Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Persiapan Menuju Fitrah dengan Mensucikan Hati dari Kebencian: Musahabah di Akhir Ramadan

Tim Redaksi • Rabu, 18 Maret 2026 | 21:54 WIB
(Ekka Zahra Puspita Dewi , Kepala Program Studi D3-Bahasa Korea Universitas Madani Indonesia Blitar)
(Ekka Zahra Puspita Dewi , Kepala Program Studi D3-Bahasa Korea Universitas Madani Indonesia Blitar)

Ramadan sudah hampir berpamitan. Beruntunglah kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu Ramadan kembali di tahun ini. Betapa banyak sanak, saudara dan kenalan kita yang tidak bisa lagi bersua dengan Ramadan sebab telah terpanggil pulang.

Merujuk hal tersebut, sepatutnya di sepuluh malam terakhir ini kita melakukan muhasabah dan perbaikan ibadah yang sebelumnya mungkin belum mencapai level maksimal, baik dari segi ibadah mahdhah maupun ibadah muamalah. 

Dalam ibadah muamalah, Islam memerintahkan untuk menjaga perasaan, berbaik-baik dalam bermajelis, melarang melakukan hal-hal yang dapat membuat saudaranya sedih dan memancing prasangka buruknya.

 Jika ditilik lebih dalam, betapa indah ajaran agama Islam. Kita tidak diizinkan untuk saling bermusuhan, melainkan sebisa mungkin saling menjaga hati dan perasaan demi memperkuat ukhuwah antara satu dengan lainnya. Kita diminta untuk menjaga ukhuwah islamiyyah yang memiliki peran signifikan untuk kepentingan umat.

Akan tetapi, hari ini banyak sekali dijumpai sesama Muslim yang saling melanggengkan permusuhan, saling merasa benar sendiri, tidak mau mendengar nasihat, buta, tuli dan bisu terhadap orang yang dibencinya, sekalipun kebenaran datang darinya.

Bahkan tidak sedikit yang terang-terangan saling membenci, mencaci, menghina secara verbal maupun tertulis di berbagai media. Peristiwa ini perlu kita highlight untuk tidak mentoleransi berdiam-diaman dengan saudaranya melebihi hari ketiga, atau paling parah saling musuh memusuhi sesama Muslim. 

Baca Juga: Puasa: Cermin Kesadaran Rakyat dan Ujian Integritas Pemimpin

Sebagai manusia, kita tentu tahu bahwa keluputan, ketidaksempurnaan adalah dua hal yang melekat erat dalam diri manusia. Allah sudah me-nas-kan itu, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. To err is human.

Jika sudah tahu demikian, apabila ada orang lain yang berbuat salah mari kita mengambil hikmah darinya, melalui mendalami, alasan apa yang membuatnya bersikap demikian, kemudian menggali kebaikan apa yang hendak Allah tunjukkan kepada kita melalui perilaku orang tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa kita berjumpa dengan orang-orang di sekitar kita selalu membawa dua hal, yakni pengalaman dan pembelajaran, tidak pernah hadir keburukan. Meski demikian, jangan sampai hati kita mengutuk atau mengolok-olok perilaku orang yang berbuat salah itu.

Bisa jadi, nanti entah kapan kita akan mendapatkan ujian yang sama dengannya. Cukup tundukkan hati serta pandangan, dan minta kepada Allah agar terjaga dari hal-hal yang jauh dari keridaan-Nya.

Selain itu, perlu bagi kita untuk menutup aib daripada saudara kita itu. Sebab sebagai manusia, sangat besar kemungkinan bagi kita untuk melakukan hal yang sama. 

Sebagai manusia yang memiliki perasaan, memang cukup mengusik jika kita dihina, difitnah dan diganggu oleh manusia lain. Namun bukan ajaran Islam untuk melakukan balas dendam. Islam mengajarkan untuk memaafkan, bahkan membalas perbuatan buruk dengan kebaikan.

Baca Juga: Puasa, Perspektif Jawanisasi Islam, dan Islamisasi Jawa

Agama Islam adalah agama yang sungguh mulia. Saking mulianya, ajarannya tersebut mungkin akan terasa berat, sebab harus melawan ego dan nafsu. Mari menganalisis lebih dalam, jika keburukan dibalas dengan keburukan, dendam terus dipraktikkan, sampai kapan ia akan berakhir? Tidak ada ujungnya.

Tujuan membalas keburukan dengan kebaikan itu justru digunakan untuk memutus mata rantai kebencian, dan menggantikannya dengan cinta dan kasih sayang. Selain itu, Allah juga menjamin surga di akhirat, serta surga yang dapat dicicip di dunia.

Surga di dunia bisa dijumpai melalui ketenangan hati, kelegaan hati dan kelapangan pikiran. Manusia yang memiliki kejernihan hati, akan memiliki hidup yang tenang. Hidup yang tenang itu adalah kehidupan di surga. Simulasi surga bisa dimulai di dunia.

Hati yang tenang, jiwa yang tenang tidak mudah terusik oleh hal apapun, hati yang lapang serta mampu mensyukuri nikmat sekecil apapun, itu juga surga. Hidup akan terasa indah, manakala kita merasa cukup.

Hidup akan terasa sangat indah, manakala kita tidak pernah terusik oleh bagaimana orang lain memperlakukan kita, sebab seorang mukmin sedang sibuk dan asyik-masyuk menghitung betapa banyak nikmat-Nya. 

Seorang mukmin akan senantiasa sibuk. Apapun yang ia lakukan, ia akan selalu sibuk memikirkan bagaimana caranya agar Allah rida. Perkara lainnya, sudah bukan hal yang menyibukkannya. Maulana Jalaluddin Rumi pernah berkata, ‘Kita adalah tamu agung di dunia, jangan jadi pengemis hanya demi dunia.’ Tidak perlu kita tampak baik di mata semua orang.

Baca Juga: Puasa sebagai Jalan Menuju Takwa: Dari Kesalehan Individual ke Tanggung Jawab Sosial

Namun, cukuplah kita berakhlaqul karimah sebagaimana yang dicontohnya Baginda Rasulullah Muhammad Saw., dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah dengan memaafkan orang yang bersalah terhadap kita, baik ia telah meminta maaf, atau tidak meminta maaf kepada kita.

Jika kita berusaha untuk memberikan maaf sebab Allah yang memerintahkan, maka kita tidak akan sibuk dengan orang zalim tersebut. Bagaimana ia berperilaku adalah urusan ia dengan Allah. Sedangkan bagaimana kita memutuskan untuk memaafkannya, adalah bukti taat kita kepada Allah, bukan demi manusia itu. 

Dalam berakhlaqul karimah, Rasulullah Saw., memanglah uswah terbaik yang pernah kita punya. Contohnya adalah tatkala orang lain memanggil beliau, beliau akan menoleh dan membalikkan badan menatap orang yang mengajaknya bicara. Beliau senantiasa menghormati siapapun yang memiliki hajat terhadap Baginda Rasul.

Hal sederhana ini, sudahkah kita praktikkan? Bahkan ketika ada orang yang memanggil, kita sering menjawab semaunya dengan kata ‘hmm’ serta tidak mau sekadar melihat atau menoleh keapda orang yang berhajat terhadap kita itu. 

Sebuah hadis riwayat Abu Hurairah r.a., dia berkata bahwa Rasulullah Muhammad Saw., bersabda:

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan tetap dikenang baik setelah wafatnya, hendaklah ia menyambung kekerabatan. (HR. Al-Bukhari No. 5985)”

Baca Juga: Puasa Ramadan sebagai Ruang Pulih bagi Jiwa yang Lelah

Saya yakin, setiap Muslim bercita-cita menjumpai husnul khatimah dalam penutup kitab hidupnya. Dengan demikian, salah satu ikhtiar untuk mencapai pengakhiran terindah itu, mari kita sambungkan tali silaturahmi yang sempat terputus. Mari menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin.

Masa depan masih kosong dan sangat mungkin kita hiasi dengan iman dan kebaikan. Seburuk apapun masa lalu, selama kita masih diberikan hidup, tandanya Allah Swt., masih memberikan kesempatan untuk mendapatkan maghfirah-Nya di dunia hingga alam akhirat nanti. Untuk orang-orang yang pernah menyakiti kita, marilah kita coba untuk memaafkan.

Bukan karena kita lemah kita memaafkan. Justru karena kita mulia dan ingin mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya dan di sisi Baginda Rasulullah Muhammad Saw., kita melakukannya. Mari mencoba untuk mendoakan kebaikan kepada orang yang sudah menzalimi kita, bahkan membalasnya dengan kebaikan. Bukan demi mendapatkan perilaku baik dari mereka.

Melainkan semata-mata karena Allah Swt., yang perintahkan. Namun, apabila ternyata melakukan ‘interaksi’ kepada orang yang menzalimi kita terasa sungguh berat, sebab ia tidak berubah dan tidak merasa bersalah sama sekali, boleh bagi kita untuk menghindarinya, semata-mata demi menjaga hati kita.

Meski secara fisik menghindari, namun tetap penting untuk menjaga kesopanan dan akhlak yang baik, serta secara batiniah, semoga hati kita dilapangkan unutk memaafkan dan mampu mendoakan kebaikan kepadanya. 

Akhir Ramadan ini merupakan momentum terbaik untuk mengukur apakah ibadah kita telah sampai pada tujuan dan hikmah kehadiran Ramadan. Untuk itu, marilah di sisa Ramadan ini, kita terus melakukan muhasabah diri. Parameter yang digunakan, menurut Dr. Fachrudin Faiz adalah kita semakin menegakkan nilai normatif – nilai ketaatan menjalankan kewajiban, nilai purifikatif – produknya adalah mensucikan, dengan level takwa yang meningkat, nilai preventif – nilai pencegahan dari hal buruk, dan nilai preservatif untuk memelihara dan menjaga, sebagai rem untuk mengendalikan tubuh fisik agar tidak terlalu lelah, condong kepada fungsi kesehatan fisik dan spiritual.

Sehingga pada hari kemenangan nanti yakni Idul Fitri, kita benar-benar mampu menjadi insan yang kembali suci, kembali fitri dengan saling menyambung ukhuwah dan bermaaf-maafan, serta mampu menggapai tujuan diturunkannya Ramadan oleh Allah Swt., dengan optimal.

Semoga kita masih bersua dengan Ramadan lagi di tahun-tahun yang akan datang dengan meningkatnya ketakwaan kita. Amin.***

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#ibadah #ramadan #puasa