Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ketika Hidup Terasa Tidak Bernilai: Tekanan Sosial, Depresi, dan Krisis Makna pada Remaja

Tim Redaksi • Sabtu, 20 Desember 2025 | 16:01 WIB
(Berlian Okta Fivia/202510040110069/Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang)
(Berlian Okta Fivia/202510040110069/Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang)

Kebanyakan manusia tidak sadar terhadap nilai hidupnya.

Munculnya tekanan dari keluarga, teman, dan pasangan sering kali membuat seseorang merasa terpuruk, hingga kesehatan mentalnya benar-benar diuji.

Tidak sedikit remaja yang akhirnya memilih mengakhiri hidup karena depresi terhadap arah hidup yang dianggap berantakan dan tidak memiliki pilihan lain untuk menyelesaikannya.

Fenomena ini dapat dianalisis melalui Teori Stres dan Koping (Lazarus & Folkman, 1984), yang menyatakan bahwa stres muncul ketika seseorang menilai bahwa tuntutan lingkungan melebihi kemampuan atau sumber daya yang dimilikinya.

Remaja yang dihadapkan pada tuntutan akademik, ekspektasi keluarga, dan standar sosial media yang tinggi sering merasa gagal dan tidak berdaya.

Tekanan ini diperparah oleh minimnya dukungan sosial yang efektif.

Selain itu, Teori Erikson tentang Tahap Perkembangan Psikososial menunjukkan bahwa remaja berada pada tahap identitas versus kebingungan peran.

Remaja mencari jati diri dan arah hidup, tetapi jika mereka mengalami tekanan yang berlebihan, proses pembentukan identitas bisa terganggu, meningkatkan risiko depresi dan perasaan tidak berharga.

Keluarga sering menjadi sumber harapan, namun tanpa disadari juga dapat menjadi sumber tekanan.

Tuntutan untuk “harus berhasil” atau “tidak boleh mengecewakan orang tua” membuat remaja merasa hidupnya hanya bernilai jika mampu memenuhi ekspektasi.

Di sisi lain, pertemanan dan hubungan asmara juga membawa tekanan tersendiri, terutama ketika validasi diri bergantung pada penerimaan orang lain.

Sayangnya, banyak remaja yang memendam perasaan tersebut.

Minimnya ruang aman untuk bercerita membuat masalah mental dianggap kelemahan, bukan sesuatu yang perlu dibicarakan.

Akibatnya, depresi berkembang perlahan hingga muncul ide untuk mengakhiri hidup.

Artikel ini mengajak masyarakat untuk melihat lebih dekat realitas remaja saat ini.

Sejauh mana tekanan sosial memengaruhi cara remaja memaknai hidupnya? Apakah mereka merasa memiliki kendali atas masa depan, atau justru merasa terjebak tanpa pilihan?

Untuk menjawabnya, riset langsung ke masyarakat menjadi penting, misalnya melalui wawancara dengan remaja, orang tua, dan konselor.

Dengan memahami tekanan sosial dan kondisi psikologis remaja, kita dapat membangun strategi dukungan yang efektif.

Menyediakan ruang aman untuk bercerita, mengenalkan literasi kesehatan mental, dan mendorong empati di lingkungan keluarga maupun sekolah merupakan langkah awal.

Setiap individu layak dihargai, bukan karena pencapaian, tetapi karena keberadaannya sebagai manusia.

Selain tekanan dari lingkungan sosial, faktor internal juga berperan penting dalam kesehatan mental remaja.

Persepsi diri yang negatif, kurangnya keterampilan mengelola emosi, dan rendahnya kepercayaan diri dapat membuat stres semakin sulit ditangani.

Teori Kognitif Beck (1976) menyebutkan bahwa pikiran negatif yang terus-menerus dapat memperkuat depresi, karena individu mulai meyakini bahwa masalah yang dihadapi tidak ada jalan keluarnya.

Hal ini menjadi lingkaran setan yang membuat remaja semakin terjebak dalam perasaan tidak berharga.

Peran sekolah dan institusi pendidikan juga tidak bisa diabaikan.

Tekanan akademik, perbandingan prestasi dengan teman sebaya, dan tuntutan untuk selalu unggul dapat memperburuk stres.

Program konseling yang efektif di sekolah, pelatihan manajemen stres, dan kegiatan ekstrakurikuler yang positif dapat menjadi sarana untuk mengurangi tekanan tersebut.

Menurut penelitian, keterlibatan dalam aktivitas sosial dan kreatif membantu remaja membangun rasa percaya diri, identitas diri yang lebih kuat, dan kemampuan koping yang lebih baik.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#identitas #kesehatan mental #manusia #realitas