Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengenang Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw

Wawan Susetya • Senin, 19 Januari 2026 | 22:33 WIB

 

Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung
Wawan Susetya, Budayawan Tulungagung

PERISTIWA Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw terjadi pada suatu malam pada tanggal 27 Rajab.

Tepatnya pada tahun 621 M atau pada tahun ke-10 tahun masa Kenabian (atau 10 tahun ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul/Nabi Allah).

Dengan demikian usia Nabi Muhammad Saw berkisar 50 tahun.

Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw yakni mendapatkan perintah Allah Swt secara langsung untuk melaksanakan ibadah shalat fardhu atau menjalankan shalat lima waktu; Isya’, Subuh, Dhuhur, Ashar dan Maghrib.

Meski demikian, sebelum datangnya peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut, Nabi Muhammad telah melaksanakan ibadah shalat.

Dalam satu keterangan, konon shalatnya Nabi Saw saat itu—atau sebelum turunnya perintah shalat—yakni shalat dua rakaat pada malam hari.

Tapi, bagaimana dengan kaum muslimin pada saat itu?

Karena pada saat itu belum ada perintah shalat, yakni dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, maka kaum muslimin secara umum memang belum menjalankan ibadah shalat.

Baru setelah peristiwa Isra’ Mi’raj itu kaum muslimin menjalankan ibadah shalat fardhu atau shalat lima waktu.

Dan, ibadah shalat fardhu tersebut merupakan amalan dari Rukun Islam yang ke-2.

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw itu terjadi setelah wafatnya dua orang yang sangat dicintai Nabi Muhammad Saw dan mereka pun sangat mencintai Nabi Saw, yakni istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib.

Kedua figur atau sosok tersebut benar-benar seperti perisai atau pelindung Nabi Saw terutama pada saat Rasulullah Saw menjalankan syi’ar dakwah Islamiyah pada masa periode Islam awal di Makkah.

Pertama, Khadijah adalah seorang istri yang kaya-raya (barangkali kalau zaman sekarang istilahnya konglomerat) yang merelakan semua hartanya dipergunakan oleh suaminya Nabi Muhammad saw untuk menjalankan syi’ar dakwah terutama dimulai dari Kota Makkah dan sekitarnya.

Kedua, pamannya Abu Thalib yang senantiasa melindungi atau mengayomi keponakannya Muhammad Saw dalam menghadapi kaum kafir jahiliyah di Makkah Arab Saudi.

Dengan keberadaan Sang paman Abu Thalib, ternyata orang-orang kafir jahiliyah saat itu banyak yang merasa segan dengan ayah Sayyidina Ali Karomahullahu wa’jah itu.

Secara manusiawi, wajarlah kiranya setelah dua orang yang sangat dicintai itu wafat, maka Nabi Muhammad Saw sangat sedih.

Prihatin. Itulah sebabnya pada masa itu dikenal sebagai Amul Huzni atau “Tahun Duka Cita” Nabi Muhammad saw. Dalam pada itu, Allah Swt lalu menghibur Rasul-Nya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj.

Dan, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw sebagaimana diinformasikan di dalam al-Qur’an (QS Al Israa’ : 1): “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Israa’ : 1).

Berdasarkan ayat di atas, ada dua peristiwa, yakni Isra’ dan M’raj;

Pertama, peristiwa atau perjalanan Isra’ yakni perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Yerusalem Palestina.

Kedua, peristiwa atau perjalanan Mi’raj, yakni perjalanan dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha (Langit ke-7) sehingga berjumpa dengan Allah Swt secara langsung untuk mendapatkan perintah shalat lima waktu.

Dan, sesuai dengan kenyataan pada saat itu, setelah peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi, maka hebohlah masyarakat Arab terutama masyarakat Makkah.

Mereka merasa tidak habis mengerti; bagaimana mungkin Nabi Muhammad Saw dapat menempuh perjalanan yang sangat jauh dalam peristiwa Isra’, yakni dari Masjidil Haram di Makkah(Arab Saudi) sampai ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis di Yerusalem (Palestina) yang jaraknya sekitar 1500 km yang dapat dilakukan dalam semalam?

Padahal jarak sejauh itu atau 1500 km untuk ukuran pada masa itu dengan perjalanan menggunakan kendaraan unta kira-kira membutuhkan waktu selama 40 hari.

Belum lagi perjalanan atau peristiwa Mi’raj dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha atau yang sering disebut sebagai Langit ke-tujuh hingga berjumpa dengan Allah secara langsung untuk mendapatkan perintah shalat lima waktu bagi kaum muslimin.

Namun, sebaliknya bagi orang-orang yang beriman, seperti para sahabat Nabi Saw, tentu mereka langsung mengimani atau mempercayainya sebagai dasar melaksanakan ibadah fardhu.

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw tersebut tentu saja bukan merupakan peristiwa yang rasional maupun ir-rasional, tetapi trans-rasional karena melampaui dimensi ruang dan waktu.

Itulah sebabnya peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan suatu peristiwa yang luar biasa yang diberikan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw.

Selain itu, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas bahwa Allah Swt telah memberkahi antara Masjidil Haram di Makkah (Arab) ke Masjidil Aqsha di Yerusalem (Palestina) dan sekelilingnya.

Itulah sebabnya Ka’bah atau Masjidil Haram di Kota Makkah (Arab) dan Masjidil Aqsha di Kota Yerusalem disebut sebagai “Kota Suci” bagi umat Islam.

Barangkali penyebutan “Kota Suci” tersebut juga mengimbas ke kawasan negara-negara Timur yang dekat dengan Makkah dan Yerusalem.

Dan, wajarlah kiranya jika banyak Rasul dan Nabi Allah yang lahir dari kawasan “Kota Suci” dan sekitarnya.

Artinya, bahwa keberadaan Rasul dan Nabi Allah identik dengan ilmu bagi umat manusa, misalya yang terhimpun dalam 4 kitab suci; Taurat, Zabur, Injil dan al-Quran,

Dan bila kita amati keadaan dua masjid—sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Israa 1 di atas—betapa keadaannya sangat paradoks; Masjidil Haram di Makkah (Arab) identik dengan kemakmuran, kekayaan, kesenangan, kebahagiaan, dan kejayaan, sementara Masjidil Aqsha di Yerusalem (Palestina) identik dengan penderitaan, kesengsaraan, kemiskinan, keprihatinan dan sebagainya.

Dan, itulah gambaran mengenai keadaan kehidupan nyata di dunia yang tak lepas dari suasana suka-duka, senang-susah, kaya-miskin, baik-jahat, bahagia-menderita dan sebagainya. []

Editor : Dharaka R. Perdana
#nabi muhammad #Isra Miraj