RADAR TULUNGAGUNG - Kemajuan, kehebatan dan keberanian Iran dalam beberapa waktu terakhir merupakan fenomena yang tidak dapat dipahami secara sederhana.
Di tengah tekanan sanksi ekonomi, isolasi politik, dan konflik geopolitik yang berkepanjangan, Iran justru menunjukkan kemampuan bertahan sekaligus berkembang dalam sektor-sektor strategis.
Serangan militer Amerika-Israel ke Iran mampu direspons dengan sangat patriotik. Ini menunjukkan bahwa kemajuan suatu negara tidak selalu ditentukan oleh keterbukaan ekonomi global, tetapi juga oleh kekuatan internal, arah kebijakan, dan keberanian dalam membangun kemandirian nasional.
Salah satu indikator utama kemajuan Iran adalah perkembangan teknologi strategisnya, khususnya di bidang nuklir dan militer. Iran mampu mengembangkan teknologi pengayaan uranium hingga mencapai tingkat tinggi, bahkan mendekati ambang penggunaan militer.
Baca Juga: Mujtahid Sosiologis: Merajut Kedaulatan Ijtihad di Bawah Atap Konstitusi
Laporan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menunjukkan bahwa Iran telah mencapai tingkat pengayaan hingga sekitar 60 persen, yang hanya selangkah lagi menuju level senjata nuklir.
Selain itu, Iran juga berhasil memperluas kapasitas teknologinya melalui penggunaan sentrifugal canggih dan peningkatan cadangan uranium secara signifikan. Kemajuan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui investasi jangka panjang dalam pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi nasional.
Yang menarik, kemajuan ini justru terjadi dalam kondisi embargo. Sejak Revolusi 1979, Iran menghadapi berbagai sanksi dari Barat yang membatasi akses terhadap teknologi, investasi, dan perdagangan internasional.
Namun tekanan ini mendorong Iran untuk mengembangkan kemampuan domestik. Dalam banyak hal, Iran menjadi contoh bagaimana keterbatasan eksternal dapat berubah menjadi pendorong inovasi internal. Bahkan sektor pendidikan dan sains Iran tetap berkembang meskipun berada dalam tekanan embargo yang panjang.
Namun demikian, kemajuan tersebut tidak datang tanpa biaya. Sanksi ekonomi yang berkepanjangan yang terasa tidak adil bagi Iran ini telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Iran.
Penelitian menunjukkan adanya penurunan investasi asing, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan kerugian jangka panjang terhadap stabilitas institusi. Embargo juga berdampak pada masyarakat, termasuk penurunan daya beli dan tekanan terhadap kelas menengah.
Baca Juga: Puasa: Cermin Kesadaran Rakyat dan Ujian Integritas Pemimpin
Dengan kata lain, kemajuan teknologi Iran dibayar dengan harga ekonomi yang tidak kecil yang sebagiannya juga disebabkan oleh politik standar ganda Amerika dan Eropa terhadap Iran.
Kemajuan Iran ini kemudian membawa dampak besar dalam konteks geopolitik global. Iran telah menjelma menjadi kekuatan regional yang mampu menantang dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah. Kepentingan dan nafsu Amerika dan Israel di Timur Tengah saat ini hanya mampu dilawan oleh Iran dengan kekuatan proksinya di beberapa negara sekitar.
Program nuklir Iran yang sebenarnya belum menjadi apa-apa, telah menjadi sumber ketegangan utama antara Iran vs Amerika dan sekutu-sekutu Barat seperti Israel dan Arab Saudi. Ketegangan ini bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut keseimbangan kekuatan global dan ketakutan Amerika dan Israel yang sangat berhasrat menghegemoni sumber daya minyak di Timur Tengah, salah satunya milik Iran.
Dalam konteks dunia yang semakin multipolar, Iran memainkan strategi penyeimbangan dengan mendekat ke kekuatan lain seperti Rusia dan China untuk mengurangi tekanan Barat.
Hal ini menunjukkan bahwa geopolitik modern tidak lagi didominasi satu kekuatan tunggal, tetapi oleh interaksi kompleks antara berbagai aktor global. Iran memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas ruang manuvernya dan menyatakan penolakannya terhadap ambisi Amerika.
Dampak lainnya adalah munculnya potensi perlombaan senjata di kawasan Timur Tengah. Negara-negara sekitar merasa terancam oleh kemajuan teknologi Iran, khususnya dalam bidang nuklir dan militer.
Hal ini meningkatkan ketegangan regional dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas. Selain itu, konflik Iran dengan Amerika dan sekutunya juga berdampak langsung pada stabilitas energi global. Kawasan Teluk Persia merupakan jalur penting distribusi minyak dunia, sehingga setiap eskalasi konflik dapat memicu kenaikan harga energi global dan mengganggu stabilitas ekonomi dunia.
Baca Juga: Puasa, Perspektif Jawanisasi Islam, dan Islamisasi Jawa
Jika dilihat secara nyata, ketegangan regional ini muncul karena kehadiran Amerika yang membuat pangkalan militer di berbagai negara dengan dalih menjaga keamanan yang mau tetap menjadi penguasa dunia dan eksistensi Israel yang selalu dianakemaskan di pentas global meskipun dosa dan kesalahannya dalam konteks genosida, penghancuran sipil dan pelanggaran HAM sudah tak termaafkan.
Amerika bertindak seenaknya seolah pemilik dunia dan israel yang sangat jahat selalu dibela oleh Amerika dan sekutunya.
Dalam konteks ini, kemajuan Iran bukan hanya persoalan nasional, tetapi telah menjadi bagian dari dinamika global yang lebih luas. Iran menunjukkan bahwa kekuatan teknologi dan energi dapat menjadi alat tawar geopolitik yang sangat kuat. Namun pada saat yang sama, konflik dan konfrontasi juga membawa risiko besar bagi stabilitas ekonomi dan politik.
Dari pengalaman Iran tersebut, Indonesia dapat mengambil sejumlah pelajaran penting. Pertama, kemandirian teknologi adalah fondasi utama kedaulatan negara.
Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor teknologi, terutama dalam sektor strategis seperti energi, pertahanan, dan digital. Pengalaman Iran menunjukkan bahwa negara yang mampu mengembangkan teknologi sendiri akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat di tingkat global.
Kedua, negara harus memiliki fokus dan prioritas yang jelas dalam pembangunan. Iran secara konsisten menempatkan energi dan teknologi sebagai prioritas nasional.
Indonesia perlu melakukan hal yang sama dengan menetapkan sektor-sektor strategis yang menjadi fokus utama, seperti energi terbarukan, industri manufaktur, dan teknologi digital. Tanpa fokus yang jelas, sumber daya yang besar justru akan tersebar dan tidak menghasilkan dampak signifikan.
Baca Juga: Persiapan Menuju Fitrah dengan Mensucikan Hati dari Kebencian: Musahabah di Akhir Ramadan
Ketiga, pentingnya integrasi antara negara, perguruan tinggi, dan industri. Kemajuan Iran tidak terlepas dari keterlibatan negara dalam mengarahkan riset dan pengembangan teknologi. Indonesia perlu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan industri, termasuk BUMN, agar riset tidak berhenti di tingkat akademik, tetapi dapat diimplementasikan dalam bentuk teknologi nyata.
Namun demikian, Indonesia juga harus belajar dari sisi negatif pengalaman Iran. Konfrontasi geopolitik dan isolasi internasional terbukti membawa dampak ekonomi yang berat. Oleh karena itu, Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara kemandirian nasional dan keterbukaan global.
Politik luar negeri yang bebas aktif dan tidak memihak salah satu blok kekeuatan dunia harus tetap menjadi landasan, sehingga Indonesia dapat membangun kekuatan tanpa harus terjebak dalam konflik geopolitik yang merugikan.
Pada akhirnya, kemajuan Iran memberikan pelajaran bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi oleh kemampuan mengelola sumber daya tersebut melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan yang terarah.
Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi negara besar yaitu sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk besar, dan posisi geopolitik yang strategis. Dibutuhkan pemimpin dan pemerintah yang peduli dengan kemajuan dan kepentingan rakyat.
Jika Indonesia mampu belajar dari pengalaman Iran—mengambil sisi positifnya berupa kemandirian dan keteguhan, serta menghindari sisi negatifnya berupa konflik dan isolasi—maka Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan baru dunia yang tidak hanya mandiri, tetapi juga stabil dan sejahtera.***
Editor : Vidya Sajar Fitri