SISTEM pertanian terpadu berkelanjutan hadir dalam rangka memberikan solusi terhadap beberapa permasalahan di antaranya adalah perubahan iklim, degradasi lahan, berkurangnya keanekaragaman hayati, dan praktik-praktik pertanian yang tidak mengedepankan prinsip kesinambungan.
Pertanian terpadu berkelanjutan adalah pendekatan pertanian secara holistik yang mengutamakan kelestarian lingkungan, ekonomi, dan sosial (El Titi and Landes, 2020).
Seiring dengan peningkatan populasi global, maka diperlukan praktik pertanian yang mampu memberikan jaminan keamanan dan kepastian dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang berkualitas.
Hal ini dikarenakan peningkatan populasi memberikan dampak terhadap peningkatan permintaan pangan. Konskuensinya adalah eksploitasi sumber daya alam dan hilangnya keanekaragaman hayati, termasuk pergeseran pola konsumsi yang mengarah pada akses komoditas pangan yang berkalori tinggi tetapi rendah gizi sebagai dampak masifnya tingkat urbanisasi (Bricas et al., 2019).
Tantangan Pertanian Berkelanjutan di Era Modern
Tantangan pengembangan pertanian berkelanjutan dapat dikategorikan ke dalam lima faktor (Devlet, 2021). Pertama, penyempitan lahan pertanian produktif. Praktik pertanian modern yang berfokus pada pengolahan lahan secara intensif, penanaman dengan sistem monokultur, dan penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan, berkontribusi pada penurunan kualitas dan kesehatan tanah (kesuburan tanah). Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya hasil panen (produksi pertanian), dan meningkatnya erosi.
Kedua, kelangkaan air. Pertanian adalah konsumen sumber daya air tawar terbesar di dunia, dan di banyak wilayah, kelangkaan air menjadi tantangan utama. Hal ini dapat membatasi kemampuan petani dalam membudidayakan tanaman pertanian dan memperburuk masalah lingkungan seperti erosi tanah dan polusi.
Ketiga, perubahan iklim. Pertanian merupakan kontributor sekaligus korban perubahan iklim. Praktik pertanian modern seperti penggunaan bahan bakar fosil, penggundulan hutan, dan produksi peternakan yang intensif dapat menyebabkan emisi gas rumah kaca. Pada saat yang sama, perubahan iklim dan/atau cuaca yang ekstrem dapat mengganggu produksi pertanian.
Keempat, kehilangan biodiversitas (keanekaragaman hayati). Pertanian modern telah menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, baik dari segi keanekaragaman tanaman maupun keanekaragaman spesies liar. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya sumber daya genetik dan membuat pertanian lebih rentan terhadap hama, penyakit, dan tekanan lingkungan lainnya.
Kelima, limbah makanan. Sejumlah besar makanan yang diproduksi di pertanian modern terbuang sia-sia karena aktivitas sistem produksi, pemrosesan, transportasi, dan penyimpanan yang tidak efisien. Tidak hanya merupakan pemborosan sumber daya, tetapi juga berkontribusi terhadap kerawanan pangan dan kelaparan.
Urgensi Usaha Peternakan
Model usaha tani terintegrasi/terpadu yang melibatkan sektor pertanian (tanaman pangan sebagai komoditas utama) dengan peternakan (ternak sebagai komoditas tambahan atau usaha sampingan) dilaporkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara keseluruhan (on farm) (Devendra et al., 2001). Hal ini disebabkan masing-masing komponen dapat saling melengkapi (komplementer).
Ternak, khususnya ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba, berperan penting dalam sistem pertanian terpadu berkelanjutan. Ternak dapat menghasilkan kotoran ternak sebagai pupuk tanaman pertanian, sedangkan tanaman pangan dapat menyediakan limbahnya untuk pakan ternak.
Sistem integrasi tanaman-ternak juga dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan, mengurangi risiko gagal panen serta dapat meningkatkan pendapatan dan atau kesejahteraan petani.
Dalam sistem ini, ternak tidak hanya berfungsi sebagai penghasil bahan pangan hewani yang berkualitas tinggi, tetapi juga sebagai bagian integral dari sistem pertanian yang berkelanjutan.
Kontribusi penting usaha perternakan dalam sistem pertanian terpadu berkelanjutan di era modern adalah:
- Peternakan dapat memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak. Peternakan, khususnya ternak ruminansia, dapat dianggap sebagai “industri biologis berkelanjutan” karena mampu mengubah bahan pakan (limbah pertanian) menjadi bahan pangan yang bernilai tinggi seperti susu dan daging. Selain itu, ternak ruminansia mampu bereproduksi, sehingga mampu bertahan lama (berkelanjutan). Di samping itu, dengan memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan, peran ternak dapat mengurangi jumlah limbah organik yang dihasilkan dari praktik produksi pertanian dan mengurangi biaya pakan).
- Peternakan dapat menyediakan pupuk organik. Peternakan dapat disebut sebagai industri pupuk bergerak karena limbah peternakan yang berupa kotoran (feses dan urine) dapat diolah menjadi pupuk organik yang berkualitas dan bermanfaat bagi kesuburan tanah dan tanaman. Konskuensinya, tingkat ketergantungan pada pupuk kimia cenderung berkurang.
- Peternakan dapat membantu mengendalikan hama dan penyakit tanaman dengan menggunakan metode pengendalian biologis. Misalnya, penggunaan predator alami, parasitoit atau mikroorganisme untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Dengan demikian, peternakan dapat membantu mengurangi penggunaan pestisida kimia yang dapat merusak lingkungan.
- Peternakan dapat meningkatkan biodiversitas, yakni memelihara berbagai jenis ternak dan tanaman. Hal ini dapat meningkatkan kekayaan hayati dan ekosistem, dan membantu menjaga kelestarian lingkungan.
- Peternakan dapat berperan sebagai penghasil energi terbarukan. Kotoran ternak sebagai bahan baku produksi biogas. Oleh sebab itu, peternakan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mengurangi emisi gas rumah kaca.(*)