strukturalis.
Konsep pemikiran Jean Baudrillard mengenai simulakra atau simulacrum adalah tentang penciptaan kenyataan tentang model konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan dunia mitos yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan.
Model ini menjadi penentu pandangan kita tentang kenyataan.
Segala yang dapat menarik perhatian minat manusia seprti rumah, gaya hidup, seni, kebutuhan rumah tangga dan lain sebagainya ditayangkan melalui berbagai media dengan model yang ideal.
Akhirnya antara simulasi dan kenyataan menjadi tercampur aduk sehingga menciptakan hiperealitas di mana nyata dan tidak nyata menjadi satu yang tidak jelas.
Jean memperkenalkan simulakra yang mendominasidunia yang mewakili tidak adanya batas antara yang semu dengan yang nyata.
Dunia telah menjadi dunia imajiner.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pada zaman futuristik ini, di mana pun, kapan pun, manusia pasti membutuhkan teknologi untuk memudahkan mereka beraktivitas dalam keadaan apa pun, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak akan lepas dari perputaran simulakra.
Pada dasarnya manusia seharusnya dapat mengontrol gerak teknologi yang menjadi kebutuhan sehari-hari, namun seiring berjalannya waktu, manusia yang dikontrol oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Manusia tanpa sadar telah menjalani dunia yang tidak nyata, seperti mimpi.
Seseorang akan mengatakan bahwa mimpi itu nyata ketika ia sedang tertidur, namun waktu ia terbangun dari mimpinya tadi, dia akan mengatakan bahwa itu tadi hanya mimpi.
Sama halnya dengan dunia yang kita tempati sekarang.
Ketika kita terbangun dari dunia ini, yang kita anggap sebagai dunia yang nyata, kita juga akan mengatakan bahwa tadi hanyalah mimpi.
Dan di dalam mimpi seseorang seakan pasti ada barang-barang yang kita butuhkan seketika, karena kitalah yang menciptakan dunia mimpi itu.6
Zaman modern ini, semua kebutuhan manusia yang awalnya hanya sekedar pelengkap perputaran realitas manusia itu sendiri, kini menjadi suatu gaya hidup yang melekat dengan realitas.
Dan pada saat manusia menjadi subjek yang dapat mengatur objek yang di luar dirinya yakni dengan memanfaatkan segala benda yang di sekitarnya, kini manusia menjadi objek dari objek yang diluar dirinya.
Artinya manusia dijadikan objek oleh gaya hidup yang terus diminati oleh manusia itu sendiri.
Bagaimna tidak, jika seseorang terus mengikuti jejak perkembangan gaya hidup, kita ambil contoh model pakaian.
Seseorang akan terus mengikuti style terbaru dari brand atau fashion ternama untuk memperoleh status dari orang di sekitarnya.
Kemudian, brand tersebut me-launching-kan model pakaian edisi terbatas dengan harga yang cukup mahal.
Dia akan rela untuk tidak makan beberapa hari ataupun meminjam uang orang lain hanya untuk dapat mendapatkan edisi terbatas tersebut.
Karena inti konsep Jean adalah konsumsi menetukan status seseorang.
c. Hiperealitas
Hyperreality menjadi ciri dari konsep pemikiran Jean Baudrillard.
Jean Baudrillard memberikan contoh Disneyland.
Disneyland adalah suatu dunia imajiner yang tidak akan dapat ditemukan di dunia nyata karena di dalamnya memiliki sifat-sifat yang futuristik dan seperti halnya dalam mimpi, ada seseorang yang mempunyai kekuatan, peri, kerajaan yang megah, penyihir dan lain sebagainya.
Disneyland menurut Jean merupakan bentuk pemujaan berhala tingkat tinggi.
Pemujaan yang menunjukkan betapa tidak rasionalnya perilaku konsumtif orang-orang yang berdatangan setiap tahun dan rela mengantri berjam-jam serta menghabiskan puluhan dollar hanya untuk memuaskan nafsu, insting, dan dorongan gaya hidup.
Sekumpulan orang-orang yang muncul adalah semu.
Semua orang di dalamnya memuaskan euforia serta menikmati kebersamaan.
Kemudian, mereka kembali terpecah menjadi individu-individu yang membosankan dengan rutinitas yang itu-itu saja.
Dan masih banyak perumpamaan lain yang bersifat hiperealitas, jika disandarkan agama, kita akan menemukan hampir seluruh dogma yang kita dengar sampai sekarang.7
Manusia simulacrum tidak akanbisa membedakan realitas yang reel dan realitas semu, ketika mereka masih menomorsatukan gaya hidup hiperealitas.
Manusia lebih mencari popularitas daripada menyayangi dirinya sendiri, lebih mencari perhatian dengan gaya hidup yang mewah tanpa menyadari latar belakang realitasnya sendiri.
d. Kritik Pop Culture
Pada tahun kemarin, 2021, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan launching-nya menu baru dari pusat makanan terkenal McDonald.
McDonald mengeluarkan menu terbarunya yang berkolaborasi dengan boyband terkenal Korea selatan yakni BTS8.
Fenomena ini tidak bisa dianggap remeh, karena hampir disetiap kota-kota besar pasti terdapat McDonald, dipadati ratusan bahkan ribuan orang yang ingin membeli menu terbatas tersebut.
Bahkan dengan berbondong-bondong jasa pemesanan makanan juga terdapati juga mengantri di gerai McDonald.
Kemudian para aparat keamanan seperti Polri juga ikut mengamankan kerumunan yang terjadi, karena pada saat itu, Indonesia masih mengalami pandemi Covid-19.
Mungkin bagi seseorang yangtidak mengidolakan BTS akan sangat heran fenomena ini dapat terjadi.
Dengan menu kolaborasi nugget, kentang goreng, minuman berkarbonasi, dan saus yang harganya Rp. 51.000.
Dari menu itu, beberapa orang berebut untuk mendapatakannya, bahkan ada yang menjual makanan serta bungkus makanannya di marketplace dengan harga yang cukup fantastis, yaitu dengan harga Rp 30.000-Rp 1.000.000.
Namun, hal seperti ini sangat logis dan lumrah terjadi.
Jika dikorelasikan dengan pendapat ahli, fenomena tersebut Jean Baudrillard (1229-2007), ia mengeluarkan sebuah teori yaitu “teori masyarakat konsumsi”.
Ada tiga poin yang disampaikanJeanBaudrillard.
Pertama, nilai tukar telah bergeser menjadi nilai tanda. Bukan lagi berdasarkan pada kegunaan suatu barang atau harga barang, tapi berdasar nilai prestise dan makna simbolis.
Kedua, komoditas menjadi suatu bangunan dalam hubungan sosial masyarakat.
Kehidupannya merupakan kumpulan kode, tanda, dan objek yang berada di sekelilingnya.
Ketiga, komoditas menjadi kepentingan yang memediasi hubungan antar manusia.
Daftar Pustaka
https://www.sosiologi.info/2021/06/teori-masyarakat-konsumsi-jean-baudrillard-contoh-pop-culture-bts-meals.html
Aginta Hidayat, Medhy. 2012. Menggugat Modernisme: menggali rentang pemikiran postmodernisme Jean Baudrillard. Yogyakarta: Jalasutra
Sarup, Madan. 2011. Poststrukturalisme dan Postmodernisme. Terjemah Meddhy Aginta Hidayat. Yogyakarta: Jalasutra
Lece, Jhon. 2007. 50 Filsuf Kontemporer. Terjemah A. Gunaawan Admiranto. Yogyakarta: Kanisius
Sari, Nur Indah. 2017. Pemikiran Jean Baudrillard Tentang Simulakra Dalam Budaya...UIN Walisongo, Semarang
Azwar, Muhammad. 2014. Teori Simulakrum Jean Baudrillard dan Upaya.,. Vol.2 No.1, hlm. 39. UIN Alauddin. Makassar
Ngaji Filsafat Dr. Fahruddin Faiz. Seri 64: Jean Baudeillard. Masjid Jendral Sudirman. Yogyakarta. 21 Januari2015.
Editor : Didin Cahya Firmansyah