Kita hidup di zaman serba cepat, di mana pagar rumah semakin tinggi dan interaksi tatap muka seringkali digantikan dengan layar ponsel.
Dalam kesibukkan ini, fondasi paling dasar dari masyarakat kita yaitu kebersamaan di lingkungan mulai terkikis. Manusia adalah makhluk sosial sejati dan pastinya kita tidak bisa hidup sendiri.
Namun, ketika kita semakin individualis, kita berisiko mengubah lingkungan kita menjadi sekumpulan orang asing yang kebetulan tinggal berdekatan.
Artikel ini mengajak kita untuk melihat kembali kekuatan yang tersimpan dalam kegiatan sederhana, yakni gotong royong dan tatap muka menjadi perekat utama yang menjaga hubungan kebersamaan kita tetap utuh.
Mengapa kita merasa bahagia dan terikat setelah menyelesaikan kerja bakti, meskipun badan terasa pegal?
Menurut teori fungsionalisme sosiologi yang dipelopori Emile Durkheim, kegiatan seperti gotong royong, arisan, atau ronda malam bukanlah sekadar pekerjaan fisik.
Ini adalah ritual kolektif yang sangat penting karena memiliki fungsi utama yaitu menjaga keteraturan dan keharmonisan.
Saat kita bersama-sama membersihkan selokan atau menyiapkan acara 17-an, kita menciptakan energi emosional bersama.
Ada rasa bangga dan puas ketika melihat hasil kerja keras kolektif. Inilah yang menciptakan kohesi sosial, sebuah perekat yang menumbuhkan perasaan kuat bahwa “Kita semua ada di perahu yang sama.”
Ini memastikan tidak ada warga yang merasa terisolasi. Maka dari itu kita tetap harus mendirikan suatu harapan besar untuk bisa meraih kedepannya, dan tidak bertolak belakang again.
Di luar acara formal, kekuatan komunitas justru paling terlihat di tempat-tempat informal seperti warung kopi atau pos ronda.
Tempat-tempat ini adalah panggung interaksi yang dimana menurut teori Interaksionisme Simbolik (Sosiologi), saat ngopi, bercanda, atau sekadar bertegur sapa, warga sedang melakukan pembacaan karakter satu sama lain.
Mereka saling memberi tahu melalui bahasa tubuh, candaan, atau bisa juga dengan cara merespons terkait siapa mereka, seberapa bisa diandalkan, dan seberapa tulus mereka.
Interaksi tatap muka yang jujur ini menjadi kuncinya yaitu dengan membangun kepercayaan. Biasanya kepercayaan ini dibangun dari tatap muka dan konsistensi sikap, bukan dari chat singkat.
Memperkuat pemahaman dengan pertemuan langsung memungkinkan kita memahami masalah dan kesenangan tetangga.
Adapun pendapat lain dari sudut pandang antropologi budaya, gotong royong dan ritual tatap muka adalah tradisi yang mengakar kuat di Indonesia.
Tradisi ini bukan hanya kebiasaan, melainkan nilai budaya yang diturunkan, yang mendefinisikan identitas kita sebagai masyarakat.
Kehadiran fisik dalam ritual ini seperti saat upacara adat atau kerja bakti adalah cara kita menghormati leluhur serta mempertahankan identitas kolektif kita di tengah gempuran modernisasi.
Kembali terkait pembahasan tentang kohesi sosial. Istilah dari sosiologi klasik ini dipopulerkan oleh Emile Durkheim.
Secara sederhana, kohesi sosial adalah kekuatan yang mengikat anggota atau masyarakat satu sama lain.
Ini adalah rasa persatuan, solidaritas, dan rasa memiliki yang membuat masyarakat tidak tercerai-berai dan membuat individu merasa bagian dari suatu kelompok.
Bayangkan saja masyarakat sebagai sebuah bangunan. Kohesi sosial itu bagaikan semen atau perekatnya yang membuat semua bata atau masing-masing individu tersebut menempel erat dan tidak roboh.
Dengan prinsip dasar Fungsionalisme menurut Emile Durkheim, menganggap bahwa masyarakat seperti sebuah organisme hidup atau tubuh manusia.
Agar tubuh berfungsi, setiap organ seperti jantung atau otak itu harus menjalankan peran atau fungsi spesifiknya.
Adapun keterkaitannya dengan teori Dramaturgi dari sosiologi terkenal Erving Goffman. Goffman berpendapat bahwa kehidupan sosial sehari-hari pada dasarnya adalah sebuah pertunjukan sandiwara di atas panggung.
Kita semua adalah aktor sosial yang terus menerus mencoba mengelola kesan yang kita tinggalkan di mata penonton atau orang lain. Tujuan utama kita adalah meyakinkan penonton bahwa kita memang benar-benar orang yang sedang kita perankan.
Untuk mempertahankan citra ini, kita bergerak antara dua area utama seperti di teater yaitu adanya konsep front stage atau biasa disebut panggung depan.
Ruang di mana pertunjukkan resmi berlangsung, di mana anda menyadari bahwa anda sedang diawasi atau dinilai. Contoh penerapannya di lingkungan adalah rapat RT, gotong royong, pos ronda atau saat menerima tamu penting.
Di front stage, anda harus menampilkan peran yang ideal serta yang diharapkan oleh masyarakat seperti sikap menjadi warga yang patuh, bertanggung jawab, sopan, dan peduli.
Tetapi, Anda juga harus berusaha menyembunyikan kelemahan, kemalasan, atau emosi yang tidak pantas.
Konsep kedua lainnya seperti konsep back stage atau panggung belakang. Konsep yang dimana aktor alias kita dapat bersantai, melepas peran, dan mempersiapkan diri untuk pertunjukkan berikutnya karena ruang ini tersembunyi dari pandangan penonton.
Contoh penerapannya di lingkungan adalah dapur rumah sendiri, obrolan privat tentang tetangga terdekat yang sudah sangat di percaya, atau saat beristirahat di dalam pos ronda.
Di sini kita bebas untuk mengeluh, bergurau kasar, atau tampil apa adanya tanpa takut merusak citra diri yang sudah dibangun.
Melalui interaksi tatap muka di front stage inilah citra diri dan kepercayaan dibangun secara nyata, dikarenakan jika kita selalu tampil baik, konsisten, dan memenuhi peran ideal kita saat rapat atau kerja bakti, warga lain atau penonton akan menyimpulkan bahwa citra tersebut adalah realitas kita.
Kesan konsisten ini pada akhirnya akan memberi kita kepercayaan dan status sosial yang tinggi dimata orang lain.
Hal ini mustahil diakukan jika hanya dengan melalui pesan singkat atau grup chat. Dalam pesan digital, kita hanya menampilkan teks tanpa ekspresi dan bahasa tubuh, sehingga proses pembacaan karakter oleh penonton menjadi tidak lengkap dan mudah disalahartikan.
Seperti grup chat RT itu memang praktis untuk menampung beberapa informasi atau pengumuman, tapi coba pikirkan seberapa sering kita benar-benar merasa dekat dengan tetangga hanya lewat emoticon jempol dan lain sebagainya?
Kepercayaan sejati itu dibangun dari kejujuran dan kejujuran hanya muncul saat kita hadir seutuhnya. Saat kita duduk bersama di pos ronda, kita tidak bisa menyembunyikan wajah lelah atau kekhawatiran kita.
Ketika kita bergotong royong dan badan terasa pegal, kita menunjukkan bahwa kita mau berkorban waktu dan tenaga untuk kepentingan bersama.
Sedangkan di dunia digital, kita hanya menampilkan versi dan tersaring dari diri kita. Kita sering salah paham atau merasa pesimis, karena kita tidak bisa membaca kerutan dahi, jeda bicara, atau senyum tulus yang muncul saat tatap muka.
Kalau tetangga hanya kenal kita dari chat, mereka hanya kenal tampilan kita, bukan diri kita yang sebenarnya. Kita jadi sekumpulan nama di layar, bukan keluarga yang saling peduli. Tantangan yang ada disekitar kita itu bisa merusak kembali tali persaudaraan yang kita rangkai.
Jika kita tidak berhati-hati, masyarakat kita berisiko mengalami keadaan dimana norma-norma sosial semakin melemah, dan individu merasa kehilangan arah atau terisolasi.
Hilangnya interaksi tatap muka seperti gotong royong adalah penyebab utama norma-norma sosial melemah dalam konteks lingkungan kita.
Sebenarnya ada cara untuk mencegah keruntuhan norma dan ikatan sosial ini, kita harus secara sadar kembali kepada praktik-praktik yang telah terbukti secara fungsional yaitu dengan mengutamakan kehadiran fisik karena mengingat bahwa kepercayaan sejati itu dibangun dari kejujuran, dan kejujuran hanya muncul saat kita hadir seutuhnya.
Kita harus menjadikan gotong royong bukan hanya sebagai tugas, melainkan sebagai ritual yang menciptakan energi emosional bersama.
Nilai gotong royong dan ritual tatap muka juga memiliki akar dalam kajian antropologi budaya. Gotong royong dan ritual tatap muka adalah tradisi yang mengakar kuat di Indonesia.
Tradisi ini bukan hanya kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun, melainkan nilai budaya yang diturunkan, yang mendefinisikan identitas kita sebagai masyarakat.
Kehadiran fisik dalam ritual-ritual ini adalah cara kita menghormati leluhur. Di tengah semua gadget dan budaya luar yang masuk, gotong royong mengingatkan kita bahwa kita adalah komunitas yang saling membantu, bukan individu yang bersaing sendirian.
Dalam budaya kita, komunikasi itu tidak hanya soal kata-kata, tetapi kita juga harus memahami atau bisa membaca kode di balik kata yang terucap.
Saat kita bertatap muka, kita tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga membaca bahasa tubuh, mimik wajah, dan nada bicaranya itu.
Semua itu adalah kode atau simbol penting yang menjelaskan makna sebenarnya dari perkataan seseorang.
Tatap muka memungkinkan kita melihat apakah seseorang itu tulus atau tidak. Kalau hanya kenal dari chat, kita sering salah paham karena kita tidak bisa membaca kerutan dahinya, jeda bicaranya, atau senyum tulusnya yang muncul saat tatap muka.
Tatap muka memastikan kita tidak jadi sekumpulan nama di layar, tapi keluarga yang saling peduli. Nilai kebersamaan ini juga berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang berbasis budaya.
Dalam masyarakat yang kuat gotong royong-nya, jika satu warga tertimpa musibah seperti sakit atau kesulitan ekonomi itu komunitas akan bergerak membantu.
Praktik ini juga memastikan setiap anggota komunitas merasa diakui dan dihargai, yang merupakan fondasi utama dari budaya yang sehat dan berkelanjutan.
Dari sudut pandang Sosiologi, lingkungan yang kohensif atau padu adalah suatu keharusan. Kembali lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial, kita diciptakan untuk bisa hidup berkelompok.
Ilmuwan sosial menyebut juga kondisi ini sebagai kebutuhan akan solidaritas sosial. Kita bisa mengatakan bahwa gotong royong itu seperti jembatan menuju keluarga besar.
Di tengah arus globalisasi dan individualisme modern, tantangan terbesar kita adalah mempertahankan semua sikap satu kesatuan yang menciptakan persatuan itu. Dan kebersamaan itu tidak boleh luntur, karena ini adalah benteng terakhir kita.
Lingkungan yang solid adalah tempat di mana anak-anak tumbuh dengan nilai-nilai kolektif, dan kita semua memiliki rasa aman yang tidak bisa dibeli.
Sebenarnya banyak sekali orang orang yang menganggap sikap kebersamaan ini tidak selalu menghasilkan atau menciptakan kesatuan yang seharusnya.
Tetapi dengan adanya pemikiran itu, kita bisa membuktikan bahwasannya ada langkah-langkah atau cara tepat untuk membangun kebersamaan yang sesuai dengan tujuan atau ekspetasi.
Adapun beberapa pilar-pilar kebersamaan seperti keamanan dan ketahanan lingkungan seperti gelar Siskamling itu bisa dianggap sebagai manifestasi gotong royong untuk keamanan dikarenakan ia termasuk dalam tanggung jawab bersama yang dimana dalam konsepnya, keberhasilan atau kegagalan suatu tugas adalah tanggung jawab seluruh komunitas, bukan hanya individu.
Ada pula kaitannya dengan aspek solidaritas dan kepedulian dengan cara membangun solidaritas, meningkatkan kepedulian terhadap apapun terutama pada ancaman, semua akan bahu-membahu meresponsnya.
Lalu terdapat juga permbagian tugas yang adil atau biasa kita sebut dengan musyawarah. Yang dimana pasti kita menetapkan pembagian tugas yang adil berdasarkan kesepakatan bersama dan juga terdapat penerapan jadwal piket dan lain semacamnya melalui musyawarah agar adil dan disepakati bersama.
Pembagian tugas ini memastikan tidak ada satu pihak pun yang dibebani dan semua warga mendapatkan giliran untuk berkontribusi. Dan ada juga kaitannya dengan efisiensi sumber daya.
Biasanya kita mengalami keterbatasan seperti lingkungan itu seringkali memiliki keterbatasan sumber daya pengamanan formal seperti dana untuk satpam ataupun alat keamanan.
Siskamling bisa menjadi solusi efektif dan efisien karena memanfaatkan sumber daya manusia yang sudah ada sebagai kekuatan utama pengamanan, tanpa perlu membayar atau menggaji pengaman dari luar secara formal.
Jika siskamling fokus pada keamanan preventif, maka respon cepat tanggap komunitas tapi juga berbasis gotong royong itu berfokus pada bantuan dan pemulihan darurat.
Peran cepat tanggap komunitas melibatkan tindakan segera dan terorganisir yang dilakukan oleh warga untuk menyelamatkan, membantu, dan memulihkan anggota komunitas yang sedang tertimpa musibah, baik itu bencana alam skala besar maupun musibah pribadi seperti kecelakaan atau sakit parah.
Ada beberapa peran kunci dan mekanisme gotong royong yang terjadi seperti fase tanggap darurat yakni penyelamatan dan evakuasi, penyediaan informasi cepat, bantuan kebutuhan dasar.
Lalu ada fase bantuan logistik seperti penggalangan dana, kerja bakti. Dan ada juga fase pemulihan jangka menengah atau dukungan berkelanjutan karena biasanya musibah atau bencana itu lebih seringkali meninggalkan dampak psikologis dan juga ekonomi.
Dengan memberikan dukungan emosional dan moral secara rutin yakni menjenguk korban yang sakit, dan mengadakan kegiatan sosial untuk masyarakat yang terdampak, memberikan bantuan material seperti istilahnya bedah rumah secara gotong royong dan memberikan bantuan pemulihan ekonomi seperti komunitas dapat membantu korban yang kehilangan mata pencaharian akibat musibah nelayan yang kapalnya rusak atau adanya warung terbakar itu dengan memberikan modal usaha kecil atau mencarikan pekerjaan sementara.
Intinya peran cepat tanggap komunitas ini mencerminkan filosofi bahwa penderitaan satu orang adalah penderitaan seluruh komunitas.
Ini menciptakan jaring pengaman sosial yang sangat kuat di mana bantuan datang secara instan karena didorong oleh rasa persaudaraan, solidaritas, rotong royong.
Tantangan terbesar bagi gotong royong dan kebersamaan di era modern memang bersumber dari dua kekuatan utama seperti individualisme atau gaya hidup yang mementingkan diri sendiri dan urbanisasi atau perpindahan dan penumpukan penduduk di perkotaan.
Individualisme adalah gaya hidup atau pandangan yang mengutamakan kepentingan, kebebasan, dan pencapaian pribadi di atas kepentingan komunitas.
Hal ini dipicu oleh globalisasi dan persaingan ekonomi serta ada pula dampak utamanya pada kehidupan sosial yaitu memicu sikap acuh tak acuh dan hanya fokus pada urusan sendiri.
Dan urbanisasi adalah proses perpindahan penduduk secara besar-besaran dari desa ke kota, yang mengakibatkan pertumbuhan pesat dan padatnya kehidupan kota dan ada pula dampak utamanya pada kehidupan sosial yaitu menciptakan lingkungan sosial yang heterogen, dan serba cepat.
Kedua hal ini bisa mengikis erosi kebersamaan karena individualisme dan urbanisasi itu mengubah pola interaksi, prioritas, dan persepsi masyarakat terhadap peran mereka dalam komunitas.
Dampak individualisme itu misalnya hanya memprioritaskan waktu dan kesibukan dengan memiliki tingkat kesibukan yang sangat tinggi, munculnya ketidakpedulian sosial terhadap masalah sosial yang ada di sekitarnya.
Begitupula dampak urbanisasi, kehidupan kota yang serba cepat dan padat menciptakan lingkungan fisik dan sosial yang tidak mendukung kebersamaan seperti contohnya di kota itu masyarakat berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda beda, mulai dari suku, agama dan juga budaya.
Hubungan sosial menjadi impersonal atau tidak mengenal dekat, tidak seperti di desa yang bersifat face-to-face dan kekeluargaan.
Perilaku ini mengurangi rasa memiliki dan memudahkan seseorang untuk bersikap individualis. Mobilitas tinggi atau warga kota memiliki mobilisasi yang tinggi yakni pindah tempat tinggal, bekerja jauh.
Hal ini bisa juga membuat ikatan sosial sulit terbentuk dan rapuh karena sering terputus oleh perpindahan.
Tantangan untuk keberlanjutan gotong royong di era ini bukanlah sekadar menghilangkan praktik berikut, melainkan bagaimana kita menemukan bentuk adaptif yang sesuai dengan tantangan modern.
Dengan kata lain, kebersamaan tidak hilang, tetapi ia berubah bentuk dan memerlukan upaya sadar untuk dipertahankan di tengah arus individualisme dan urbanisasi.
Keberlanjutan gotong royong sangat bergantung pada penerimaan dari generasi muda. Bagi generasi milenial dan gen Z, gotong royong tradisional seringkali berbenturan dengan nilai-nilai mereka yaitu mencakup digitalisasi, fleksibilitas dan dampak yang terukur.
Tanggapan terhadap persepsi gen Z bahwasannya gotong royong itu kuno atau membuang waktu disebabkan juga karena kurangnya efisiensi, contoh semisal kegiatan kerja bakti membersihkan selokan selama 4 jam sering kali dinilai tidak efisien dibandingkan dengan membayar tukang atau jasa professional yang bisa menyelesaikannya lebih cepat.
Kurangnya koneksi dengan tujuan, generasi muda cenderung mencari kegiatan yang memberikan tujuan atau dampak yang jelas dan bisa diukur.
Mereka sulit melihat output dari sekadar kumpul-kumpul atau kegiatan seremonial. Kebanyakan juga mereka berpendapat bahwa gotong royong harus diredefinisikan bukan sebagai kewajiban fisik yang kaku, tetapi sebagai platform untuk kolaborasi yang efisien, berorientasi solusi, dan didukung teknologi yang menghasilkan dampak sosial yang nyata.
Dengan menyesuaikan diri, gotong royong dapat berevolusi dari praktik fisik yang kaku menjadi model kolaborasi sosial yang dinamis, efisien, dan didukung teknologi yang menjadikannya relevan dan menarik bagi generasi milenial dan gen Z.
Betapa pentingnya kita menampung pendapat-pendapat dari berbagai pihak yang berbeda, karena jika kita hanya mengandalkan pendapat dari satu sisi saja maka akan menimbulkan kebersamaan ini menjadi pecah belah karena tidak melihat perspektif dari pihak lain.
Tujuan kita juga harus menyamaratakan bagaimana cara agar semua pihak mau berkontribusi dalam hal apapun itu yang bisa menciptakan kebersamaan atau kesatuan itu tetap ada dan berdiri kokoh.
Dan ada hal terpenting juga untuk membangun sikap terpuji ini ialah tidak egois terhadap keinginan diri sendiri.
Jikalau kita berlaku seenaknya sendiri didepan banyak orang itu akan membuat orang lain menjadi malas untuk terlibat atau berkontribusi karena sikap egois atas keinginannya sendiri itu.
Kebersamaan yang sukses harus membangun modal sosial bonding atau ikatan kuat di dalam in-group dan modal sosial bridging atau ikatan yang menghubungkan in-group dengan out-group.
Intinya, jika kita ingin kebersamaan lingkungan atau gotong royong sukses dan tahan banting, kita butuh dua jenis ikatan sosial tersebut. Ikatan kuat ke dalam atau modal sosial bonding itu bisa kita ibaratkan seperti perekat super yang menyatukan anggota keluarga inti.
Ikatan ini berfokus menciptakan kepercayaan mendalam dan saling dukung di antara orang-orang yang sudah memiliki kesamaan seperti tetangga dekat, satu suku, satu agama atau satu RT.
Contohnya seperti arisan ibu-ibu pkk, menjenguk tetangga yang sedang sakit, dan iuran dana darurat yang dibutuhkan.
Ada juga kekuatan yang diciptakan dalam ikatan tersebut yaitu kehangatan, keamanan dan dukungan emosional. Ini adalah jaring pengaman pertama.
Kita tahu pasti tetangga di sebelah akan membantu saat genting. Ini adalah kekuatan yang mengikat.
Jika ada masalah internal, penyelesaiannya cepat karena didasari rasa kekeluargaan yang kuat.
Tetapi, ada juga risiko yang timbul yaitu jika terlalu kuat, ikatan bonding bisa menciptakan sekat dengan lingkungan luar.
Komunitas bisa menjadi tertutup dan sulit menerima pendatang baru atau ide dari luar. Jadi kita butuh ikatan bonding ini untuk merasa aman dan memiliki lingkungan terdekat.
Ikatan yang menghubungkan ke luar atau biasa disebut modal sosial bridging bisa kita ibaratkan seperti jembatan yang menghubungkan lingkungan kita dengan dunia luar.
Ikatan ini berfokus menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dan kerjasama antara lingkungan kita dengan kelompok yang berbeda seperti RT sebelah.
Contoh nyata seperti kerjasama antara Karang Taruna lingkungan dengan Karang Taruna dari kelurahan lain, audiensi dengan kantor kecamatan untuk perbaikan jalan, atau kemitraan dengan bank sampah kota.
Ikatan ini juga memiliki kekuatan yakni akses terhadap sumber daya, informasi, dan peluang baru. Jembatan ini memungkinkan lingkungan kita berkembangan dan tidak ketinggalan zaman.
Berikut juga adalah kekuatan yang menghubungkan, dan membantu lingkungan mengakses dana, teknologi, dan pengaruh politik yang tidak dimiliki secara internal.
Tetapi, ada juga risiko yang ditimbulkan yakni ikatan dangkal. Hubungan bridging seringkali lebih formal dan transaksional, sehingga kurang memberikan kehangatan emosional seperti ikatan bonding.
Intinya, kita juga memerlukan ikatan bridging agar lingkungan kita tetap adaptif dan maju karena bisa mengambil manfaat dari luar.
Kebersamaan yang sukses memerlukan keseimbangan, jika hanya ada modal sosial bonding itu komunitas akan menjadi seperti pulau.
Mereka kuat di dalam, tetapi miskin di sumber daya, informasi, dan rentan terhadap perubahan dari luar sehingga menjadi eksklusif.
Jika hanya ada modal sosial bridging, komunitas memiliki banyak koneksi luar, tetapi hubungan internalnya lemah. Warga tidak peduli satu sama lain dan tidak ada rasa kekeluargaan yang mudah hilang.
Setelah memahami pentingnya keseimbangan antara modal sosial bonding dan bridging, tantangan berikutnya adalah bagaimana menginstitusionalkan praktik gotong royong agar menjadi sistem yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan biasa.
Instituonalisasi berarti menyematkan nilai-nilai kebersamaan ke dalam struktur, aturan, dan rutinitas komunitas, sehingga ia berjalan secara otomatis melampaui kepentingan individu atau pergantian kepemimpinan.
Kepemimpinan di tingkat RT/RW atau komunitas memiliki peran sentral sebagai motor penggerak kebersamaan.
Seorang pemimpin yang efektif harus mampu bertindak sebagai aktor sosial yang konsisten di hadapan warganya, terutama saat rapat atau kerja bakti.
Konsistensi membangun kepercayaan sejati di mata masyarakat, sesuatu yang mustahil dilakukan hanya melalui pesan digital.
Selain itu, pemimpin lokal berfungsi sebagai jembatan antar kelompok, memastikan modal sosial bridging terbentuk.
Mereka harus proaktif menjalin kemitraan dengan pihak luar seperti kantor kecamatan, bank sampah kota, dan lingkungan lain untuk mendatangkan sumber, daya, informasi, dan peluang yang dibutuhkan komunitas.
Tanpa kepimpinan yang jujur dan kuat, baik bonding maupun bridging akan sulit terwujud dan komunitas akan rentan. Adanya bonding yang didatangkan dalam beberapa hal yang diharuskan dalam suatu hal yang kita ketahui.***
Editor : Vidya Sajar Fitri