Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengaruh Pandemi COVID-19 terhadap Dinamika Keluarga di Indonesia, Perspektif Teori Struktur Sosial Talcott Parsons

Tim Redaksi • Sabtu, 20 Desember 2025 | 05:31 WIB
(Ajeng Puspita Sari/202510040110076/Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang)
(Ajeng Puspita Sari/202510040110076/Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang)

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam struktur dan dinamika keluarga.

Di Indonesia, keluarga sebagai unit sosial terkecil menghadapi tekanan yang signifikan akibat krisis kesehatan, ekonomi, dan sosial secara bersamaan.

Pembatasan aktivitas melalui kebijakan PSBB dan PPKM memaksa keluarga untuk beradaptasi dengan pola hidup baru, seperti bekerja dari rumah, belajar daring, serta terbatasnya interaksi sosial.

Kondisi ini menjadikan keluarga sebagai pusat aktivitas sekaligus sumber tekanan baru.

Untuk memahami perubahan tersebut, teori struktur sosial Talcott Parsons dapat digunakan sebagai kerangka analisis.

Parsons memandang keluarga sebagai subsistem penting dalam masyarakat yang memiliki empat fungsi utama, yaitu penyesuaian (adaptation), pencapaian tujuan (goal attainment), pengintegrasian (integration), dan pemeliharaan pola nilai budaya (latency).

Pandemi COVID-19 menguji keempat fungsi ini secara bersamaan.

Dari aspek penyesuaian, banyak keluarga Indonesia mengalami guncangan ekonomi akibat kehilangan pekerjaan dan menurunnya pendapatan, terutama bagi mereka yang bergantung pada sektor informal.

Kondisi ini memaksa keluarga untuk mencari strategi bertahan hidup baru, seperti usaha rumahan atau memanfaatkan teknologi digital.

Perubahan peran dalam keluarga pun terjadi, di mana perempuan sering memikul beban ganda antara pekerjaan domestik dan ekonomi.

Pada fungsi pencapaian tujuan, khususnya pendidikan anak, pandemi membawa dampak besar.

Penutupan sekolah dan pembelajaran daring membuat keluarga mengambil alih sebagian peran lembaga pendidikan.

Namun, keterbatasan akses internet dan kemampuan orang tua mendampingi anak belajar menciptakan kesenjangan pendidikan, terutama antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

Hal ini berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Fungsi pengintegrasian keluarga juga menghadapi tantangan serius. Intensitas interaksi yang tinggi dalam ruang terbatas memicu konflik rumah tangga.

Data menunjukkan peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga selama pandemi, yang dipicu oleh stres ekonomi dan tekanan psikologis.

Meski demikian, bagi sebagian keluarga, situasi ini justru memperkuat ikatan emosional melalui komunikasi yang lebih intens dan kebersamaan yang sebelumnya jarang terjadi.

Sementara itu, dalam fungsi pemeliharaan nilai dan norma, keluarga berperan penting dalam menjaga stabilitas sosial.

Pandemi menjadi momentum refleksi nilai gotong royong, kepedulian, dan solidaritas sosial yang masih kuat dalam budaya Indonesia.

Keluarga yang mampu menanamkan nilai-nilai tersebut terbukti lebih resilien menghadapi krisis.

Dengan demikian, pandemi COVID-19 tidak hanya menjadi krisis kesehatan, tetapi juga peristiwa sosial yang mengubah dinamika keluarga secara mendalam.

Melalui perspektif Talcott Parsons, dapat dipahami bahwa keluarga Indonesia dituntut untuk beradaptasi secara cepat agar tetap menjalankan fungsinya.

Dukungan kebijakan publik, penguatan ekonomi keluarga, serta perhatian terhadap kesehatan mental menjadi kunci untuk membangun ketahanan keluarga pascapandemi.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#pandemi #Kehidupan masyarakat #sosial #COVID-19