Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Spiritualitas Robotik: Menggugat Ritual tanpa Makna di Hari Kemenangan

Tim Redaksi • Rabu, 25 Maret 2026 | 11:28 WIB
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, MAg.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN)
Prof. Dr. Salamah Noorhidayati, M.Ag.(Guru besar dalam bidang Ilmu Hadis dan Kaprodi S-2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN)

Peringatan Idulfitri sering kali terjebak dalam siklus rutinitas yang kehilangan substansi. Di balik kemeriahan takbir dan ritual mudik, kita menyaksikan sebuah fenomena yang saya sebut sebagai "spiritualitas robotik".

Keberagamaan dijalankan seperti sebuah program komputer yang berjalan otomatis: ada jadwalnya, ada prosedurnya, namun kering akan kesadaran batin. Ramadan dilalui sebagai kewajiban teknis untuk menggugurkan kewajiban, sementara Idulfitri sekadar menjadi terminal "cuci dosa" tahunan yang mekanistik.

Pertanyaannya, apakah ritual ini benar-benar mengubah perilaku sosial kita, atau kita hanya sedang menjalankan skenario budaya tanpa nyawa?

Mesin di Balik Jubah Kesalehan

Spiritualitas robotik adalah kondisi di mana ritual dijalankan tanpa keterlibatan kesadaran, persis seperti mesin yang menjalankan algoritma; ia sujud, ia lapar, ia berderma, tapi hatinya absen. Jika ditarik ke ruang batin, spiritualitas robotik ini sebenarnya adalah gema dari peringatan Rasulullah SAW yang direkam Imam Ahmad.

Baca Juga: Persiapan Menuju Fitrah dengan Mensucikan Hati dari Kebencian: Musahabah di Akhir Ramadan

Beliau menyentil mereka yang berpuasa namun hanya memanen lapar dan dahaga; "Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” Secara teologis, ini bukan sekadar ancaman kosong, melainkan kritik sosiologis terhadap "kesalehan kosmetik".

Puasa seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk up-skilling kemanusiaan kita; tempat di mana perihnya lapar bertransformasi menjadi radar peka terhadap struktur kemiskinan di sekitar. Kalau puasa cuma  sebatas tenggorokan yang kering tanpa menyentuh empati sosial, maka agama hanya akan jadi topeng—sebuah jubah kesalehan yang menutupi karakter asli yang tetap eksploitatif.

Lebih jauh, Idulfitri pasca-Ramadan menjadi saksi apakah kita benar-benar bertransformasi atau sekadar melakukan "ganti casing". Istilah "ganti casing" ini saya gunakan untuk menggambarkan perilaku yang hanya memoles tampilan lahiriah—entah itu baju baru atau kendaraan mewah—tanpa menyentuh "mesin" atau watak dasar di dalamnya.

Padahal, Al-Qur'an melalui Surah At-Taubah ayat 34 sudah memberi peringatan yang sangat pedas bagi mereka yang gemar menimbun harta (kanzul mal) namun abai pada keadilan sosial. Kemenangan yang kita rayakan sering kali terjebak dalam sekat individualistik-materialistik, menjadikan Idulfitri tak lebih dari sekadar pergeseran teknis: dari bulan menahan lapar menuju bulan pamer kemapanan dan kemewahan.

Baca Juga: Ramadan Mengajarkan Jalan Pulang

Melampaui Kesalehan Prosedural

Untuk keluar dari jebakan spiritualitas robotik, kita harus berani melampaui kesalehan prosedural. Kesalehan jenis ini hanya mementingkan aspek "sah" atau "tidaknya" suatu ibadah secara fikih formal, namun abai pada dampak etisnya di ruang publik. Seseorang bisa saja lulus secara prosedur menahan lapar selama 30 hari, namun tetap gagal dalam ujian kejujuran dan keadilan.

Dalam konteks yang lebih luas, "Oligarki Spiritual" muncul ketika simbol-simbol agama digunakan hanya untuk mempertegas sekat kelas sosial, bukan meruntuhkannya.

Melampaui prosedur berarti menjadikan Idulfitri sebagai momentum untuk membongkar keangkuhan diri. Di sinilah letak ujiannya: mampukah kita melakukan desentralisasi kebaikan? Kepemimpinan, mulai dari unit terkecil seperti keluarga hingga institusi publik, mustahil disebut berhasil jika hanya berlandaskan prosedur formal tanpa tanggung jawab moral yang hidup.

Setiap ritual yang kita jalani mestinya membuahkan output etis—membuat kita lebih berani mengoreksi ketidakadilan dan lebih santun dalam mengayomi, bukan justru mengukuhkan ego yang kaku.

Baca Juga: Puasa: Cermin Kesadaran Rakyat dan Ujian Integritas Pemimpin

Menuju Kesalehan yang Hidup

Pada akhirnya, Idulfitri yang otentik adalah Idulfitri yang mampu menggerakkan "kesalehan yang hidup". Kesalehan yang hidup itu organik. Ia punya napas, punya detak jantung, dan punya radar kepedulian. Ia tidak berhenti pada teks "mohon maaf lahir dan batin" yang disebar secara massal lewat grup-grup digital, melainkan mewujud pada keberanian untuk mengakui kebijakan yang keliru, tindakan yang salah atau sikap yang menindas.

Kita diajak melakukan rebooting total atas cara kita berpikir. Idulfitri bukanlah perayaan karena berhasil menahan lapar, tapi kemenangan karena berhasil menjinakkan nafsu serakah yang sering kali bersembunyi di balik struktur sosial.

Mari kita buktikan bahwa kita bukanlah mesin. Di hadapan gema takbir, biarlah segala atribut jabatan dan ego kita luruh menjadi debu yang fana. Selamat merayakan Idulfitri 1447 H.

Semoga kita kembali pada fitrah kemanusiaan yang bening, bukan sebagai robot ritual, melainkan sebagai oase yang menebar kebijakan bagi semesta. Mohon maaf lahir dan batin

"Kemenangan sejati bukanlah saat kita berhasil mengganti atribut lahiriah dengan kemewahan baru, melainkan saat kita mampu meruntuhkan ego oligarkis dalam diri untuk kemudian bersujud dengan kejujuran hati."(esenha)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#spiritualitas #idulfitri #ramadan #mudik