Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tak di Arofah, Berdoa "Hari Arafah"

Cak Wot • Selasa, 26 Mei 2026 | 07:50 WIB
Refleksi Hari Arafah dari Cak Wot tentang makna doa, dzikir, dan kesadaran spiritual meski tak wukuf di Arafah.(GEMINI AI)
Refleksi Hari Arafah dari Cak Wot tentang makna doa, dzikir, dan kesadaran spiritual meski tak wukuf di Arafah.(GEMINI AI)

TADI siang saya ngopi bareng dengan seorang sedulur tharikat "tunggal nafas" di Tulungagung.

Selain menikmati kopi, bersama semilir angin musim kemarau, saya ngobrol gayeng tentang hakikat haji. Maklum besok akan berlangsung puncak ibadah haji.

Puncak atau inti haji adalah "Wukuf" di Arofah. Sebagai inti haji, maka semua jemaah peserta haji wajib datang di Arofah untuk melakukan Wukuf, meskipun ada di antara mereka dalam keadaan sakit parah. Wukuf sendiri artinya "berdiam diri" di Arofah.

"Sampean yang pernah haji, saat wukuf atau berdiam diri di Arofah itu, apa yang dilakukan Cak. Maksud saya dzikir atau doa apa yang dilakukan jemaah saat wukuf," tanya sedulur ingin tahu seraya berucap," Siapa tahu nanti saya benar-benar dipanggil Allah."

Mendengar pertanyaan itu saya pun segera menjawab, "Dzikirnya adalah "Doa Arafah". Doa Arafah itu seperti dzikir yang biasa kita lakukan setelah shalat.

Yakni "La Illaha Illallahu Wahdahu Lasyarikalah, Lahul Mulku wa Huwa Ala Kulli Syai'in Qadir" (tiada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya semua kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)."

"Ooh, dzikir itu ya saat wukuf," sergah sedulur tharikat. "InsyaAllah, saya sangat paham dengan dzikir ini Cak. Sampean apalagi, lebih mengerti dan lebih dalam tentang hakikat dzikir ini," tambahnya.

Mendengar ini saya pun diam. Lalu saya menambahi dari dimensi "makrifat", karena yang di hadapan saya adalah pesalik (pelaku makrifat).

Dalam perspektif kesadaran spiritual, ungkap saya, Doa Arafah bukan hanya permintaan lisan. Akan tetapi momentum sepenuhnya hadir kesadaran hati di hadapan Allah.

 

Padang Arafah hanya sebagai "simbol" puncak kesadaran manusia. Yakni melepaskan ego, status, masa lalu, dan kecemasan masa depan, lalu kembali menyadari Allah sebagai sumber dari segala kekuatan dan pertolongan. Semua itu harus "disembelih".

"Kalimat tauhid itu juga sangat dalam maknanya. "La Illaha Illallāh" itu menggeser pusat kesadaran dari “aku” menuju Allah.

“Lahul Mulku" itu menyadari semua keadaan berada dalam kekuasaan Allah.

“Lahul Hamdu" itu belajar bersyukur dalam segala kondisi. “Wa Huwa Ala Kulli Syai’in Qadīr” itu membangun optimisme dan tawakal karena Allah Maha Mampu atas segala urusan.

"Dawuh kiai khos, Hari Arafah sering disebut sebagai momentum paling kuat, untuk pelepasan beban batin dan penyadaran total kepada Allah.

Tidak ada hari ketika Allah paling banyak membebaskan hambanya dari neraka dibandingkan Hari Arafah," jelas saya mengutip dawuh kiai khos.

Untuk itu besok ketika jemaah haji Wukuf di Arofah, pinta saya, kita di sini (Indonesia) bisa "berdiam diri" dengan berdzikir seperti yang dilakukan oleh jemaah haji di Arofah.

Sebaik-baik waktu doa adalah pada Hari Arofah. Besok (bakda Dhuhur hingga Maghrib), jangan lewatkan momen Hari Arafah untuk berdoa meski kita tak berada di Arofah.

"Dawuh Rasulullah dalam hadisnya menyebutkan bahwa, pada Hari Arofah itu doa kita tak tertolak. Semua akan dikabulkan Allah. Utamanya mohon ampunan-Nya. Istighfar," jelasku seperti dulu saya memberi manasik kepada calon jemaah haji.

 

"Ooh, gitu ya Cak. Saya pikir Doa Arafah itu hanya berlaku bagi jemaah haji yang sedang Wukuf di Arofah saja," ujarnya dengan raut heran terhadap pendapat saya.

 "Nggak usah heran, Allah itu Maha Melampaui Ruang dan Waktu. Jangan dibatasi dengan pikiran dan pemahaman kita yang terbatas ini," pungkas saya dan sedulur tharekat "tunggal nafas" pun manggut-manggut dan berjanji besok setelah shalat Dhuhur atau bakda shalat Ashar akan "berdiam diri" di masjid desanya. Subhanallah. (**)

Penulis adalah, Haji Soenarwoto Wartawan Senior Tinggal di Tulungagung

Editor : Anggi Septian A.P.
#Hari Arafah #Doa Arafah #Wukuf di Arafah #Cak Wot #makna spiritual haji