Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Guru, Digugu lan Ditiru (Renungan Hari Guru Nasional 25 November 2025)

Wawan Susetya • Rabu, 26 November 2025 | 05:31 WIB

 

Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung
Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung

GURU, dalam perspektif budaya Jawa seringkali dijuluki sebagai orang yang dapat digugu lan ditiru.

Digugu itu artinya dapat dipercaya atau dapat dipegang tutur katanya (ucapannya), sedang ditiru sudah jelas dapat dicontoh atau dijadikan tauladan.

Dengan demikian kata digugu lan ditiru dapat diartikan bahwa guru sebagai sosok yang dapat dipercaya dan dijadikan suri tauladan dalam kehidupan, terutama bagi murid-muridnya.

Meski demikian pada zaman Orde Baru dulu, masyarakat sering mencibir profesi guru dengan olok-olok bahwa guru itu identik wagu tur kuru; artinya kikuk penampilannya dan badannya kurus.

Hal itu mengisyaratkan bahwa profesi guru, meski sudah menjadi PNS (pegawai negeri sipil), namun gajinya sangat kecil.

Itulah sebabnya Iwan Fals dalam sebuah lagunya memprihatinkan profesi guru dengan menyebutnyasebagai Umar Bakri.

Namun seiring dengan perkembangannya, guru sekarang barangkali tidak identik lagi dengan sebutan Umar Bakri dan tak sesuai dengan ungkapan wagu tur kuru.

Sebab profesi guru sekarang ini sudah sangat jauh bila dibandingkan dengan guru di masa lalu terutama mengenai kesejahteraannya.

Hal itu, misalnya para guru yang sudah mendapatkan tambahan insentif yaitu sertifikasi yang kisarannya satu kali gaji.

Hanya saja, sayangnya para guru sekarang lebih disibukkan dengan urusan administrasi yang nantinya dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas pendidikan.

Terlepas dari hal itu, tentu, yang sangat diharapkan agar guru tetap konsisten dengan istilah dalamperspektif budaya Jawa yaitu digugu lan ditiru.

Ungkapan digugu lan ditiru tersebut sangat tepat disematkan kepada guru karena sinkron degan slogan atau semboyan dari Sistem Among Ki Hadjar Dewantara yakni Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa dan Tut Wuri Handayani.

Dalam konteks ini, digugu lan ditiru itu sinkron atau identik dengan semboyan Ing ngarsa sung tuladha; artinya seorang pemimpin (guru) yang berada di depan memberikan contoh yang baik atau menjadi suri tauladan dalam kehidupan.

Meski demikian, sayangnya dari Sistem Among Ki Hadjar Dewantara tersebut, semboyan yang dipajang di sekolah-sekolah sampai dipasang di badge seragam para siswa sekolah yaitu hanya semboyan Tut wuri handayani.

Bukankah itu merupakan parsial atau hanya sepertiga saja dari Sistem Among Ki Hadjar Dewantara?!

Artinya hal itu mengisyaratkan bahwa penerapan Sistem Among di sekolah-sekolah menjadi tidak komprehensif, tidak utuh.

Padahal diakui atau tidak, konsep Sistem Among Ki Hadjar Dewantara tersebut sudah mendunia atau go internasional, bahkan telah diterapkan atau diadopsi  di negara Finlandia hingga sistem pendidikan di negara itu (Finlandia) menjadi terbaik di dunia.

Padahal pada era tahun 1980-an, pendidikan di Finlandia lebih buruk daripada sistem pendidikan di Indonesia.

Namun, karena Finlandia melakukan reformasi pendidikan secara pesat dengan mengadopsi Sistem Among Ki Hadjar Dewantara, maka mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga menjadi terbaik di dunia.

Dan, salah satu keberhasilan dalam dunia pendidikan di Finlandia tersebut ditandai dengan memiliki kemampuan literasi yang baik para siswanya. Dan, faktor utama yang mendasarinya adalah mengenai kejujuran.

Bagaimana pun, dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran besar yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara yang nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. 

Seorang aktivias pergerakan kemerdekaan Indonesia sekaligus pendiri Perguruan Taman Siswa yang pusatnya di Yogyakarta dan Mendikbud pertama di era pemerintahan Bung Karno.

Sebagaimana nama perguruan pendidikan yang didirikan, Taman Siswa, maka Ki Hadjar memiliki konsep bahwa para siswa ketika belajar di sekolah seperti berada di taman yang menyenangkan.

Dengan demikian para siswa tidak memiliki beban berat ketika belajar, baik di sekolah maupun di rumah.

Dan, perasaan yang menyenangkan dan menggembirakan tersebut identik dengan kata “merdeka” yang kemudian dinamakan Kurikulum Merdeka Belajar yang ditetapkan pada masa Mendikbud Nadiem Makarim tahun 2022.

Sekarang pada masa Mendikbud Prof. Dr. Abdul Mu’ti diperkaya lagi dengan pembelajaran deep learning (pembelajaran mendalam) dengan mindful, meaning, joyful learning.

Pada Hari Guru Nasional 2025 ini, Pemerintah melalui Kemendikdasmen mengusung temaGuru Hebat, Indonesia Kuat”.

Hal ini menjadi tonggak untuk memperkokoh budaya keteladanan, memperluas praktik kebaikan dan mendorong transformasi ekosistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Melalui tema tersebut terdapat komitmen untuk mengapresiasi tokoh masyarakat, guru, dan tenaga kependidikan yang tidak hanya berprestasi secara individu, tetapi juga menghadirkan dampak bagi murid, lingkungan belajar, komunitas sekolah dan masyarakat luas.

Dan, pada momentum Hari Guru tanggal 25 November 2025 ini, semoga predikat “guru tanpa tanda jasa” dan “pembangun insan cendekia” tetap melekat di dada para guru.

Selain itu diharapkan pula guru dapat menerapkan konsep Sistem Among Ki Hadjar Dewantara secara komprehensif dan semboyan guru digugu lan ditiru tetap menyatu di dada para guru. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#budaya jawa #digugu lan ditiru #guru