Momentum Hari Kartini selalu membawa kita pada refleksi tentang sejauh mana "Habis Gelap Terbitlah Terang" telah mewujud dalam ruang gerak perempuan. Namun, di hadapan mimbar kuliah, di selasar pesantren, hingga di tengah lingkaran pengajian ibu-ibu, saya justru sering menatap wajah-wajah yang menyimpan lelah luar biasa.
Di balik retorika emansipasi, potret perempuan hari ini seolah terbelah menjadi tiga rupa yang kontras—tiga kutub yang menuntut kita untuk merenung ulang: apa sejatinya makna menjadi perempuan di tengah gempuran zaman?
Baca Juga: Ponorogo dan Panggilan Sejarah: Dari Daerah Agraris Menuju Penyangga Kedaulatan Pangan Bangsa
Tiga Wajah, Satu Kegelisahan
Wajah pertama adalah si “Manekin”. Mereka tampil glowing, rapi, dan seolah hidup dalam easy living yang tanpa beban. Namun, kemilau itu seringkali hanyalah “bungkus” etalase. Mereka dihargai hanya selama mampu menjaga tuntutan estetika semu yang didikte oleh pasar dan media sosial.
Di balik wajah yang bercahaya itu, ada jiwa yang sunyi karena mereka membiarkan diri menjadi objek, kehilangan kedaulatan atas jati diri demi validasi mata yang memandang.
Wajah kedua adalah si “Mesin”. Inilah rupa perempuan yang rautnya digerus waktu; lusuh dan kumuh karena energinya habis dihisap rutinitas yang tak pernah usai. Mereka adalah poros yang memutar roda domestik dan ekonomi tanpa jeda.
Bekerja secara mekanis, mereka dianggap kuat, namun kekuatan itu dieksploitasi hingga batas nadir. Mereka lupa bahwa mereka punya diri yang berhak untuk dicintai, bukan sekadar perkakas penunjang hidup orang lain.
Kondisi burnout akut inilah yang seringkali membuat lisan mereka menjadi tajam dan mudah mengeluh—sebuah fenomena yang diingatkan Nabi SAW dalam hadis tentang mayoritas penduduk neraka sebagai peringatan bagi kita untuk tetap menjaga kesehatan mental dan spiritual di tengah keletihan.
Wajah ketiga adalah “Si Pengejar Fatamorgana”. Inilah rupa perempuan yang orientasi hidupnya melenceng jauh; hanya terpaku pada materi dan pemujaan fisik semata. Mereka mengejar kesenangan instan namun abai pada tanggung jawab.
Demi gengsi, mereka tega menanggalkan marwah—kehormatan yang seharusnya menjadi mahkota paling berharga. Ketiganya adalah jebakan: Si Manekin kehilangan jiwa, si Mesin kehilangan raga, dan si Pengejar Materi kehilangan martabat.
Baca Juga: Kemajuan Iran, Dampak Geopolitik Global, dan Pelajaran bagi Indonesia
Manifesto Perlawanan Hati
Menatap rupa-rupa tersebut, saya teringat kembali pada sebuah perenungan di suatu malam hening, April 2020. Saat itu saya bertanya: "Apakah ini takdir perempuan? Menjadi alat produksi yang dieksploitasi tenaganya, atau menjadi objek tontonan yang dieksploitasi keindahannya?" Hati nurani saya menolak. Pena saya pun bergerak menuliskan sebuah manifesto:
“Perempuan bukan mesin mekanik yang dirakit sesuai keinginan insinyurnya... Perempuan bukan mesin produksi anak yang menerima pesanan sesuai jumlah dan detilnya, yang siap melayani setelah menerima DP dan diambil setelah jadi.” (Esenha, 20.04.20)
Kita harus mendudukkan perkara ini dengan kacamata yang jernih. Allah SWT menciptakan makhluk-Nya—laki-laki dan perempuan—dengan Ahsanu Taqwim (sebaik-baik bentuk), lengkap dengan akal, rasa, dan karsa (QS. At-Tin: 4).
Kita bukan robot yang bisa diprogram "siap, laksanakan" tanpa henti. Kita memiliki hak untuk didengar lelahnya, dan hak untuk diperlakukan sebagai mitra (partner), bukan bawahan.
Baca Juga: Mujtahid Sosiologis: Merajut Kedaulatan Ijtihad di Bawah Atap Konstitusi
Kecantikan: Antara Kain dan Adab
Dalam tradisi pesantren, kita diajarkan maqalah indah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib K.W: “Laisal-jamâlu bi-atswâbin tuzayyinunâ, innal-jamâla jamâlul-’ilmi wal-adabi.” Bahwa kecantikan itu bukan pada pakaian yang menghias kita, melainkan pada ilmu dan adab.
Manekin itu benda mati; ia hanya berharga selagi bajunya bagus. Jika bajunya lusuh, ia dibuang ke gudang. Sebaliknya, perempuan muslimah adalah Al-Jauhar (permata).
Permata tidak dipajang sembarangan di etalase terbuka untuk ditarik-ulur pembeli; ia disimpan, dijaga, dan dimuliakan. Nilainya bukan pada kemasannya, tapi pada kualitas intrinsiknya.
Inilah esensi dari prinsip "Berpikir Kritis, Bersikap Etis". Berpikir kritis berarti kita memiliki filter intelektual untuk menolak dijadikan pajangan (manekin) maupun perkakas (mesin). Bersikap etis berarti kita memiliki kontrol diri untuk tetap menjaga marwah di tengah godaan hedonisme materi.
Penutup: Meneguhkan Eksistensi
Manifesto ini adalah pengingat bagi saudariku, para ibu, mahasiswi, dan santri putri. Jangan biarkan dunia—maupun dirimu sendiri—mendikte hargamu hanya berdasarkan angka di rekening atau riasan di wajah.
“Perempuan itu makhluk bernyawa, punya raga dan jiwa. Sosok multiperan yang memiliki asa, rasa, karsa, dan karya. Sosok multidimensi yang mampu berekspresi... untuk meneguhkan eksistensi diri sebagai khalifah fil ardhi dan abdi Ilahi.”( Esenha, 20.04.20)
Tegakkan kepalamu. Engkau bukan pajangan, bukan pula perkakas. Engkau adalah hamba Allah yang dititipi amanah peradaban. Selamat Hari Kartini. Mari menjadi “Perempuan yang berakal, beradab, dan bermartabat”.***
Editor : Vidya Sajar Fitri