Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menjemput Cahaya Al Qadar di Ujung Tembang Asmaradana

Tim Redaksi • Jumat, 13 Maret 2026 | 09:21 WIB

 

(OLEH: SUYOKO, GURU MTsN 3 TULUNGAGUNG)
(OLEH: SUYOKO, GURU MTsN 3 TULUNGAGUNG)
 

Memasuki sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, atmosfer di sekitar kita biasanya mengalami pergeseran yang ganjil namun terasa indah. Ada semacam "magnet spiritual" yang mulai menarik orang-orang kembali ke rumah Tuhan.

Masjid-masjid dan Mushola, Langgar atau Surao yang mungkin sempat melandai di pertengahan bulan, kini kembali berdenyut. Bukan sekadar rutinitas salat tarawih, melainkan sebuah pencarian sunyi yang disebut I’tikaf.

Di balik wajah-wajah yang menunduk dalam sujud dan bibir yang basah oleh zikir itu, tersimpan satu ambisi suci: “menjemput Lailatul Qadar”.

Al-Qur’an dalam Surah Al-Qadr melukiskan malam ini dengan kata-kata yang menggetarkan: Lailatul qadri khairum min alfi syahr.

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Jika kita konversi secara matematis, itu setara dengan 83 tahun lebih sebuah rentang usia manusia dewasa yang dihabiskan hanya untuk beribadah tanpa henti.

Namun, Al Qadar bukanlah sekadar hitungan angka atau kalkulasi pahala. Ia adalah malam penetapan takdir, malam di mana "cetak biru" kehidupan setahun ke depan sedang ditata ulang oleh Sang Maha Pencipta.

Lebih dalam lagi, kata Al-Qadr juga berarti "sempit". Mengapa sempit? Para mufasir menjelaskan bahwa pada malam itu, bumi menjadi sesak karena berjubelnya malaikat yang turun ke dunia.

Dipimpin oleh Ar Ruh (Malaikat Jibril), mereka turun membawa kedamaian (salamun hiya) hingga fajar menyingsing.

Bayangkan, entitas cahaya yang biasanya menghuni langit kini berada di sela-sela barisan jamaah, mengaminkan setiap doa, dan mengusap hati yang sedang terluka.

Inilah momen transendental di mana batas antara yang gaib dan yang nyata menjadi sangat tipis. Maka, sangatlah logis jika tradisi Jawa kemudian menangkap fenomena besar ini dengan bahasa yang lebih akrab di telinga masyarakat melalui metafora "Dewa Nglanglang Jagad".

Keduanya berbicara tentang hal yang sama: adanya "tamu agung" dari langit yang sedang membawa bingkisan rahmat bagi siapa pun yang tidak sedang terlelap.

Berburu Lailatul Qadar, dengan demikian, bukan sekadar urusan menahan kantuk fisik. Ia adalah upaya menjaga kewaspadaan jiwa agar tidak melewatkan momentum ketika frekuensi langit sedang sejajar dengan bumi. Ia adalah malam perburuan takdir baru, di mana seseorang bisa "melompat" secara spiritual melampaui waktu hidupnya sendiri.

Namun, di tengah semangat berburu kemuliaan ini, seringkali kita terjebak pada ritualitas fisik semata. Kita terjaga semalam suntuk, tapi hati kita mungkin masih tertidur.

Di sinilah, saya teringat pada sebuah untaian serat lama dalam khazanah budaya Jawa, tembang Macapat, yaitu tembang Asmaradana yang konon terkait erat dengan piwulang agung Kanjeng Sunan Giri, yang sangat masyhur: Aja Turu Sore Kaki.

Tembang Macapat Asmarandana tersebut lengkapnya sebagai berikut:

Aja turu sore kaki,

ana Dewa nglanglang jagad,

nyangking bokor kencanane,

isine donga tetulak,

sandhang kalawan pangan,

yaiku bageyanipun,

wong melek sabar narima

Secara harfiah, tembang ini menasihati kita agar jangan tidur terlalu sore karena ada "Dewa" yang berkeliling dunia membawa cawan emas berisi doa penolak bala, sandang, dan pangan.

Rezeki dan keberkahan itu hanya akan dibagikan kepada mereka yang terjaga (melek), sabar, dan menerima. Jika kita tarik garis merahnya dengan konsep Lailatul Qadar, ada kemiripan esensi yang luar biasa.

Dalam Islam, dikisahkan bahwa pada malam Qadar, para malaikat turun ke bumi (termasuk Malaikat Jibril) untuk mengatur segala urusan dan menebarkan kedamaian hingga terbit fajar.

Nasihat Aja Turu Sore Kaki seolah menjadi "panduan teknis" yang bersumber dari kearifan lokal bagi kita untuk menjemput Lailatul Qadar. Bukan berarti kita dilarang tidur secara biologis total, namun ini adalah pesan tentang kewaspadaan spiritual dan manajemen waktu.

Dalam konteks modern, "turu sore" atau tidur terlalu awal bisa dimaknai lebih luas. Ini bukan sekadar memejamkan mata di atas bantal pada pukul tujuh malam. "Tidur" di sini adalah simbol dari kelalaian, kenyamanan yang melenakan, dan sikap abai terhadap sekitar.

Berapa banyak dari kita yang "terjaga" secara fisik hingga dini hari di bulan Ramadan, namun sebenarnya sedang "tidur" secara spiritual? Kita asyik dengan gawai, berselancar di media sosial, atau sekadar mengobrol kosong di teras masjid sambil menunggu waktu sahur.

Kita terjaga, tapi kita melewatkan "Dewa nganglang Jagad". Kita melewatkan getaran spiritual yang seharusnya kita tangkap dengan radar hati.

Memburu Lailatul Qadar dengan semangat Asmaradana berarti melatih diri untuk disiplin. Kita diajak untuk mengelola kantuk, mengelola nafsu untuk santai, dan menggantinya dengan kewaspadaan (eling lan waspada). Tembang tersebut menyebutkan tiga syarat untuk mendapatkan bagian dari "cawan emas" keberkahan:

  1. Melek (Terjaga): Ini adalah langkah awal. Untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa, dibutuhkan pengorbanan. Di malam-malam terakhir Ramadan, melek kita harus bernilai ibadah. Terjaganya mata harus dibarengi dengan terjaganya kesadaran bahwa kita sedang berada di zona waktu yang sangat mustajab.
  2. Sabar: Memburu Lailatul Qadar bukan seperti mengejar diskon di pusat perbelanjaan yang kepastiannya bisa dilihat mata. Ini adalah perjalanan sunyi. Butuh kesabaran untuk tetap istiqomah ketika raga mulai lelah dan mata mulai berat.
  3. Narima (Menerima): Ini adalah sikap rendah hati di hadapan Tuhan. Setelah ikhtiar melek dan bersabar, kita berserah diri. Kita menyadari bahwa Lailatul Qadar adalah hak prerogatif Allah. Sikap narima menjauhkan kita dari rasa sombong merasa paling shaleh karena sudah bergadang semalaman di masjid.

Pesan Aja Turu Sore Kaki juga mengingatkan bahwa keberkahan yang turun itu berupa "sandhang kalawan pangan" dan "donga tetulak".

Ini menunjukkan bahwa spiritualitas dalam tradisi Jawa maupun Islam tidaklah melangit tanpa pijakan. Spiritualitas harus berdampak pada kesejahteraan hidup dan keselamatan dunia akhirat.

Lailatul Qadar yang kita buru seharusnya tidak hanya membuat kita merasa "suci" secara pribadi, tapi juga membuat kita lebih peduli pada urusan "sandhang pangan" sesama. Bukankah esensi Ramadan juga tentang zakat dan sedekah?

Seseorang yang benar-benar mendapatkan cahaya Lailatul Qadar pasti akan terbangun dari "tidur egoisnya" dan mulai melihat kesulitan saudara-saudaranya.

Ramadan akan segera berlalu. Momen "Dewa nglanglang jagad" dalam wujud turunnya para malaikat di malam Qadar sudah di depan mata. Mari kita maknai nasihat pitutur luhur ini sebagai penyemangat.

Jangan tidur terlalu sore, Jangan biarkan jiwa kita terlelap dalam urusan duniawi yang sementara, tepat di saat pintu langit sedang dibuka lebar-lebar. Mari kita perbanyak melek hati, menguatkan sabar, dan melapangkan dada untuk narima segala ketetapan-Nya.

Sebab, keberkahan itu hanya akan tumpah ke dalam wadah yang siap, yakni jiwa-jiwa yang terjaga dan waspada berbalut  hati yang sabar . Selamat memburu malam seribu bulan dengan semangat kearifan yang tak lekang oleh zaman.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#lailatul qadar #ramadan #iktikaf #takdir