Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dan keberadaan orang lain.
Dorongan untuk berhubungan, berkomunikasi, serta memahami lingkungan sekitar membuat interaksi sosial menjadi kebutuhan dasar dalam kehidupan manusia.
Sejak lahir hingga dewasa, manusia selalu berada dalam jaringan relasi sosial yang membentuk nilai, sikap, dan perilaku.
Namun, perkembangan teknologi komunikasi, khususnya media digital, telah membawa perubahan besar dalam cara manusia membangun dan memaknai hubungan sosial tersebut.
Era media digital menghadirkan ruang interaksi baru yang tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu.
Hubungan sosial kini tidak hanya terjadi melalui tatap muka, tetapi juga melalui pesan instan, foto, video, dan berbagai platform media sosial.
Perubahan ini memengaruhi cara manusia menampilkan diri, membentuk identitas, serta menjalin relasi dengan orang lain.
Identitas individu tidak lagi sepenuhnya dibangun melalui interaksi langsung, melainkan juga melalui representasi digital yang dapat disunting dan dikurasi sesuai keinginan.
Perubahan pola interaksi sosial di era digital dapat dipahami melalui Teori Interaksionisme Simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan Herbert Blumer.
Teori ini menekankan bahwa tindakan manusia terbentuk melalui proses penciptaan makna dalam interaksi sosial.
Konsep “self” atau diri menjelaskan bahwa individu memahami dirinya berdasarkan bagaimana ia membayangkan pandangan orang lain terhadap dirinya.
Dalam konteks media sosial, konsep ini terlihat jelas melalui ketergantungan individu pada respons publik seperti likes, komentar, dan bentuk validasi sosial lainnya.
Selain itu, konsep “generalized other” menjelaskan adanya standar sosial umum yang memengaruhi perilaku individu.
Di era digital, standar tersebut muncul dalam bentuk gaya hidup ideal, tren visual, dan norma komunitas daring.
Hal ini mendorong individu untuk menyesuaikan diri agar diterima secara sosial.
Akibatnya, muncul berbagai fenomena seperti self-branding, pencitraan diri, dan Fear of Missing Out (FOMO) yang menunjukkan kuatnya kebutuhan manusia akan pengakuan sosial di ruang digital.
Sebagai makhluk sosial, manusia membangun identitas melalui proses sosialisasi yang melibatkan keluarga, sekolah, kelompok teman, dan masyarakat.
Interaksi sosial memungkinkan manusia belajar nilai, norma, dan peran sosial yang membentuk identitas dirinya.
Kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan diakui menjadi dorongan utama dalam menjalin hubungan sosial.
Media digital tidak menghilangkan kebutuhan tersebut, melainkan memperluas cara manusia memenuhinya.
Media sosial membawa dampak positif dan negatif dalam kehidupan sosial.
Di satu sisi, teknologi memudahkan manusia membangun jaringan sosial yang luas, mempercepat pertukaran informasi, serta membuka peluang relasi lintas budaya.
Di sisi lain, penggunaan media digital yang berlebihan dapat meningkatkan individualisme, mengurangi interaksi tatap muka, serta menimbulkan ketergantungan yang berdampak pada kepekaan sosial dan kesehatan mental.
Meskipun pola interaksi mengalami perubahan, esensi manusia sebagai makhluk sosial tetap tidak berubah.
Manusia tetap membutuhkan hubungan yang melibatkan empati, komunikasi, dan keterhubungan emosional. Media digital hanyalah sarana baru dalam memenuhi kebutuhan sosial yang telah melekat pada diri manusia sejak awal.
Dengan demikian, hakikat manusia sebagai makhluk sosial tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.***
Editor : Vidya Sajar Fitri