ADA tradisi yang dilakukan secara turun-temurun oleh umat Islam, terutama masyarakat Jawa menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, yakni mengadakan Slametan Megengan yang dimaksudkan sebagai amaliyah sedekah (shodaqah) kepada para tetangga atau masyarakat lingkungan sekitar.
Tradisi tersebut juga sebagai penanda bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. Dan, sesuai dengan arti katanya, megengan berarti megeng atau biasa dimaknai megeng napas yang berarti menahan atau menahan nafas.
Yakni menahan dari segala keinginan yang melampaui batas karena kita hendak menunaikan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Itulah sebuah tengara khusus yang digali melalui ijtihad para Ulama Jawa Ahlus sunah waljamaah dulu bahwa amaliyah yang sangat dianjurkan menjelang datangnya bulan puasa wajib di bulan Ramadhan yaitu memberikan sedekah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk slametan megengan.
Dan, menjelang Ramadhan 1447 H ini juga banyak yang menyelenggarakan slametan megengan di mushola-mushola dan masjid-masjid.
Selain memberikan shodaqah melalui slametan megengan, pada bulan Sya’ban atau disebut bulan Ruwah dalam kalender Jawa para Ulama Jawa dulu juga memberikan anjuran memberikan penghormatan kepada para leluhurnya, yakni dengan cara menziarahi makam mereka.
Hal itu identik dengan makna bulan Ruwah; yang artinya memberikan penghormatan kepada para arwah leluhur kita yang sudah meninggal dunia dengan cara berziarah ke kuburnya.
Setelah memasuki bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan menunaikan ibadah puasa sebulan penuh sebagaimana firman Allah Swt dalam Surah al-Baqarah ayat 183 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Perspektif Puasa Bagi Orang Jawa
Menurut Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, puasa orang Islam dibagi tiga, yakni Pertama, puasanya orang awam, yakni menahan tidak makan-minum dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
Puasa ini dinamakan puasanya orang awam karena terutama puasanya menahan lapar dan dagaha di siang hari atau puasa perut semata.
Kedua, puasa khusus; yakni selain hal di atas juga mengendalikan fikiran dan panca indera kita, yakni mengendalikan pandangan mata, pendengaran dari telinga, penciuman hidung, ucapan melalui mulut, dan perabaan kulit.
Ketiga, puasa khusus-bikhusus; yakni selain hal di atas juga memiliki kesadaran di hati untuk senantiasa mengingat Allah Swt dalam setiap keadaan.
Dalam hal ini, orang Jawa dulu sering kali mengistilahkan puasa itu dengan kata pasa; yakni dimaksudkan ngeposne rasa atau mengistirahatkan rasa.
Ada ilustrasi menarik yang disampaikan para leluhur Jawa dulu mengenai Rukun Islam yakni dengan orang yang sedang memanjat pohon kelapa.
Pertama, pohon kelapa yang tinggi menjulang itu melambangkan Syahadat. Pohon kelapa biasanya bentuknya seperti huruf Alif atau angka 1 yang mengisyaratkan mengenai ketauhidan atau meng-Esa-kan Allah.
Kedua, orang yang memanjat pohon kelapa identik atau melambangkan orang yang sedang menunaikan ibadah shalat lima waktu. Shalat sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an yaitu sedang menempuh jalan pendakian.
Ketiga, orang yang memanjat pohon kelapa tadi kemudian memetik buah kelapa yang merupakan ilustrasi mengenai zakat.
Keempat, orang yang memanjat pohon kelapa tadi kemudian mapah (istirahat di atas daun kelapa) atau istilahnya ngepos (mengistirahatkan rasa) yang identik dengan puasa; semata-mata untuk mengenang Allah Swt melalui zikir-wirid panjang.
Kelima, orang yang memanjat pohon kelapa tadi kemudian berdiri untuk memetik atau mengambil janur; yakni sejane neng nur (Nurullah; cahaya Allah), ber-makrifat kepada Allah (mengenal Allah Swt) sehingga menjadi insan yang muttaqien (takwa).
Perspektif Islamisasi Jawa dan Jawanisasi Islam
Pasca bulan puasa, setelah menjalankan shalat Ied (Idul Fitri) di lapangan atau masjid, umat Islam di Indonesia pada umumnya biasanya saling bersilaturahim kepada keluarga (orang tua, sanak-kerabat dan sahabat) untuk saling bermaaf-maafan.
Dengan mengucap “Taqaballahu minna waminkum, taqabbal ya kariim” atau biasanya yang lebih sering “Minal aidzin wal faidzin” yang diartikan mohon maaf lahir dan batin.
Tradisi di Indonesia hari raya Idul Fitri biasanya selama 2 hari. Namun, di daerah Trenggalek dan Tulungagung Jawa Timur ada tradisi yang turun-temurun yaitu tradisi Bada Kupatan atau biasanya dilaksanakan pada hari ke-delapan.
Hal itu dimaksudkan merayakan hari raya (bada) setelah menjalankan puasa sunnah Syawal selama 6 hari mulai hari kedua di bulan Syawal.
Hari raya Kupatan itu biasanya dilaksanakan dengan lebih meriah daripada hari raya pertama di bulan Syawal.
Biasanya warga Trenggalek terutama di desa-desa Kecamatan Durenan dan daerah Tulungagung menyediakan masakan ketupat yang diberikan kepada siapa saja yang bersilaturahmi kepada mereka. Karena menu yang dihidangkan ketupat, maka dinamakan bada Kupatan.
Sementara kupatan itu sendiri dimaknai sebagai laku papat (amaliyah empat) hal, yakni Pertama, Lebaran; yakni lebaran (setelah menjalan ibadah puasa di bulan Ramadhan) yang kemudian menjalankan ibadah Shalat Ied (Idul Fitri) dan bersilaturahim kepada orang tua dan para kerabat handai tolan.
Kedua, Laburan; yakni menjelang hari raya Idul Fitri biasanya orang-orang Jawa selalu melabur rumahnya dengan bahan gamping berwarna putih yang melambangkan kesucian. Maknanya membersihkan rumah menjadi lebih bersih dan rapi.
Ketiga, Leburan; yakni memperbanyak silaturahim kepada orang tua dan sanak kerabat untuk memohon maaf atau saling memaafkan. Itulah yang disebut leburan atau nglebur dosa (menghilangkan dosa kepada sesama manusia).
Keempat, Luberan; yakni bagi orang yang berkelimpahan rizki biasanya sering memberikan sedekah (shodaqah) kepada para faqir-miskin dan anak-anak yang bersilaturahim ke rumahnya.
Dengan demikian menjelang dan sesudah ibadah puasa di bulan Ramadhan, sangat banyak dijumpai amalan dalam perspektif Jawanisasi Islam.
Seperti slametan megengan atau megeng napas yang diwujudkan melalui slametan megengan atau shodaqah kepada para lingkungan masyarakat dengan memberikan makanan yang disebut brekat.
Maknanya barokah (berkah), memberikan penghormatan kepada para leluhur dengan menziarahi makamnya, bada kupatan, dan sebagainya.
Bagi orang Jawa, amalan-amalan itu disebut perspektif Jawanisasi Islam lantaran unsur Jawanya lebih dominan yang terkait dengan perspektif Agama Islam.
Sementara, amalan seperti slametan yang diakhiri dengan doa selamat dalam Bahasa Arab, Yasinan-Tahlilan ketika kirim doa dan sebagainya lebih identik dengan Islamisasi Jawa.
Sebagaimana syi’ar dakwah yang dilakukan para Wali Sanga secara lentur dan persuasif kepada masyarakat Jawa di zaman dahulu hingga mengalami keberhasilan yang gilang-gemilang. ****
*Penulis adalah Sastrawan-budayawan dan pegiat Satu Pena Jawa Timur, tinggal di Tulungagung.