Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Mengenai Statistik dalam Hari Statistik Naional (HSN)

Wawan Susetya • Minggu, 21 September 2025 | 23:22 WIB

Wawan Susetya
Wawan Susetya

MENJELANG tanggal 26 September 2025 ini terlihat banyak instansi BPS di berbagai daerah dari tingkat II Kabupaten/Kota, tingkat provinsi hingga BPS Nasional pusat senantiasa gegap-gempita dalam rangka menyambut semarak Hari Statistik Nasional (HSN).

Misalnya BPS Nasional mengadakan kegiatan untuk umum seperti jalan sehat, kuis berhadiah, senam, pemberian doorprize, BPS Povinsi Bali mengadakan kegiatan berbagai macam lomba-lomba.

Di antaranya seperti Photo Contest, Cover Lagu, IG Reel Competition, Menulis artikel/opini, Statistic Competition, BPS Kabupaten Malang mengadakan Phonegraphy Competition (Photography with Smartphone), BPS Kabupaten Bogor mengadakan Lomba Infografis.

Lalu BPS Kabupaten Pemalang mengadalan lomba Upload Video Terbaikmu, BPS Jepara mengadakan lomba konten video, BPS Kabupaten OKU mengadakan lomba-lomba santai khusus untuk pegawainya, BPS Tulungagung mengadakan senam untuk umum, BPS Sumsel dengan lomba Tangkap Gambar.

Tidak ketinggalan BPS Kota Pekalongan Lomba Data Storytelling, BPS Kota Gorontalo Lomba Infografis Fotografi dan Menulis Opini, dan masih banyak lagi.

Sekali lagi semua itu merupakan kegiatan untuk menyemarakkan Hari Statistik yang diperingati setiap tahun menjelang tanggal 26 September berkaitan dengan Hari Statistik Nasional (HSN).

Sebenarnya peringatan itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya statistik dalam kehidupan sehari-hari dan pengambilan keputusan.

Hari Statistik merupakan momentum untuk menghargai kontribusi statistik dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan peneltian.

Adapun latar belakang peringatan tersebut berakar dari pengakuan bahwa data dan informasi yang akurat sangat penting untuk perencanaan dan pengembangan suatu negara.

Dengan statistik, pemerintah dan organisasi diharapkan dapat membuat kebijakan yang lebih baik dan lebih efektif berdasarkan bukti-bukti yang ada.

Seperti diketahui bahwa di berbagai negara termasuk Indonesia, Hari Statistik biasanya dirayakan dengan berbagai macam kegiatan seperti seminar, lokakarya, dan kampanye untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang statistik dan cara penggunaannya.

Memang, tanggal 26 September diperingati sebagai Hari Statistik Nasional (HSN) yang mengingatkan terhadap terbentuknya sebuah lembaga pemerintah non-departemen di Indonesia yaitu Badan Pusat Statistik (BPS).

Badan ini yang bertanggung jawab untuk melakukan survei statistik dan menunjukkan terbebasnya statistik Indonesia dari sistem perundang-undangan kolonial Belanda saat itu.

Bermula pada Februari 1920, yakni ketika bangsa kita masih dijajah bangsa Belanda, pada saat itu Pemerintah Hindia Belanda membentuk Direktorat Pertanian, Kerajinan, dan Perdagangan (Directeur Van Landbouw Nijverheid en Handel) di Bogor yang bertugas untuk mengolah dan mempublikasikan data statistik.

Selanjutnya pada September 1924, kegiatan statistik dipindahkan ke Batavia dan lembaga tersebut berganti nama menjadi Centraal Kantoor Voor de Statistiek (CKS).

Sebagaimana diberitakan Antara (18/9/2024) bahwa pada tanggal 26 September 1960, Pemerintah Indonesia mengesahkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik, menggantikan Statistiek Ordonnantie 1934 yang mengatur secara rinci mengenai penyelenggaraan statistik serta organisasi Biro Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan momentum peristiwa itu, maka Presiden Soeharto pada bulan Agustus 1996 menetapkan tanggal 26 September 1960 diundangkannya UU Nomor 7 Tahun 1960 sebagai Hari Statistik Nasional.

Momentum tersebut dipandang sebagai simbol kemerdekaan statistik Indonesia dari sistem perundang-undangan kolonial. Selanjutnya, Pemerintah RI menerbitkan UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, menggantikan UU Nomor 6 dan 7 Tahun 1960.

Perlu diketahui bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan lembaga yang secara resmi menjadi penyedia data utama yang menjadi landasan penting bagi kementerian dan lembaga-lembaga lain untuk mengoptimalkan kebijakan dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dalam hal ini, BPS patut mendapat apresiasi karena sebagai lembaga penyedia data dan informasi, lantaran BPS telah berupaya maksimal untuk mencatat, mempresentasikan, dan memproyeksikan data dengan mempertimbangkan fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan.

Seperti kita ketahui bersama biasanya BPS melakukan kegiatan survei yang telah terprogram setiap tahunnya, bekerja sama dengan kementerian/lembaga, organisasi pemerintah daerah, perusahaan, dan instansi terkait di seluruh Indonesia. Lantas apa peran BPS yang utama?

Beberapa peran penting BPS yang diatur di dalam UU Nomor 16 Tahun 1997 sebagai berikut:

Pertama, Lembaga BPS berperan dalam menyediakan kebutuhan data bagi pemerintah dan masyarakat. Data ini didapatkan dari sensus atau survei yang dilakukan sendiri dan juga dari departemen atau lembaga pemerintahan lainnya sebagai data sekunder.

Kedua, membantu kegiatan statistik di kementrian, lembaga pemerintah atau institusi lainnya, dalam membangun sistem perstatistikan nasional.

Sensus Ekonomi 2026

Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) merupakan kegiatan besar pengumpulan data ekonomi yang akan dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada Juni hingga Juli 2026, mencakup seluruh sektor usaha kecuali pertanian. 

Tujuannya adalah mendapatkan gambaran akurat tentang kondisi perekonomian nasional untuk perumusan kebijakan yang lebih tepat, serta membantu dunia usaha dalam perencanaan, pengembangan pasar, dan peningkatan daya saing. 

Adapun tujuan Sensus Ekonomi 2026 tersebut, yakni;

Pertama, Dasar Perumusan Kebijakan, yakni memberikan data faktual untuk pemerintah dalam merumuskan kebijakan strategis yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan regional. 

Kedua, bantuan bagi Dunia Usaha, yakni memberikan informasi tentang peta persaingan, peluang pasar, potensi investasi, dan strategi bisnis bagi para pelaku usaha. 

Ketiga, mencatat Potret Ekonomi, yakni mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kondisi dunia usaha, skala usaha, lapangan usaha, dan indikator ekonomi lainnya.

Keempat, identifikasi tren baru, yakni mengumpulkan data terkait ekonomi digital, ekonomi hijau, dan ekonomi biru untuk memahami perkembangan tren ekonomi terbaru. 

Adapun informasi yang dikumpulkan melalui sensus tersebut yaitu mengumpulkan berbagai data, antara lain kondisi kewilayahan, skala dan jenis lapangan usaha, kendala dan prospek usaha, permodalan dan investasi, data terkait ekonomi digital, hijau, dan biru.

Sementara itu mengenai pelaksanaan sensus yaitu waktu pelaksanaan bulan Juni hingga Juli 2026 dengan penyelenggara Badan Pusat Statistik (BPS).

Dalam hal ini BPS akan menerjunkan hampir 300 ribu petugas di seluruh Indonesia. Mengenai partisipasi masyarakat, para pelaku usaha diharapkan menyambut petugas dan memberikan jawaban yang benar sesuai kondisi usaha mereka untuk keberhasilan sensus. 

Adapun manfaat sensus bagi pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat yakni;

Pertama, manfaat bagi pemerintah yakni mampu membuat kebijakan yang lebih tepat sasaran dan akurat untuk pembangunan ekonomi. 

Kedua, manfaat usaha bagi pelaku usaha yakni dapat merencanakan strategi bisnis yang lebih baik, mengidentifikasi peluang baru, dan meningkatkan daya saing usaha mereka. 

Ketiga, bagi masyarakat yakni turut berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui partisipasi aktif dalam penyediaan data yang akurat. 

Perkembangan Wisata Di Bali dalam 3 Bulan Terakhir

Secara umum, barangkali masyarakat Indonesia ingin mengetahui bagaimana perkembangan wisata terutama di Bali dalam tiga bulan terakhir. Sebagaimana yang diberitakan melalui https://bali.bps.go.id/id/ tanggal 1 Juli 2025 diketahui mengenai keadaan pariwisata di Bali dalam kurun waktu 3 bulan.

1. Bulan Mei 2025

Pada bulan Mei 2025 wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Provinsi Bali tercatat sebanyak 602.213 kunjungan, naik 1,86 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 591.221 kunjungan.

Para wisatawan yang berasal dari Australia mendominasi kedatangan wisman keBali pada bulan Mei 2025 dengan share sebesar 23,00 persen.

Sementara itu Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada bulan Mei 2025 tercatat sebesar 58,10persen, naik sekitar 0,87 persen poin jika dibandingkan dengan bulan April 2025 yang tercatat sebesar 57,23 persen.

Jika dibandingkan dengan bulan Mei 2024 (y-on-y) yang mencapai 66,10 persen, tingkat penghunian kamar pada bulan Mei 2025 tercatat turun 8persen poin.

Sementara itu, TPK hotel non bintang tercatat sebesar 42,97 persen, naik 1,10 persen poin bila dibandingkan pada bulan April yang tercatatsebesar 41,86 persen.

2. Bulan Juni 2025

Sementara diketahui bahwa wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Provinsi Bali pada Juni 2025 tercatat sebanyak 637.868 kunjungan, naik 5,92 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya.

Yakni sebanyak 602.213 kunjungan. Wisatawan yang berasal dari Australia mendominasi kedatangan wisman ke Bali pada Juni 2025 dengan share sebesar 22,56 persen.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juni 2025 tercatat sebesar 64,66 persen, naik setinggi 6,56 persen poin jika dibandingkan dengan bulan Mei 202 yang tercatat sebesar 58,10 persen.

Jika dibandingkan dengan bulan Juni 2024 (y-on-y) yang mencapai 65,78 persen, tingkat penghunian kamar pada Juni 2025 tercatat turun 1,12 persen poin.

Sementara itu, TPK hotel non bintang tercatat sebesar 46,10 persen, naik 3,13 persen bila dandingkan dibandingkan bulan Mei 2025 yang tercatat sebesar 42,97 persen.

3. Bulan Juli 2025

Wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Provinsi Bali pada Juli 2025 tercatat sebanyak 697.107 kunjungan, naik 9,29 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 637.868 kunjungan.

Sementara wisatawan yang berasal dari Australia mendominasi kedatangan wisman ke Bali pada Juli 2025 dengan share sebesar 23,10 persen.

Adapun Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juli 2025 tercatat sebesar 67,75 persen, naik setinggi 3,10 persen poin jika dibandingkan dengan bulan Juni 2025 yang tercatat sebesar 64,66 persen.

Jika dibandingkan dengan bulan Juli 2024 (y-on-y) yang mencapai 68,78 persen, tingkat penghunian kamar pada Juli 2025 tercatat turun 1,03 persen poin.

Sementara itu, TPK hotel non bintang tercatat sebesar 49,00 persen, naik 2,90 persen poin dibandingkan bulan Juni 2025 yang tercatat sebesar 46,10 persen.

Dengan data tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa tren kedatangan para wisman ke Bali selalu naik tiap bulannya (Mei, Juni dan Juli).

Sebaliknya mengenai tingkat penghunian kamar (TPK) di hotel berbintang maupun hotel non bintang dalam tiga bulan tersebut bisa naik dan turun, meskipun sangat sedikit. Dan, wisatawan dari Australia tercatat paling banyak mengunjungi Bali. []

Daftar Kepustakaan
1. https://www.antaranews.com/berita/4340447/sejarah-hari-statistik-nasional-yang-diperingati-setiap-26-september
2. https://bali.bps.go.id/id/pressrelease/2025/09/01/717984/perkembangan-pariwisata-provinsi-bali-juli-2025.html
3. https://bali.bps.go.id/id

Editor : Dharaka R. Perdana
#bps #Hari Statistik Nasional #hsn #statistik