MENYAMBUT Tahun Ajaran 2025/2026 Kementerian Agama me-launching kurikulum baru yang akan diberlakukan di lingkungan pendidikan madrasah yaitu Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Lounching KBC dibarengi dengan terbitnya Panduan Implementasi KBC melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025.
Nama kurikulum yang oleh sebagian orang dianggap nyleneh ini, diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan di masa super melenial generasi Society 5.0, lebih-lebih mampu menghasilkan generasi unggul menyongsong Indonesia Emas 2045.
KBC muncul setidaknya dilatar belakangi oleh keprihatinan kementerian agama atas situasi dan kondisi pendidikan di negara kita.
Tidak hanya mutu Pendidikan, lebih dari itu produk Pendidikan di madrasah belum menunjukan hasil sesuai harapan.
Pendidikan seharusnya menghasilkan insan yang berkarakter, peduli, toleran, penuh cinta dan kasih sayang.
Namun demikian hingga saat ini harapan itu ditengarai belum mampu diwujudkan. Peristiwa-peristiwa dehumanisasi dan intoleransi sering kali tampak di hadapan kita.
Meluasnya kekerasan fisik dan seksual, kasus bullying di sekolah dan bahkan di pondok pesantren menjadi keprihatinan mendalam kementerian agama.
KBC hadir membawa konsep Cinta sebagai landasan filosofis pendidikan di madrasah. Sebagaimana terdapat dalam Panduan KBC, kehadiran KBC di harapkan mampu manjawab tantangan carut marutnya kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di dunia pendidikan.
Untuk mengatasi tantangan dan mewujudkan pendidikan yang diharapkan, dibutuhkan solusi yang strategis dan tepat sasaran, salah satunya adalah adanya kurikulum yang relevan, efektif, dan berkualitas.
Pada konteks ini, Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai solusi strategis untuk merespons tantangan-tantangan tersebut sekaligus berupaya mengatasinya melalui proses Pendidikan yang bermutu.
Melalui pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai cinta dan toleransi ke dalam pembelajaran, kurikulum ini menawarkan solusi untuk berbagai konflik sosial, diskriminasi, dan ketidak adilan.
Masih senada dengan Panduan KBC, Pendidikan menjadi titik berangkat yang tepat, setidaknya, berlandaskan pada dua alasan.
Pertama, pendidikan merupakan pilihan lokus yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai sejak dini. Melalui pendidikan, anak-anak dan generasi muda dapat dibentuk menjadi individu yang memahami, menerima, menghargai, serta memberi warna pada keberagaman.
Kurikulum Berbasis Cinta merupakan kurikulum yang inklusif yang memberikan kesempatan bagi murid untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang keberagaman.
Proses internalisasi nilai-nilai seperti cinta, toleransi, empati, dan keadilan sosial dapat dilakukan secara sistematis dan terstruktur sejak usia dini.
Kedua, di lembaga pendidikan sendiri telah terjadi isu-isu minor yang mengarah pada pencederaan nilai-nilai kemanusiaan.
Misalnya, masih ditemukan praktik diskriminasi berbasis identitas di lingkungan sekolah, seperti perundungan serta kekerasan.
Oleh karena itu, Kurikulum Berbasis Cinta hadir untuk merekonstruksi sistem pendidikan agar mampu melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan.
Cinta, menurut KBBI, didefinisikan sebagai perasaan atau keadaan yang mendorong seseorang untuk menyayangi, mengasihi, atau menghargai orang lain.
Cinta dapat mencakup berbagai bentuk, seperti cinta terhadap pasangan, keluarga, teman, bahkan terhadap sesuatu yang lebih luas.
Plato mengartikan cinta sebagai keinginan untuk bersatu dengan kebaikan yang abadi dan tidak berubah, sementara itu Émile Durkheim mengartikan cinta sebagai keinginan untuk memenuhi kebutuhan sosial dan emosional, yang pada gilirannya membangun hubungan harmonis dengan masyarakat secara utuh.
Filosofi makna cinta inilah yang digunakan sebagai landasan fundamental KBC. Bukan arti Cinta menurut Sigmund Freud, yang mana dia menganggap bahwa cinta lebih merujuk pada keinginan untuk memuaskan kebutuhan seksual belaka.
Dalam hal ini penulis mendukung konsep cinta menurut Plato, Durkheim, atau yang terdapat dalam KBBI.
Makna cinta bukan bermakna “asmara”, sekedar rasa ketertarikan dengan lawan jenis belaka, tetapi cinta dimaknai sebagai sumber energi terkuat yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang hebat.
Dengan cinta yang lemah menjadi kuat, dengan cinta yang jauh terasa dekat, yang berat terasa ringan, yang sulitpun terasa mudah.
Dengan cinta itulah kemudian muncul motivasi yang kuat untuk melakukan yang terbaik, memunculkan rasa kasih dan sayang, muncul empati, peduli dan sifat toleran.
Guru harus mencintai profesinya, dan murid harus mencintai ilmu pengetahuan, alam sekitar, diri sendiri dan prestasi, serta peduli sesama, prinsip-prinsip inilah yang akan menjadi modal besar bagi komponen pendidikan madrasah untuk mengimplementasikan KBC.
Lima topik utama dalam KBC yakni Cinta kepada Alloh, Cinta Ilmu, Cinta pada Linkungan, Cinta pada diri sendiri dan sesama maanusia, serta cinta pada bangsa dan tanah air.
Menu utama itulah yang akan dijadikan roh pembelajaran di madrasah. Melalui metode pembelajaran deep learning, pembelajaran dikemas sedemikian rupa sehingga murid dapat belajar lebih bermakna.
Sejalan dengan cita-cita besar bangsa Indonesia sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 “melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia” maka sudah saatnya pendidikan diselenggarakan dengan berlandaskan filosofi cinta.
Delapan puluh tahun Indonesia merdeka saatnya seluruh komponen bangsa bermuhasabah. Yakni intropeksi diri, atas perkataan dan perbuatan baik itu hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama atau bahkan dengan alam.
Semangat perjuangan merebut Kemerdekaan harus kita revitalisasi dan diinternalisasikan dalam diri, agar ghirah perjuangan para pendahulu bangsa ini dapat kita teruskan.
Momen peringatan hari Kemerdekaan berbarengan dengan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah, kita jadikan batu loncatan membangun semangat, memadukan seluruh sumber daya.
Terutama sumber daya Pendidikan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang berdaulat dan sejahtera, sebagaimana tema HUT RI ke 80, “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Semoga.. aamiin
Editor : Dharaka R. Perdana