Oleh :
Fitranti Suciati Laitupa
PNS RSUD dr Iskak Tulungagung
Penerima beasiswa LPDP pada bidang fellowship pencitraan kardiologi di National Taiwan University Hospital.
NEGERI Formosa, ya, nama lain dari negeri Taiwan, merupakan satu negara kepulauan di Asia Timur, di lepas pantai timur Tiongkok. Dijuluki negeri Formosa oleh pelaut Portugis, yang berasal dari bahasa Portugis, Ilha Formosa, yang berarti pulau yg indah.
Secara geografis, negara Taiwan dengan luas 36.193 kilometer persegi (kurang lebih sama besar dengan Provinsi Jawa timur), sebagian besar terdiri dari banyak pegunungan dan dataran tinggi, yang menyebabkan asal muasal julukan Negeri Formosa. Selayaknya kultur di negara sekitarnya (Cina, Korea Selatan, Jepang) Taiwan juga memiliki kultur disiplin dan etos kerja yang kuat.
Enam bulan di Taiwan memberi saya banyak pengalaman berharga dan kultur serta kebiasaan baik dari masyarakat Taiwan yang patut dicontoh, di antaranya kedisiplinan, toleransi serta hidup sehat. Beberapa kedisiplinan yang bisa saya sebut antara lain, keteraturan berlalu lintas.
Termasuk pemakaian sabuk pengaman di dalam mobil, bahkan bila kita duduk di jok belakang, adalah satu keharusan. Priority seat, atau kursi untuk orang tua, sakit ataupun ibu hamil di transportasi umum atau tempat umum seperti bus atau MRT (kereta) tidak pernah diduduki oleh orang yang tidak berhak bila ada orang yang lebih berhak menempatinya ada di sekitar situ.
Menaiki eskalator tidak bisa sembarangan, harus mengambil lajur kanan untuk jalur biasa atau lajur kiri untuk jalur cepat, dan bahkan mereka melakukannya secara otomatis meskipun tidak diawasi polisi.
Dalam hal penyeberangan jalan juga demikian. Menyeberang jalan harus dilakukan di zebra cross dan mengikuti rambu lalu lintas, tidak bisa asal. Pun Mengendarai sepeda harus di jalur sepeda, dan mengendarai motor sekalipun harus mendapat SIM yang tidak mudah didapatkan .
Dalam hal kedisiplinan kerja juga demikian. Di rumah sakit tempat penyelenggara fellowship saya, selama jam kerja mereka tidak pernah mengobrol hal-hal di luar konteks pekerjaan, terlebih pun makan. Bila ingin mengobrol di luar konteks pekerjaan ataupun makan, mereka hanya akan melakukannya saat jam istirahat yang ditetapkan rumah sakit ataupun di luar jam kerja.
Pernah suatu ketika, teman ada yang ingin mengajak foto polisi Taiwan, dan ternyata polisi tersebut menolak karena masih dalam jam kerja.Untuk masalah ketepatan waktu, mereka juga sama baiknya. Di segala agenda apapun itu baik agenda umum atau pribadi, ketepatan waktu sudah menjadi tradisi masyarakat Taiwan.
Bila ternyata nampaknya mereka akan tidak bisa tepat waktu, mereka akan segera memberitahu dan memberikan permohonan maaf sebelum agenda dimulai, meskipun terlambat hanya 15 menit. Meskipun itu seorang dosen yang terlambat memberikan kuliah kepada muridnya, mereka akan memberitahu sebelumnya dan memberikan permohonan maaf.
Bagaimana dengan hal toleransi? Nampaknya masyarakat Taiwan sudah terbiasa dengan ragam turis yang berkunjung ke sana. Memang jika kita berkunjung ke Taiwan, ada banyak ragam turis dari seluruh penjuru dunia, pun saat ini ada kurang-lebih 400 ribu warga negara Indonesia di sana.
Sehingga, dengan mudah kita bisa bertanya di manakah ada musala misalkan, apakah makanan yang akan kita makan halal, dan lain pertanyaan yang akan dijawab dengan senang hati oleh masyarakat Taiwan. Pekerja migran Indonesia di sana juga diperlakukan dengan baik oleh atasan mereka.
Hampir tidak pernah terdengar ada kekerasan fisik yang dilakukan masyarakat Taiwan pada pekerja migran Indonesia. Dalam dunia pendidikan pun demikian. Hampir tidak pernah terdengar adanya senioritas atau pem-bully-an, baik di tingkat sekolah negeri, ataupun universitas. Bahkan satu hal, sekolah negeri tidak ditarik biaya di negeri Taiwan.
Hal terakhir yang perlu diteladani adalah bagaimana pola hidup sehat masyarakat Taiwan. Bila kita berkunjung ke Taipei, ibu kota Taiwan, maka kita tidak akan menemukan kemacetan layaknya Jakarta. Karena hampir semua masyarakat berjalan kaki dan menggunakan MRT, kereta bawah tanah, atau transportasi publik yang lain untuk ke tempat tujuan.
Memang, aktivitas berjalan kaki sudah merupakan satu kebiasaan di sana, entahlah 4 km, 5 km sehari, adalah hal yang biasa bahkan bagi orang berusia senja. Tidak heran jika penyakit terbanyak di rumah sakit Taiwan adalah bukan penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup yang salah.
Dari hal hal tersebut nampaknya jelas bahwa banyak yang perlu diteladani dari negeri Taiwan. Tentunya kita tidak bisa berharap perubahan dimulai dari skala besar, tapi, dimanapun, perubahan itu dimulai dari hal hal kecil, dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah