Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Manusia sebagai Makhluk Sosial di Tengah Transformasi Interaksi Modern

Tim Redaksi • Rabu, 17 Desember 2025 | 01:00 WIB
(Kiara Anjar Sari/Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Baru Ilmu Komunikasi)
(Kiara Anjar Sari/Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Baru Ilmu Komunikasi)

Manusia sejak awal peradaban tidak pernah hidup sendiri. Interaksi sosial menjadi kebutuhan mendasar yang memungkinkan manusia membangun identitas, memahami nilai dan norma, serta menciptakan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat.

Hubungan dengan keluarga, teman, dan lingkungan sosial berperan penting dalam membentuk kepribadian serta makna hidup manusia.

Oleh karena itu, manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial yang tidak dapat dipisahkan dari interaksi dengan sesamanya.

Perkembangan teknologi komunikasi dan digitalisasi dalam beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan besar pada pola interaksi sosial.

Kehadiran internet, media sosial, dan berbagai platform komunikasi digital memungkinkan manusia berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Aktivitas sosial yang sebelumnya mengandalkan pertemuan langsung kini dapat dilakukan secara virtual melalui pesan instan, video call, unggahan media sosial, serta simbol digital seperti emoji, likes, dan komentar.

Perubahan ini memunculkan dinamika baru dalam cara manusia membangun hubungan sosial dan memaknai kedekatan emosional.

Dalam kajian sosiologi klasik, Aristoteles memandang manusia sebagai zoon politikon, yakni makhluk yang hanya dapat berkembang secara optimal dalam kehidupan bersama.

Durkheim menekankan bahwa masyarakat modern bertumpu pada solidaritas organik yang lahir dari pembagian kerja dan saling ketergantungan antarindividu.

Sementara itu, Mead melalui teori interaksionisme simbolik menjelaskan bahwa identitas diri terbentuk melalui interaksi sosial dan penggunaan simbol.

Ketiga pandangan ini menegaskan bahwa interaksi sosial tetap menjadi fondasi kehidupan manusia, meskipun bentuk dan mediumnya terus mengalami perubahan.

Transformasi interaksi modern sangat terasa dalam relasi pertemanan. Di era digital, pertemanan dapat terjalin melalui media sosial, komunitas daring, dan berbagai platform online.

Pertemanan digital memungkinkan perluasan jaringan sosial, akses informasi yang lebih luas, serta terbentuknya komunitas berbasis minat, hobi, pendidikan, dan profesi.

Namun, kedekatan emosional yang terbangun melalui interaksi digital sering kali tidak sedalam hubungan yang terjalin secara tatap muka.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kualitas relasi antara pertemanan online dan offline.

Identitas digital juga menjadi aspek penting dalam kehidupan sosial modern. Melalui media digital, individu cenderung menampilkan citra diri tertentu agar diterima dalam lingkungan sosial online.

Konsep self-presentation menjelaskan bahwa pencitraan ini dapat menciptakan tekanan sosial, terutama ketika identitas digital tidak sejalan dengan identitas nyata.

Selain itu, komunikasi berbasis teks yang minim konteks emosional, sebagaimana dijelaskan dalam teori Media Richness, membuat interaksi digital berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan hubungan yang lebih dangkal.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang memiliki budaya komunal kuat, transformasi interaksi modern menghadirkan tantangan tersendiri.

Nilai-nilai sosial seperti gotong royong, solidaritas, dan musyawarah perlu tetap dijaga agar tidak terkikis oleh dominasi interaksi digital.

Oleh karena itu, keseimbangan antara interaksi online dan offline menjadi hal yang penting untuk menjaga kualitas hubungan sosial.

Secara keseluruhan, perubahan teknologi tidak menghilangkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial.

Interaksi digital hanya mengubah bentuk, ruang, dan medium komunikasi, sementara kebutuhan akan kebersamaan, kedekatan emosional, dan solidaritas tetap melekat dalam kehidupan manusia.

Dengan literasi digital yang baik dan pengelolaan interaksi yang bijak, manusia dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendukung untuk memperkaya, bukan menggantikan, hubungan sosial yang bermakna di era modern.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#digitalisasi #Interaksi Sosial #manusia #Komunikasi Digital